Film 'A Business Proposal' Versi Indonesia Sepi Penonton, Bakal Turun Layar Bioskop dalam Waktu Singkat?

Adaptasi film Korea Selatan 'A Business Proposal' versi Indonesia dilaporan sepi peminat dengan jumlah penonton yang sangat rendah.

Dwi Zain Musofa
Oleh Dwi Zain Musofa - Reporter
Film 'A Business Proposal' Versi Indonesia Sepi Penonton, Bakal Turun Layar Bioskop dalam Waktu Singkat?
Film 'A Business Proposal' Versi Indonesia Sepi Penonton, Bakal Turun Layar Bioskop dalam Waktu Singkat? (Merdeka.com)

Film adaptasi Korea Selatan, 'A Business Proposal' versi Indonesia, terpantau sepi penonton hingga beberapa hari penayangan di bioskop. Pada hari pertama penayangannya, Senin, 6 Februari 2025, film produksi Falcon Pictures ini hanya mampu menarik sekitar 10.035 penonton. Data terbaru dari Cinepoint, per 8 Februari 2025 film 'A Busineess Proposal' total hanya menarik sejumlah 21.383 penonton.

Angka ini jauh tertinggal dari film-film lain yang tayang di periode yang sama, seperti 'Petaka Gunung Gede' dengan 170.007 penonton dan 'Pulung Gantung: Pati Ngendat' yang meraih 31.304 penonton. Kegagalan ini memicu berbagai pertanyaan dan spekulasi, terutama mengenai strategi pemasaran dan kontroversi yang mengelilingi film tersebut.

Kekecewaan penonton terlihat jelas dari rating IMDb yang sangat rendah, yaitu 1/10. Seruan boikot di media sosial juga membanjiri berbagai platform, menunjukkan ketidakpuasan yang signifikan dari penggemar. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi Falcon Pictures yang dikenal sebagai rumah produksi film-film box office Indonesia. Pertanyaan besar yang muncul adalah: Mengapa film yang diadaptasi dari drama Korea populer ini justru mengalami nasib yang begitu tragis di pasaran?

Berbagai faktor diduga menjadi penyebab sepinya penonton 'A Business Proposal' versi Indonesia. Mulai dari kontroversi yang melibatkan salah satu aktor utamanya hingga strategi pemasaran yang dinilai kurang efektif. Berikut ulasan selengkapnya.

Salah satu faktor yang diduga kuat berkontribusi pada kegagalan 'A Business Proposal' versi Indonesia adalah kontroversi yang melibatkan Abidzar Al Ghifari, pemeran utama dalam film tersebut. Beberapa pernyataan kontroversial yang dilontarkan Abidzar selama masa promosi film dinilai telah menyinggung penggemar drama Korea asli 'A Business Proposal'. Hal ini kemudian memicu seruan boikot dari sebagian besar penggemar, yang merasa kecewa dan tidak puas dengan sikap sang aktor.

Pernyataan-pernyataan kontroversial tersebut, meskipun belum dijelaskan secara detail, telah menyebar luas di media sosial dan menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen. Dampaknya, banyak penggemar yang memutuskan untuk memboikot film tersebut dan memilih untuk tidak menontonnya di bioskop. Ini menunjukkan betapa pentingnya manajemen citra publik dan komunikasi yang efektif, terutama bagi para selebriti yang terlibat dalam proyek film skala besar.

Menanggapi kegagalan film 'A Business Proposal' versi Indonesia, produser Falcon Pictures, Frederica, menunjukkan sikap yang relatif santai. Ia menyatakan tidak khawatir dan memilih untuk tetap menjalani proses penayangan tanpa mengambil langkah khusus untuk meningkatkan jumlah penonton.

"Jalani aja, jalani aja. Enggak ada (strategi tertentu), kami jalani aja sih," ujar Frederica di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, seperti dilansir dari Kapanlagi.com pada Jumat (7/2/2025).

A BUSINESS PROPOSAL versi Indonesia mengisahkan tentang Sari (diperankan oleh Ariel Tatum), seorang analis makanan di Bowo Foods, yang terpaksa menyamar sebagai sahabatnya, Yasmin (Caitlin Halderman), dalam sebuah kencan buta.

Tanpa diduga, teman kencannya adalah Utama (Abidzar Al-Ghifari), pewaris perusahaan tempatnya bekerja, yang dikenal disiplin dan dingin. Menyadari bahwa kakeknya, Eyang Bowo (Slamet Rahardjo), terus menekan dirinya untuk menikah, Utama meminta Sari untuk berpura-pura menjadi kekasihnya.

Dari sini lah konflik dan kejadian lucu mulai muncul, mulai dari usaha Sari menyembunyikan identitasnya sebagai pegawai Bowo Foods, hingga keterlibatannya dalam skema perjodohan yang semakin rumit. Film ini menawarkan kisah komedi romantis dengan sentuhan budaya Indonesia, yang diharapkan dapat menarik minat penonton lokal.

Rekomendasi