24 Tradisi Yang Ditemui di Awal Bulan Puasa untuk Menyambut Datangnya Bulan Ramadan di Indonesia

Telusuri berbagai tradisi unik dalam menyambut bulan puasa di seluruh Indonesia mulai dari Aceh hingga Sulawesi

Mabruri Pudyas Salim
Oleh Mabruri Pudyas Salim - Reporter
24 Tradisi Yang Ditemui di Awal Bulan Puasa untuk Menyambut Datangnya Bulan Ramadan di Indonesia
Pedagang memotong daging sapi dagangannya pada perayaan tradisi Meugang Ramadan 1440 Hijriah di Banda Aceh, 4 Mei 2019. Meugang merupakan tradisi turun temurun masyarakat Aceh dengan membeli, (© 2025 Liputan6.com)

Indonesia, dengan kekayaan budaya yang sangat beragam, memiliki berbagai tradisi menarik dalam menyambut bulan puasa Ramadan. Tradisi-tradisi ini telah diturunkan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian integral dari kehidupan umat Muslim di seluruh wilayah.

Setiap tradisi menyambut bulan puasa memiliki ciri khas yang unik, mulai dari ritual penyucian diri, sedekah makanan, hingga festival rakyat yang penuh warna. Meskipun berbeda dalam bentuk dan cara pelaksanaannya, semua tradisi ini memiliki satu tujuan yang sama: mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual untuk menjalani ibadah puasa.

Keberadaan tradisi dalam menyambut bulan puasa ini juga mencerminkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat berintegrasi dengan budaya lokal. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai contoh yang sempurna tentang bagaimana agama dan budaya dapat saling melengkapi tanpa kehilangan makna dan esensinya. Mari kita telusuri berbagai tradisi menyambut bulan puasa yang masih dilestarikan di berbagai penjuru Nusantara, sebagaimana telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Minggu (19/1/2025).

1. Meugang di Aceh

Meugang merupakan tradisi yang telah lama melekat dalam masyarakat Aceh sebagai bentuk penyambutan bulan Ramadan yang dimulai sejak abad ke-14. Tradisi ini dilaksanakan dua hari sebelum puasa dengan menyembelih hewan ternak, umumnya sapi atau kerbau, yang kemudian diolah menjadi hidangan khas Aceh. Makna penting dari Meugang tidak hanya sekadar mempersiapkan makanan, tetapi juga sebagai ungkapan rasa syukur dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Daging yang dihasilkan dari sembelihan tersebut dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan kaum duafa, sehingga mencerminkan nilai-nilai sosial yang kental dalam masyarakat Aceh.

2. Padusan di Jawa

Padusan berasal dari istilah "adus" dalam bahasa Jawa yang berarti mandi. Tradisi ini tumbuh subur di kalangan masyarakat Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta, sebagai ritual penyucian diri sebelum memasuki bulan Ramadan. Banyak orang yang berbondong-bondong menuju sumber mata air atau tempat pemandian yang dianggap suci. Filosofi dari Padusan menunjukkan pentingnya penyucian diri secara fisik dan spiritual sebelum menjalani ibadah puasa. Masyarakat percaya bahwa dengan melakukan Padusan, mereka dapat melaksanakan puasa dengan jiwa dan raga yang bersih dari segala kesalahan dan dosa.

3. Dugderan di Semarang

Dugderan adalah tradisi yang meriah dan khas dari Semarang yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1881 di masa pemerintahan RMTA Purbaningrat. Nama tradisi ini diambil dari suara bedug (dug) dan meriam (der) yang menjadi tanda dimulainya festival rakyat. Dugderan diadakan sehari sebelum Ramadan dengan beragam acara seperti karnaval budaya, pasar malam, dan pertunjukan seni tradisional. Puncak dari acara ini ditandai dengan pemukulan bedug dan dentuman meriam yang menandakan dimulainya bulan Ramadan, serta menjadi simbol harmonisasi antara pemimpin pemerintahan, ulama, dan masyarakat.

4. Nyadran di Jawa Tengah

Nyadran berasal dari kata Sansekerta "sraddha" yang berarti penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini merupakan hasil akulturasi antara budaya Hindu-Jawa dan ajaran Islam yang dibawa oleh para wali, dan masih dilestarikan di berbagai daerah di Jawa Tengah. Pelaksanaan Nyadran terdiri dari tiga tahapan utama: kenduri (doa bersama), besik (pembersihan makam), dan ziarah kubur. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati leluhur sekaligus menjadi sarana untuk merenungkan diri sebelum memasuki bulan Ramadan.

5. Munggahan di Jawa Barat

Munggahan adalah tradisi yang khas bagi masyarakat Sunda dalam menyambut bulan puasa. Istilah ini berasal dari kata "munggah" yang berarti naik, melambangkan peningkatan kualitas spiritual menjelang Ramadan. Dalam pelaksanaannya, masyarakat melakukan berbagai kegiatan, seperti berkumpul bersama keluarga, mengadakan piknik, atau membersihkan tempat ibadah. Tradisi ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan silaturahmi dan membersihkan hati sebelum melaksanakan ibadah puasa.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

6. Malamang di Minangkabau

Malamang adalah tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam menyambut bulan puasa di kalangan masyarakat Minangkabau. Fokus utama dari tradisi ini adalah pembuatan lemang, sebuah makanan khas yang terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam bambu dengan tambahan santan dan rempah-rempah. "Konon tradisi ini dibawa oleh Syekh Burhanuddin, ulama penyebar Islam di Minangkabau." Proses pembuatan lemang yang melibatkan banyak orang menjadikan Malamang sebagai simbol gotong royong dan kebersamaan masyarakat dalam menyambut bulan Ramadan.

7. Balimau di Sumatra Barat

Balimau merupakan tradisi penyucian diri yang khas bagi masyarakat Minangkabau, dilaksanakan sehari sebelum bulan Ramadan. Nama tradisi ini diambil dari kata "limau" (jeruk nipis) yang digunakan sebagai bahan campuran air untuk mandi bersama di sungai atau tempat pemandian umum. Tradisi ini muncul karena keterbatasan akses terhadap sabun dan air bersih di masa lampau. Saat ini, Balimau tidak hanya berfungsi sebagai ritual pembersihan, tetapi juga sebagai momen untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga, yang biasanya dilanjutkan dengan acara makan bersama dan doa menyambut Ramadan.

8. Nyorog di Jakarta

Nyorog adalah tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat Betawi dalam menyambut bulan puasa. Tradisi ini mencerminkan nilai kekeluargaan yang kuat serta penghormatan kepada yang lebih tua dalam budaya Betawi. Dalam pelaksanaan Nyorog, masyarakat akan membagikan bingkisan berisi sembako dan makanan khas Betawi kepada anggota keluarga, terutama kepada orang yang lebih tua. Momen ini menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk berkunjung dan meminta doa restu dari orang tua serta sesepuh keluarga sebelum memasuki bulan puasa.

9. Tanggal di Bali

Tanggal adalah tradisi yang dijalankan oleh komunitas Muslim di Bali untuk menyambut bulan puasa. Mirip dengan tradisi Meugang di Aceh, Tanggal dilaksanakan dengan menyembelih hewan kurban beberapa hari sebelum Ramadan. Daging yang dihasilkan dari sembelihan tersebut dibagikan kepada sanak keluarga, kerabat, dan tetangga sebagai bentuk berbagi berkah. Tradisi Tanggal menggambarkan nilai persaudaraan dan kepedulian di tengah keragaman masyarakat Bali.

10. Cucurak di Sunda

Cucurak adalah tradisi menyambut bulan puasa yang berasal dari masyarakat Sunda. Istilah cucurak berarti bersenang-senang atau berkumpul bersama, mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang senang berkumpul dan berbagi kebahagiaan. Dalam pelaksanaannya, keluarga besar berkumpul untuk makan bersama dengan cara lesehan di atas daun pisang. Menu yang disajikan terdiri dari makanan tradisional Sunda, seperti nasi liwet, tempe, ikan asin, sambal, dan berbagai lalapan segar. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur dan kebersamaan menjelang bulan Ramadan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

11. Mattunu Solong di Polewali Mandar

Mattunu Solong adalah tradisi yang khas dari masyarakat Polewali Mandar dalam menyambut datangnya bulan puasa. Tradisi ini menonjolkan penggunaan pelita tradisional sebagai simbol penerangan spiritual. Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyalakan pelita yang terbuat dari buah kemiri yang ditumpuk dengan kapuk dan dililitkan pada potongan bambu. Mereka percaya bahwa tradisi ini dapat mendatangkan keberkahan serta menjadi doa untuk kesehatan dan umur panjang, agar ibadah puasa dapat dilaksanakan dengan baik.

12. Dandangan di Pesisir Utara Jawa

Dandangan merupakan tradisi yang unik dari masyarakat pesisir utara Jawa dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini mirip dengan Dugderan yang ada di Semarang, ditandai dengan bunyi beduk dan petasan yang diarak keliling kampung. Selain itu, Dandangan juga dimeriahkan dengan bazar kuliner yang menyajikan berbagai jajanan pasar dan hidangan khas setempat. Keunikan lain dari tradisi ini adalah kegiatan bersih-bersih benda pusaka seperti keris, tombak, dan gamelan yang dilakukan oleh keraton-keraton di Solo dan Yogyakarta.

13. Malam Pasang Lampu di Nusa Tenggara Barat

Malam Pasang Lampu adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Sasak untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi ini diadakan pada malam menjelang 1 Ramadan, di mana lampu minyak atau obor dipasang di setiap rumah, masjid, dan tempat strategis di kampung. Tradisi ini melambangkan cahaya yang menerangi umat Muslim dalam menyambut bulan suci. Selain memasang lampu, masyarakat juga membaca Surat Yasin dan berdoa bersama sebagai bentuk persiapan spiritual menjelang Ramadan.

14. Long Bumbung di Karanganyar

Long Bumbung adalah tradisi unik yang berasal dari masyarakat Karanganyar, Jawa Tengah, dalam menyambut bulan puasa. Ciri khas dari tradisi ini adalah bunyi-bunyian yang dihasilkan dari meriam bambu, menciptakan suasana meriah menjelang Ramadan. Pembuatan serta peledakan meriam bambu yang menghasilkan suara menggelegar diyakini dapat mengusir hal-hal negatif. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda kedatangan Ramadan, tetapi juga sebagai sarana untuk membangkitkan semangat masyarakat dalam menyambut bulan suci.

15. Suru Maca di Sulawesi Selatan

Suru Maca adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Bugis dalam rangka menyambut bulan puasa. Dalam bahasa setempat, "Suru Maca" berarti "membaca bersama", yang menggambarkan inti dari tradisi ini yang berfokus pada aktivitas spiritual bersama. Tradisi ini dilaksanakan pada malam pertama Ramadan di masjid atau musholla. Masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama, membaca Al-Quran, dan mendoakan leluhur serta keluarga yang telah meninggal, mencerminkan pentingnya memperkuat hubungan vertikal dengan Allah SWT serta hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

16. Nyekar di Jawa Timur

Nyekar atau ziarah kubur merupakan tradisi yang umum dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur menjelang bulan Ramadan. Kegiatan ini melibatkan kunjungan ke makam leluhur dan kerabat yang telah meninggal, serta membersihkan area pemakaman dan menaburkan bunga. Selain sekadar membersihkan makam, nyekar memiliki makna yang lebih dalam sebagai pengingat akan kefanaan hidup dan pentingnya persiapan spiritual. Tradisi ini juga menjadi waktu yang tepat untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar yang turut berkunjung ke makam leluhur.

17. Ngosaran di Bangkalan Madura

Ngosaran adalah tradisi yang mirip dengan nyekar, namun memiliki ciri khas tersendiri di Bangkalan, Madura. Masyarakat di daerah ini melaksanakan tradisi ngosaran dengan cara bergotong-royong untuk membersihkan kompleks pemakaman secara menyeluruh. Kegiatan ini bukan hanya fokus pada kebersihan, tetapi juga sebagai ajang silaturahmi di antara warga yang jarang bertemu. Mereka berkumpul, berbagi cerita, dan bersama-sama mempersiapkan area pemakaman agar layak dikunjungi selama bulan Ramadan, yang mencerminkan nilai-nilai kebersamaan yang kuat di masyarakat Madura.

18. Unggahan atau Megengan di Blitar

Unggahan atau megengan adalah tradisi yang dilaksanakan sekitar seminggu sebelum Ramadan di Blitar dan sekitarnya. Setiap warga membawa satu hingga dua jenis berkatan atau nasi kotak untuk dikumpulkan dan didoakan bersama. Keunikan dari tradisi ini terletak pada adanya kue apem yang menjadi komponen wajib, simbol permohonan ampunan. Istilah "apem" berasal dari bahasa Arab "afwan" yang berarti maaf, mencerminkan harapan untuk mendapatkan pengampunan menjelang bulan suci.

19. Mandi Bersama di Sendang Sono Gresik

Tradisi mandi bersama di Sendang Sono menjadi ciri khas masyarakat Gresik dalam menyambut bulan Ramadan. Tempat ini dianggap sakral, di mana masyarakat berkumpul untuk melakukan ritual penyucian diri sebelum memasuki bulan puasa. Uniknya, Sendang Sono tidak hanya digunakan untuk tradisi menjelang Ramadan, tetapi juga untuk pelaksanaan tradisi Rebo Wekasan pada bulan Safar. Air dari Sendang Sono dipercaya memiliki keberk

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

20. Tradisi Nyadran Sonoageng di Nganjuk

Tradisi Nyadran Sonoageng di Nganjuk dirayakan dengan penuh semangat melalui arak-arakan sesaji jolen, yaitu tumpeng besar yang berisi hasil bumi. Prosesi ini menempuh rute sepanjang 3 kilometer dari balai Desa Candirejo menuju Candi Lor, dihadiri oleh ratusan warga yang mengenakan kostum tradisional Jawa. Keunikan dari tradisi ini terletak pada pertunjukan berbagai jenis kesenian tradisional, seperti tari Mongde. Puncak dari acara ini adalah perebutan tumpeng oleh masyarakat sebagai simbol berbagi berkah dan doa tolak bala menjelang bulan puasa.

21.Tradisi Cuci Karpet di Mata Air Umbulan Pasuruan

Masyarakat Pasuruan memiliki tradisi mencuci karpet masjid dan mushala di Mata Air Umbulan sebagai persiapan menyambut Ramadan. Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama untuk memberikan kenyamanan bagi jamaah yang akan melaksanakan ibadah tarawih. Mata Air Umbulan, yang terletak di Desa Umbulan, Kecamatan Winongan, dipercaya memiliki air yang jernih dan berkualitas. Proses pencucian karpet dilakukan dengan sangat hati-hati, mulai dari merendam, menyikat, membilas, hingga menjemur, mencerminkan ketelitian dalam mempersiapkan tempat ibadah.

22.Gerebeg Apem di Jombang

Perayaan Gerebeg Apem menjadi tradisi yang dinanti-nanti oleh masyarakat Jombang menjelang datangnya Ramadan. Inti dari tradisi ini adalah pembuatan dan arak-arakan gunungan kue apem dari GOR menuju Bundaran Ringin Contong Jombang. Setelah prosesi arak-arakan, gunungan apem yang berisi ribuan kue diperebutkan oleh warga yang hadir. Masyarakat percaya bahwa mendapatkan kue apem dari acara ini akan membawa berkah tersendiri dalam menjalani ibadah puasa.

23.Resik Lawon di Banyuwangi

Resik Lawon adalah tradisi khas Banyuwangi yang dilestarikan dalam menyambut bulan Ramadan. "Resik" berarti membersihkan, sedangkan "lawon" adalah kain mori atau kafan yang digunakan untuk menutupi cungkup pada petilasan Ki Wongso Karyo atau Buyut Cungking. Dalam tradisi ini, warga membersihkan kain kafan sepanjang 110,75 meter di Dam Krambatan, Banyu Gulung. Prosesi ini bukan hanya sebagai penghormatan kepada leluhur, tetapi juga sebagai simbol pembersihan diri secara spiritual menjelang Ramadan.

24.Pasar Bandeng di Gresik

Pasar Bandeng merupakan tradisi yang telah ada sejak zaman Sunan Giri dan menjadi ciri khas Gresik menjelang bulan puasa. Selama beberapa hari sebelum Ramadan, pusat kota Gresik dipenuhi oleh pedagang bandeng dengan berbagai ukuran dan olahan. Keunikan Pasar Bandeng tidak hanya terletak pada transaksi jual-beli ikan bandeng, tetapi juga pada nilai historis dan kulturalnya. Pembeli dari berbagai daerah di Jawa Timur datang untuk membeli bandeng yang akan disajikan saat berbuka puasa pertama.

Keragaman tradisi menyambut bulan puasa di Indonesia mencerminkan kekayaan budaya bangsa yang sangat berharga. Setiap tradisi memiliki keunikan dan makna yang mendalam, mencerminkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat berpadu dengan kearifan lokal di berbagai daerah.

Melestarikan tradisi-tradisi ini bukan hanya sekedar menjaga warisan budaya, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, silaturahmi, dan kepedulian sosial yang semakin langka di dunia modern. Mari kita jaga dan wariskan tradisi-tradisi ini kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia yang beragam namun tetap bersatu.

Rekomendasi