Telur-Telur dari Spesies yang Sudah Punah Lebih dari Satu Generasi Kembali Ditemukan
Telur-telur itu berkembang pesat dalam dua dasawarsa terakhir.
Lebih dari satu generasi, buaya siam dianggap telah punah. Di Kamboja, buaya ini mirip seperti panda di Cina atau harimau benggala di India yang sangat dilindungi.
Kantor berita Associated Press (AP) melaporkan, buaya-buaya ini dikembangbiakkan di penangkaran sebelum dilepaskan ke alam liar. Buaya-buaya ini pertama kali dilepaskan ke alam liar pada 2012 dan kemudian menghasilkan 106 telur pada bulan Juni lalu.
Telur-telur ini jadi pertanda buaya siam ini kini berkembang pesat dalam dua dasawarsa.
Dibiakan sebelum dilepas ke alam liar
Dilansir laman the Cool Down, buaya ini adalah sumber buaya ras murni yang subur, diambil dari populasi 1,5 juta buaya yang sebagian besar merupakan hibrida yang dibiakkan untuk diambil kulitnya.
Menurut AP, setelah buaya bertelur, telur-telur tersebut dierami di Pusat Penyelamatan Satwa Liar Phnom Tamao yang memungkinkan buaya-buaya itu berkembang sebelum dibawa ke taman nasional di Pegunungan Cardamom.
Punah karena perburuan liar
Hanya satu dari 20 buaya yang lahir di alam liar yang bertahan hidup. Namun, jika mereka dibiakan di penangkaran dan tidak dilepaskan hingga mencapai panjang 1 meter, "peluang mereka untuk bertahan hidup meningkat secara eksponensial.
Selain itu, para konservasionis juga harus melindungi habitat reptil mengingat 32% pohon di negara itu hilang dari tahun 2001 hingga 2023, menurut Global Forest Watch.
"Melindungi habitat adalah bagian terpenting dari keseluruhan proyek ini," kata Pablo Sinovas dari Fauna & Flora. Itulah sebabnya penemuan telur-telur itu merupakan berita baik. Telur-telur itu menghasilkan 60 ekor anakan.
Saat ini hanya ada sekitar 1.000 buaya siam di alam liar, termasuk 400 di Kamboja. Hewan ini punah akibat perusakan habitat, perburuan liar, dan perkawinan silang.
AP melaporkan, program serupa di India berhasil dengan sangat baik. “Ini bisa menjadi "kisah konservasi paling sukses di Kamboja,” ungkap Sinovas.
"Kita masih jauh dari mengatakan spesies ini dalam kondisi baik. Namun, ada kemajuan."
Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti