Advertisement
Pejalan kaki menggunakan payung saat menyeberangi jalan di Seoul, Korea Selatan, Rabu (14/8/2024). Gelombang panas ekstrem tengah melanda sebagian besar wilayah Korea Selatan. Foto: Anthony Wallace/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9274302/original/003952000_1783172671-1723646253844-rymvk.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9274303/original/064040600_1783172671-1723646345786-3564o.jpg)
Kondisi ini menyebabkan Soul dilanda malam tropis berkepanjangan. Hingga Rabu (14/8/2024), Seoul tercatat telah mengalami malam tropis ke-24 berturut-turut. Foto: Anthony Wallace/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9274304/original/048477400_1783172672-1723646383050-22aby.jpg)
Situasi malam tropis mengacu pada saat suhu tidak turun di bawah 25 derajat Celcius (77 Fahrenheit) dalam semalam. Foto: Anthony Wallace/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9274305/original/091317100_1783172672-213319.051-gelombang-panas-seoul-hadapi-malam-tropis-24-hari-berturut-turut-1.jpg)
Suhu di banyak wilayah di Korea Selatan dilaporkan telah melampaui 35 derajat Celsius. Foto: Anthony Wallace/AFP
Advertisement
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9274306/original/005822200_1783172673-1723646619551-q4wh5.jpg)
Berdasarkan data resmi yang dirilis pada 14 Agustus 2024, rentetan gelombang panas ini sebagai rekor terlama kedua sejak Korea Selatan memulai pengamatan cuaca modern pada 1907. Foto: Anthony Wallace/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9274307/original/042712800_1783172673-213319.654-gelombang-panas-seoul-hadapi-malam-tropis-24-hari-berturut-turut-1.jpg)
Greenpeace Korea Selatan mengungkapkan, jumlah rata-rata hari "panas ekstrem" yang dialami kota-kota di negara tersebut meningkat dua kali lipat dalam dua dekade terakhir. Foto: Anthony Wallace/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9274308/original/006774300_1783172674-213320.047-gelombang-panas-seoul-hadapi-malam-tropis-24-hari-berturut-turut-1.jpg)
Sejumlah ilmuwan menekankan bahwa gelombang panas yang berulang menjadi ciri khas pemanasan global yang terkait perubahan iklim. Foto: Anthony Wallace/AFP
Advertisement
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9274301/original/054222600_1783172670-1723647102803-uacsk.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354111/original/046575000_1790004820-Gudang_Senjata_Suriah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7754424/original/012663700_1780563217-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2773769/original/091196500_1554796762-20190409-Saat-Warga-Yahudi-Ortodoks-Beri-Suara-dalam-Pemilu-Israel5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4577420/original/073933700_1694794485-20230916-Demam-Berdarah-Bangladesh-AP-9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9366168/original/049013100_1791256425-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2914760/original/000288800_1568789374-20190918-Kabut-Asap-Malaysia-Singapura-4.jpg)