Advertisement
Korban Gempa Bisa Bertahan Hidup di Bawah Reruntuhan Sampai Tujuh Hari, Begini Penjelasan Ahli
Menurut ahli, seseorang dapat bertahan selama satu minggu atau lebih di bawah reruntuhan bangunan setelah gempa.
Gempa dahsyat mengguncang Maroko pada Jumat malam lalu menewaskan lebih dari 2.000 jiwa dan melukai ribuan lainnya. Banyak bangunan dan rumah penduduk hancur, termasuk masjid bersejarah yang dibangun pada abad ke-12.
Tim penyelamat hingga kini masih berjibaku menyelamatkan korban yang masih tertimbun di bawah reruntuhan. Rentang waktu hingga 72 jam pertama sejak gempa terjadi adalah masa-masa kritis bagi keselamatan korban yang tertimpa reruntuhan.
Menurut ahli, seseorang dapat bertahan selama satu minggu atau lebih di bawah reruntuhan bangunan setelah gempa. Akan tetapi, hal ini tergantung pada sejauh mana cidera yang dialami, kondisi tempat terperangkap, faktor akses terhadap air, udara, dan cuaca.
Advertisement
Sebagian besar operasi penyelamatan dilakukan dalam 24 jam pertama pasca-bencana. Setelah itu, peluang bertahan hidup semakin menurun.
Dr. Jarone Lee, seorang pakar kedokteran darurat dan kebencanaan di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Amerika Serikat, menjelaskan, jarang ditemukan penyintas setelah hari kelima hingga ketujuh. Dengan demikian banyak tim pencarian dan evakuasi umumnya mempertimbangkan untuk menghentikan operasi.
Menurut Dr. George Chiampas, seorang spesialis pengobatan darurat di Universitas Northwestern, orang dengan luka traumatis, seperti patah atau remuk anggota tubuh, memiliki peluang bertahan hidup yang sangat kecil jika tidak dievakuasi dalam satu jam pertama.
Chiampas menambahkan bahwa kesempatan selamat juga minim bagi orang yang memiliki penyakit atau tergantung pada obat-obatan. Faktor-faktor seperti usia, kondisi fisik, dan kesehatan mental juga merupakan peran penting dalam kemungkinan bertahan hidup.
Chiampas menekankan, keadaan mental juga mempengaruhi kemampuan bertahan hidup. Orang yang terisolasi dengan mayat atau tidak memiliki kontak dengan penyelamat atau penyintas lainnya dapat merasa putus asa. Karena itu penting untuk saling memberi dukungan dan semangat dalam situasi sulit tersebut.
Advertisement
Dr. Christopher Colwell, seorang spesialis kedokteran darurat di Universitas California di San Francisco, menjelaskan bahwa seringkali terjadi keajaiban di mana orang-orang berhasil bertahan dalam kondisi yang mengerikan.
Namun, hal ini biasanya dialami oleh orang yang lebih muda dan memiliki keberuntungan menemukan ruang di bawah reruntuhan atau cara lain untuk mendapatkan akses ke udara dan air.
Dr. Stephen Morris, seorang profesor yang memiliki pengalaman dalam menanggapi bencana di tingkat internasional di departemen kedokteran darurat di UW Medicine, menyampaikan kepada ABC News, salah satu strategi terbaik untuk meningkatkan kemungkinan penyelamatan diri adalah dengan mencari cara untuk berkomunikasi dengan dunia luar bahwa Anda masih hidup.
Advertisement
Sumber: Al Arabiya
Artinya, berusaha keras untuk membuat suara atau berteriak sehingga petugas penyelamat dapat mengetahui di mana Anda berada.
"Yang benar-benar esensial untuk disampaikan adalah bahwa ditemukan merupakan satu-satunya jalan untuk bertahan hidup," ujarnya.
"Jadi, menemukan cara untuk berkomunikasi, mungkin dengan membuat suara berulang-ulang, umumnya melibatkan jenis ketukan pada struktur di sekitar tempat di mana seseorang terperangkap.
Advertisement
Sebagai contoh, sembilan hari setelah gempa di Turki, tiga perempuan dan dua anak berhasil ditemukan masih hidup dan dievakuasi dari reruntuhan bangunan.
Sumber: Al Arabiya
Advertisement
Pada tahun 2012, seorang gadis berusia 16 tahun dari Haiti selamat setelah tertimbun selama 15 hari di bawah puing-puing bangunan akibat gempa.