Tertangkapnya Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS) di Caracas pada awal 2026 seolah menjadi babak akhir dari ideologi 'Chavismo' yang telah mencengkeram Venezuela selama lebih dari dua dekade.
Namun, untuk memahami mengapa Venezuela negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia bisa berseteru hebat dengan AS hingga hari ini, kita harus memutar waktu ke belakang. Tepatnya ke era sang mentor, Hugo Rafael Chávez Frías.
Memimpin Venezuela selama 14 tahun (1999–2013), Chávez adalah sosok yang mengubah wajah Amerika Latin menjadi 'kiri' dan menanamkan pondasi anti-Amerikaisme yang kuat.
Berikut adalah rekam jejak gejolak politik dan ekonomi yang mewarnai masa kepemimpinan Sang Komandan, dirangkum dari berbagai sumber sejarah internasional:
1. Tahun 1999: Awal Revolusi & Konstitusi Baru
Mantan letnan kolonel payung ini naik ke tampuk kekuasaan pada Februari 1999 setelah menang telak dalam pemilu.
Mengutip timeline sejarah dari Council on Foreign Relations (CFR), langkah pertamanya langsung radikal. Ia menggelar referendum untuk mengubah konstitusi, mengganti nama negara menjadi Republik Bolivarian Venezuela, dan memperpanjang masa jabatan presiden. Ini adalah awal konsolidasi kekuasaan mutlak di tangan eksekutif yang mengubah sistem demokrasi Venezuela selamanya.
2. Tahun 2002: Kudeta 47 Jam yang Gagal
Momen paling kritis dalam sejarah Chávez terjadi pada April 2002. Protes massal oposisi yang berujung bentrokan berdarah membuat militer bergerak menangkap Chávez.
Menurut catatan sejarah Britannica, Chávez sempat digulingkan dan digantikan oleh pengusaha Pedro Carmona. Namun, pendukung setia Chávez dari kawasan kumuh turun ke jalan mengepung istana. Dalam waktu kurang dari 48 jam (13 April), pasukan loyalis berhasil mengembalikan Chávez ke kursi presiden. Peristiwa ini membuatnya makin paranoid terhadap AS, yang dituduhnya mendalangi kudeta tersebut.
3. Tahun 2002-2003: Mogok Nasional & Pembersihan PDVSA
Setelah selamat dari kudeta, Chávez menghadapi tantangan dari jantung ekonomi Venezuela: industri minyak.
Manajemen dan pekerja perusahaan minyak negara, PDVSA, melakukan mogok kerja nasional selama dua bulan untuk mendesak Chávez mundur. Chávez merespons dengan tangan besi. Laporan GIS Reports mencatat Chávez memecat lebih dari 18.000 karyawan profesional PDVSA dan menggantinya dengan loyalis politik. Langkah ini efektif mengamankan kekuasaannya, namun menjadi awal kehancuran efisiensi industri minyak Venezuela.
Advertisement
4. 'Di Sini Tercium Bau Belerang' (2006)
Salah satu warisan Chávez yang paling diingat dunia adalah retorika anti-AS yang teatrikal. Puncaknya terjadi di Sidang Umum PBB tahun 2006.
Seperti didokumentasikan oleh The Guardian, Chávez secara terbuka menyebut Presiden AS George W. Bush sebagai "Iblis".
"Iblis itu datang ke sini kemarin dan tempat ini masih bau belerang," ujarnya di podium PBB yang menggemparkan dunia diplomatik. Momen ini menegaskan posisi Venezuela sebagai pemimpin blok anti-Barat di Amerika Latin.
Advertisement
5. Akhir Era Sang Komandan (2013)
Gejolak kepemimpinan Chávez berakhir bukan karena kudeta atau pemilu, melainkan penyakit.
Pada 5 Maret 2013, BBC News melaporkan Hugo Chávez meninggal dunia akibat kanker setelah dirawat intensif di Kuba. Sebelum wafat, ia menunjuk Nicolas Maduro mantan sopir bus dan menteri luar negerinya sebagai penerus.
Maduro mewarisi kekuasaan dan retorika anti-AS tersebut, namun gagal mewarisi stabilitas ekonomi sang mentor, yang akhirnya berujung pada kejatuhannya di tangan pasukan AS pada tahun 2026 ini.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie