Film Solata: Gagal di Dalam Negeri, Raih Apresiasi Internasional

Film Solata, karya sineas lokal, membuktikan kualitasnya di kancah global dengan beragam penghargaan internasional, namun justru gagal meraih prestasi di Festival Film Bandung. Mengapa apresiasi domestik berbeda dengan pengakuan dunia?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Film Solata: Gagal di Dalam Negeri, Raih Apresiasi Internasional
Film Solata, karya sineas lokal, membuktikan kualitasnya di kancah global dengan beragam penghargaan internasional, namun justru gagal meraih prestasi di Festival Film Bandung. Mengapa apresiasi domestik berbeda dengan pengakuan dunia? (AntaraNews)

Film layar lebar berjudul Solata (Teman adalah keluarga yang kita pilih) telah menjadi sorotan setelah menunjukkan fenomena menarik dalam dunia perfilman. Meskipun gagal meraih prestasi di dalam negeri, khususnya pada Festival Film Bandung Juli 2026, film ini justru sukses besar dengan memperoleh berbagai penghargaan internasional di Eropa. Keberhasilan di kancah global ini memicu diskusi mengenai sistem apresiasi festival domestik.

Sutradara sekaligus produser film Solata, Ichwan Persada, menanggapi kondisi ini sebagai refleksi atas sistem penghargaan di Indonesia. Menurut Ichwan, festival domestik kerap kali lebih memprioritaskan popularitas nama besar dibandingkan substansi dan kualitas artistik karya. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang standar penilaian dan pengakuan terhadap karya-karya sinema lokal.

Ichwan Persada juga mengingatkan bahwa preseden serupa pernah terjadi dua tahun lalu pada film "Women From Rote Island". Film tersebut, dengan akting luar biasa dari para aktornya, luput dari rekognisi di Festival Film Indonesia. Kondisi ini, jika terus berlanjut, dapat menunjukkan adanya pola diskriminasi berbasis ketenaran yang perlu dievaluasi dalam ekosistem perfilman nasional.

Refleksi Apresiasi Domestik dan Ketenaran

Ichwan Persada mengungkapkan keprihatinannya terhadap sistem apresiasi festival domestik di Indonesia. Ia berpendapat bahwa sistem ini cenderung mengutamakan popularitas dibandingkan kualitas artistik sebuah karya. Pernyataan ini muncul setelah Film Solata tidak mendapatkan pengakuan di Festival Film Bandung, padahal telah diakui secara luas di luar negeri.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi dalam industri film Indonesia. Ichwan menunjuk pada kasus film "Women From Rote Island" dua tahun sebelumnya, yang juga tidak mendapatkan rekognisi di Festival Film Indonesia meskipun kualitas aktingnya luar biasa. Hal ini mengindikasikan adanya pola yang berulang dalam penilaian festival domestik.

Diskriminasi berbasis ketenaran ini, menurut Ichwan, perlu menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan di ekosistem perfilman nasional. Apresiasi yang tidak seimbang antara popularitas dan kualitas dapat menghambat perkembangan sineas-sineas berbakat. Ini juga dapat mematikan semangat untuk menciptakan karya-karya yang berani dan inovatif.

Kiprah Internasional Film Solata yang Gemilang

Berbanding terbalik dengan penerimaan di dalam negeri, Film Solata justru menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Film yang digarap pada tahun 2025 ini telah membuktikan kualitasnya dengan meraih penghargaan khusus. Penghargaan tersebut diberikan untuk kebudayaan dan kemanusiaan dari Golden FEMI Film Festival di Bulgaria pada Juni 2026.

Kesuksesan Film Solata tidak berhenti sampai di situ. Film produksi Walma Pictures dan Indonesia Sinema Persada ini juga telah dikonfirmasi akan hadir di ASEAN Plus Three Film Festival di Cekoslowakia pada September 2026. Ini menunjukkan jangkauan apresiasi global yang luas terhadap karya sineas Indonesia.

Selain itu, Film Solata juga masih menunggu hasil seleksi kompetisi di Tirana International Film Festival di Albania. Festival ini merupakan salah satu festival film yang berkualifikasi Oscar, menambah daftar potensi pengakuan internasional bagi film tersebut. Pencapaian beruntun ini menegaskan bahwa karya sineas lokal mampu bersaing dan diterima secara universal.

Diplomasi Budaya dan Kekuatan Sinema Indonesia

Pencapaian Film Solata di berbagai festival internasional tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para pembuatnya, tetapi juga berperan sebagai sarana diplomasi budaya. Film ini terus memperluas jangkauan diplomasi budaya melalui dukungan institusi negara. Salah satunya adalah fasilitasi dari KBRI Yordania.

Berkat fasilitasi tersebut, Film Solata dijadwalkan akan berpartisipasi dalam 5th Jordan Children and Youth Film Festival di Amman dalam waktu dekat. Keberhasilan menembus berbagai festival internasional, mulai dari Balkan hingga Timur Tengah, membuktikan kekuatan naratif dan visual sinema Indonesia.

Kekuatan ini melampaui batas bahasa dan budaya, menunjukkan bahwa cerita-cerita dari Indonesia memiliki resonansi universal. Ini adalah bukti nyata bahwa sinema Indonesia memiliki potensi besar untuk dikenal dan dihargai di seluruh dunia. Film Solata menjadi duta budaya yang efektif.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi