Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap Amerika Serikat (AS). Presiden AS Donald Trump mengklaim Moduro terlibat kasus narkotika dan terorisme. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap oleh pasukan khusus AS di Caracas pada Sabtu (3/1)
Kini, kepemimpinan Venezuela berganti. Delcy Rodriguez (56) resmi dilantik sebagai presiden interim Venezuela, Senin (5/1).
Menurut laporan CBS News, Rodriguez merupakan sosok yang memiliki pengaruh kuat dan merupakan orang kepercayaan Maduro sejak lama. Saat ini, ia mendapatkan dukungan dari militer Venezuela sebagai pemimpin baru negara tersebut. Sebelum dilantik, Rodriguez telah menjabat sebagai wakil presiden Venezuela sejak tahun 2018.
Rodriguez mengecam tindakan AS yang dianggapnya sebagai pelanggaran terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebagai usaha sepihak untuk mengganti rezim yang ada. Meskipun pernyataan tegas tersebut disampaikannya pada hari Sabtu, sikapnya kemudian berubah menjadi lebih moderat.
Dalam sebuah unggahan di media sosial setelah rapat kabinet pada hari Minggu, Rodriguez mengajak untuk menjalin hubungan internasional yang saling menghormati antara Caracas dan Washington, serta mengundang pemerintah AS untuk bekerja sama dengan pemerintahannya.
Saat ini, sekitar 30 juta penduduk Venezuela menghadapi ketidakpastian yang besar pasca serangan AS tersebut. Hingga hari Senin, belum ada kejelasan mengenai otonomi yang akan diberikan AS kepada Venezuela, terutama menyusul pernyataan Donald Trump yang menyebutkan bahwa AS akan "mengendalikan" Venezuela setidaknya untuk sementara waktu.
Advertisement
Profil Rodrigez
Rodriguez dilahirkan di Caracas, Venezuela. Ayahnya, Jorge Antonio Rodriguez, adalah seorang tokoh penting dalam gerakan sosialis di negara tersebut yang kemudian berkuasa di bawah pemerintahan Hugo Chavez, pendahulu Nicolás Maduro. Pada tahun 1976, Jorge ditangkap karena terlibat dalam penculikan seorang pengusaha AS, William Niehous. Sayangnya, ia meninggal dalam tahanan polisi akibat penyiksaan yang dilakukan oleh aparat keamanan Venezuela.
Rodriguez menempuh pendidikan hukum di Universitas Pusat Venezuela di Caracas dan melanjutkan studi di Inggris dan Prancis. Selama masa pemerintahan Chavez, ia menduduki berbagai jabatan, namun baru benar-benar bersinar di era Maduro.
Antara tahun 2013 dan 2014, ia menjabat sebagai menteri kekuatan rakyat untuk komunikasi dan informasi, sebelum diangkat menjadi menteri luar negeri pada tahun 2014, jabatan yang dipegangnya hingga tahun 2017.
Selama tahun 2017, Rodriguez juga memimpin sebuah majelis yang dibentuk sebagai respons terhadap gelombang besar protes di jalanan. Majelis tersebut secara luas dianggap sebagai upaya untuk menyingkirkan Majelis Nasional yang dikuasai oposisi, sehingga memungkinkan Maduro untuk mengonsolidasikan kekuasaannya.
Pada tahun 2018, Maduro menunjuk Rodriguez sebagai wakil presiden Venezuela, dan ia tetap dalam posisi ini hingga akhirnya menggantikan mantan atasannya, sesuai perintah Mahkamah Agung Venezuela.
Pada tahun 2020, ia diangkat sebagai menteri ekonomi dan keuangan, di mana dalam perannya ini, ia berkontribusi pada upaya menstabilkan perekonomian Venezuela yang terdampak sanksi setelah bertahun-tahun mengalami inflasi yang sangat tinggi. Pada tahun 2024, ia juga mendapatkan jabatan menteri perminyakan. Meskipun berperan sangat penting dalam rezim Maduro, hingga saat ini Rodriguez belum didakwa atas tuduhan pidana di AS. Namun, ia telah dikenakan sanksi yang diberlakukan pada masa jabatan pertama Presiden Trump, terkait dengan perannya dalam membantu Maduro mempertahankan kekuasaan dan memperkuat pemerintahan otoriter.
Advertisement
Akankah Rodríguez Jalin Kerjasama dengan AS?
Trump mengungkapkan pada hari Sabtu bahwa Amerika Serikat telah berkomunikasi dengan Rodriguez. "Dia pada dasarnya bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali hebat." Namun, dalam sebuah wawancara dengan majalah The Atlantic yang diterbitkan pada hari Minggu, Trump memberikan peringatan. "Jika dia tidak melakukan hal yang benar, dia akan membayar harga yang sangat besar, mungkin lebih besar daripada Maduro," kata Trump.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam wawancara pada hari Minggu dengan CBS News, menegaskan bahwa AS siap memberikan kesempatan kepada Rodriguez. "Kami akan membuat penilaian terhadap orang-orang," ungkap Rubio, merujuk pada tokoh-tokoh rezim Maduro yang masih bertahan.
"Penilaian itu akan didasarkan pada apa yang mereka lakukan ke depan, bukan pada pernyataan publik mereka untuk sementara waktu, dan bukan semata-mata pada apa yang telah mereka lakukan di masa lalu."
Namun, dalam wawancara lainnya pada hari yang sama di program This Week di ABC News, Rubio menegaskan kembali bahwa pemerintahan Trump tidak menganggap Rodriguez atau para koleganya memiliki klaim kekuasaan yang sah di Venezuela. "Ini bukan soal presiden yang sah. Kami tidak percaya bahwa rezim yang saat ini berkuasa memperoleh legitimasi melalui sebuah pemilu," ujar Rubio kepada ABC.
"Pada akhirnya, legitimasi bagi sistem pemerintahan mereka akan muncul melalui suatu periode transisi dan pemilu yang benar-benar nyata," lanjutnya. "Itulah sebabnya Maduro bukan sekadar seorang pengedar narkoba yang didakwa. Ia juga merupakan presiden yang tidak sah dan tidak dapat dianggap sebagai kepala negara."