Layakkah Donald Trump Mendapat Hadiah Nobel Perdamaian? Begini Kata Analis Geopolitik Asal Indonesia

Pandangan tersebut diungkapkan oleh Kolonel Dedy Yulianto, seorang analis geopolitik yang kini menjabat sebagai Analis Madya Humas di Kementerian Pertahanan.

Teddy Tri Setio Berty
Oleh Teddy Tri Setio Berty - Reporter
Layakkah Donald Trump Mendapat Hadiah Nobel Perdamaian? Begini Kata Analis Geopolitik Asal Indonesia
Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama diskusi panel bisnis di Doha, Qatar, Kamis (15/5/2025). (Dok. Alex Brandon/AP) (© 2025 Liputan6.com)

Pertanyaan mengenai kemungkinan Donald Trump mendapatkan Nobel Perdamaian telah memicu perdebatan yang hangat di berbagai negara. Di Indonesia, isu ini menjadi refleksi yang menarik terkait makna perdamaian global, diplomasi internasional, serta dampak seorang pemimpin terhadap jalannya sejarah. Walaupun topik ini mungkin tampak jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, sebenarnya hal ini memberikan pandangan baru tentang kompleksitas geopolitik dunia dan nilai-nilai perdamaian yang seharusnya diperjuangkan. Berbagai pencapaian diplomatik yang diraih Trump selama masa kepresidenannya menjadi alasan bagi pihak-pihak yang mengajukan namanya sebagai kandidat penerima Nobel Perdamaian.

Kolonel Dedy Yulianto, seorang analis geopolitik yang juga menjabat sebagai Analis Madya Humas di Kementerian Pertahanan, menyampaikan bahwa ada beberapa aspek yang perlu dianalisis secara objektif. "Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan secara objektif," demikian dikutip dari laman Antara News, Senin (14/7/2025). Salah satu aspek yang sering dibahas adalah inisiatif Abraham Accords, yang berhasil menciptakan normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko pada tahun 2020. Banyak orang menganggap ini sebagai terobosan sejarah yang mengubah peta politik di Timur Tengah.

Gedung Putih Posting Gambar Donald Trump Berkostum Superman, Publik Geger
Gedung Putih Posting Gambar Donald Trump Berkostum Superman, Publik Geger X

Selain itu, pendukung Trump juga mencatat bahwa selama masa jabatannya, Amerika Serikat tidak terlibat dalam perang baru. Dalam konteks sejarah panjang intervensi militer AS di berbagai belahan dunia, hal ini dianggap sebagai pencapaian strategis yang menunjukkan kehati-hatian dan pengendalian diri dalam kebijakan luar negeri.Trump juga pernah melakukan pendekatan langsung dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dan menawarkan diri sebagai penengah dalam konflik antara India dan Pakistan. Ini menunjukkan upaya untuk mengedepankan diplomasi, meskipun hasilnya tidak selalu terlihat nyata.

Di sisi lain, kritik terhadap Trump juga muncul, terutama terkait dengan pendekatan unilateral yang diambilnya serta retorikanya yang sering kali provokatif. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas kebijakan luar negeri yang dijalankannya dan dampaknya terhadap stabilitas global. Meskipun ada pencapaian yang dapat dibanggakan, tantangan yang dihadapi tetap signifikan dan memerlukan perhatian lebih lanjut dari komunitas internasional.

Donald Trump Tuduh Presiden Gustavo Petro Terlibat Perdagangan Narkoba, AS Hentikan Bantuan ke Kolombia
Presiden Donald Trump saat berbicara kepada para wartawan di Ruang James Brady Press Briefing di Gedung Putih, Washington, DC pada Senin (11/8/2025). (Dok. AP/Alex Brandon) © 2025 Liputan6.com

Dalam skala global, kebijakan "America First" yang diterapkan oleh Trump dianggap telah merusak kerjasama multilateral yang ada. Penarikan Amerika Serikat dari Perjanjian Iklim Paris serta kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018 dipandang sebagai langkah mundur dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia. Keputusan tersebut bahkan menuai kritik keras dari Direktur IAEA dan negara-negara Eropa, yang menilai bahwa langkah ini memperlemah diplomasi global dan menciptakan ketegangan baru, terutama dengan Iran. Selain itu, gaya komunikasi Trump yang sering kali memecah belah juga menjadi sorotan utama.

Dalam berbagai forum, Trump tidak ragu untuk mengeluarkan ancaman mengenai tarif perdagangan terhadap negara-negara anggota BRICS. Pada tahun 2024 dan 2025, ia secara terbuka mengancam akan meningkatkan tarif hingga 100 persen terhadap negara-negara tersebut, dan baru-baru ini menambah ancaman tarif sebesar 10 persen lagi setelah kelompok BRICS mengusulkan reformasi IMF serta mempertanyakan dominasi dolar sebagai mata uang utama. Menteri keuangan dari negara-negara BRICS pun menyatakan bahwa kebijakan tarif ini justru menciptakan ketidakpastian ekonomi global dan mengancam kestabilan perdagangan internasional.

Selain itu, kebijakan imigrasi yang keras juga menjadi salah satu kelemahan Trump dalam usaha meraih Nobel. Larangan bagi warga dari beberapa negara mayoritas Muslim serta kebijakan pemisahan keluarga di perbatasan dianggap bertentangan dengan semangat kemanusiaan. Banyak organisasi HAM internasional mengecam kebijakan tersebut, dan bagi sebagian orang, ini menjadi bukti bahwa retorika perdamaian tidak sejalan dengan tindakan nyata di dalam negeri. Salah satu dinamika paling sensitif dalam pencalonan Trump sebagai penerima Nobel adalah perannya dalam konflik Israel dan Palestina.

Meskipun ia berusaha mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, dukungannya yang besar terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menjadi penghalang. Netanyahu, yang telah didakwa oleh Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan kejahatan perang di Gaza, datang ke Gedung Putih dengan membawa surat nominasi Nobel bagi Trump, yang mempertegas hubungan politik yang rumit dan membuat ambisi Trump untuk meraih Nobel tampak kontradiktif. Trump juga memiliki ambisi besar untuk memperluas Abraham Accords dengan melibatkan Arab Saudi, namun hingga kini, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menandatangani kesepakatan apapun dengan Israel sebelum ada komitmen yang jelas untuk mendirikan negara Palestina. Di sisi lain, Netanyahu sebagai sekutu Trump justru menjadi penghalang utama, karena secara politik ia dikenal menolak gagasan tentang negara Palestina. Dengan demikian, situasi ini menciptakan tantangan besar bagi Trump dalam mencapai tujuan diplomatiknya.

Trump Ubah Tarif Dagang, Negara Asia Kasih Respons
Presiden Donald Trump berpidato di South Lawn Gedung Putih, Rabu, 4 Juni 2025, di Washington. (AP/Alex Brandon) © 2025 Liputan6.com

Kolonel Dedy menyatakan bahwa untuk Donald Trump meraih Nobel Perdamaian, ia harus mengambil tindakan konkret di dua bidang. Pertama, ia perlu menjadi mediator dalam kesepakatan diplomatik antara Israel dan Arab Saudi, atau kedua, berperan penting dalam menciptakan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang hingga saat ini belum tercapai. Namun, mencapai tujuan tersebut bukanlah hal yang mudah. Diperlukan dorongan signifikan dari negara-negara Eropa serta sekutu NATO untuk mendorong Amerika Serikat agar lebih tegas dalam menekan Israel dan menunjukkan komitmen yang nyata terhadap perdamaian Palestina.

Dari sudut pandang Indonesia, wacana ini mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa perdamaian lebih dari sekadar penghargaan. Ini adalah tentang keberanian politik untuk mendukung kemanusiaan. Indonesia, sebagai negara yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina, memahami bahwa perdamaian sejati memerlukan keberpihakan yang jelas terhadap keadilan.

Sejarah Nobel Perdamaian memang diwarnai oleh pemenang yang kontroversial, tetapi Komite Nobel Norwegia tidak hanya mempertimbangkan citra politik, melainkan juga dampak nyata terhadap perdamaian global.

Oleh karena itu, kelayakan Donald Trump untuk menerima Nobel Perdamaian sepenuhnya bergantung pada apakah tindakannya dapat menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan. Ini bukan sekadar mengenai inisiatif diplomatik tanpa hasil yang nyata. Harapan akan dunia yang lebih damai masih ada, asalkan para pemimpin dunia berani mengesampingkan ego dan kepentingan politik jangka pendek. Di tengah berbagai tantangan global, seperti krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan konflik geopolitik yang terus berkembang, komitmen terhadap perdamaian dan kemanusiaan menjadi nilai yang sangat penting untuk dirayakan. Hanya mereka yang benar-benar berjuang untuk itu yang layak menyandang gelar sebagai pembawa damai dunia.

Rekomendasi