Para peneliti dari Prancis menemukan sebuah kota kuno peninggalan masyarakat Amazon pra-Hispanik dari 2.500 tahun yang lalu dengan menggunakan teknologi deteksi cahaya dan pengukuran jarak (LIDAR).
Stephen Rostain dari Pusat Riset Ilmiah Nasional Prancis mengungkapkan penemuannya sebagai “lembah kota yang hilang”. Ia menemukan setidaknya 15 pemukiman yang terhubung oleh jaringan jalan yang canggih, beberapa di antaranya membentang hingga 20 kilometer dan lebar 10 meter.
Dilansir The Bright Side News, Senin (30/12), Rostain juga mendokumentasikan sekitar 6.000 panggung tanah yang kemungkinan berfungsi sebagai alun-alun, bangunan upacara, dan rumah yang saling terintegrasi dengan jalan dan dikelilingi oleh sawah terasering dan parit drainase.
Advertisement
Hilang akibat letusan gunung
Berdasarkan hal tersebut, perkotaan ini termasuk pemukiman yang terorganisir dengan cermat. Rostain dan timnya memperkirakan populasi penduduk di kota tersebut mencapai 10.000 hingga 30.000 orang pada masa puncaknya.
Para peneliti mengungkap bahwa penduduk pra-Hispanik yang tinggal di pemukiman ini termasuk dalam budaya Kilamope dan kemudian Upano. Mereka adalah masyarakat agraris yang menetap.
Selama penggalian di area tersebut ditemukan artefak rumah tangga seperti batu gerinda, kendi, dan biji yang dibakar. Lubang tiang, perapian, dan endapan artefak yang sengaja menunjukkan konstruksi tersebut seringkali mencangkup ritual.
Budaya Upano diperkirakan berakhir secara tiba-tiba akibat letusan gunung berapi Sangay yang terjadi antara 400 dan 600 M. Meski begitu, rentang waktu dari penanggalan karbon menunjukkan rentang waktu yang bervariasi.
Lebih lanjut, penemuan ini menentang asumsi lama tentang Amazonia di mana kota tersebut tidak dibangun dari batu seperti di Inca. Peradaban Amazon ini menggunakan lumpur sebagai bangunan utama sehingga meninggalkan lebih sedikit jejak yang bertahan lama.
Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti