Seorang pria di Shanghai merugi 170 ribu yuan (Rp 453,8 juta) setelah berkenalan lewat media sosial dengan perempuan yang mengaku dokter muda. Kasus ini tengah diselidiki kepolisian setempat, dikutip dari South China Morning Post, Jumat (25/9).
Korban, Liu Hui, berkenalan pada 2021 dengan akun bernama Yu Xiuzhen. Yu mengklaim berusia 29 tahun, bekerja di rumah sakit bergengsi kelas 3A di Shanghai, serta memiliki pengaruh atas proyek-proyek teknik properti di rumah sakit itu.
Dalam lima tahun terakhir, Yu aktif membagikan kehidupan sehari-hari melalui hampir 7.000 video dan berhasil meraup sekitar 10 ribu pengikut.
Liu, seorang pengusaha properti, percaya Yu dapat membantunya mendapatkan proyek dan berniat menjalin hubungan romantis.
Meskipun tinggal di kota yang sama, Yu menyebut tidak dapat bertemu karena ibunya tidak mengizinkan. Ia mengatakan pertemuan dapat terjadi bila Liu menyiapkan mas kawin 300 ribu yuan (Rp 800,9 juta) dan membeli properti di Shanghai.
Dalam lima bulan, Liu mentransfer dana dalam beberapa kali pembayaran meski belum pernah bertemu langsung. Permintaan panggilan video berulang kali ditolak dengan alasan ibunya selalu berada di dekatnya.
Yu juga tidak pernah menindaklanjuti proyek teknik yang dijanjikan. Merasa janggal, Liu melapor ke polisi.
Penyelidikan mengungkap identitas asli Yu yang lahir pada 1961, tidak memiliki kualifikasi medis, dan bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah rumah sakit. Rekening yang dipakai menerima dana tercatat atas nama orang lain.
Advertisement
Modus AI di Balik Penyamarannya
Saat meninjau video-video Yu, polisi menemukan keterangan bertuliskan kecil di sejumlah unggahan yang berbunyi: "Karya ini berisikan konten yang dibuat oleh AI."
Yu menggunakan AI untuk mempercantik penampilan dan membangun citra dirinya sebagai dokter yang menarik melalui teknik penggabungan gambar.
Ia juga sesekali menyamar sebagai ibunya guna meyakinkan Liu bahwa hubungan mereka dihalangi orang tua.
Liu mengaku tidak pernah menyadari keterangan kecil tersebut dan tidak memiliki pemahaman terhadap AI.
Polisi menyebut uang hasil penipuan digunakan untuk operasi plastik, perawatan kulit, dan pakaian.
Yu sebelumnya pernah dihukum karena kasus penipuan dan dijatuhi hukuman empat tahun penjara pada 2009.
Baru-baru ini, kepolisian mempublikasikan kasus ini untuk memperingatkan masyarakat tentang pola penipuan kencan online yang memanfaatkan AI.
Menurut data Kementerian Keamanan Publik, dalam kurun setengah tahun, penipuan online dan telekomunikasi yang melibatkan 10 miliar yuan (Rp 26,6 triliun) terjadi di seluruh negeri. Hanya pada kuartal pertama tahun lalu, kasus yang menggunakan AI untuk mengganti wajah dan meniru suara melonjak 45 persen.
Di media sosial, warganet turut menanggapi.
"Wanita 65 tahun ini lebih jago menggunakan AI dibanding saya yang 35 tahun."
Komentar tersebut disampaikan oleh salah satu pengguna. Ada juga yang berpendapat bahwa Liu terjerat penipuan karena kerakusannya terhadap peluang bisnis.