Empat jejak kaki purba yang ditemukan di kawasan Hell Creek Formation, North Dakota, Amerika Serikat, diduga menjadi rangkaian jejak pertama yang diketahui berasal dari T-Rex dewasa. Dari rangkaian jejak sepanjang sekitar 7 meter itu, peneliti memperkirakan dinosaurus tersebut berjalan dengan kecepatan sekitar 1,6 meter per detik.
Jika dikonversikan, kecepatannya sekitar 5,8 kilometer per jam atau kurang lebih setara dengan langkah cepat manusia.
Temuan ini dipaparkan dalam Journal of Vertebrate Paleontology pada 8 September 2026 dan dilaporkan Science News pada 28 September 2026.
Advertisement
Mengapa jejak kaki T-Rex penting?
Selama ini, fosil T-Rex memang sudah banyak ditemukan. Namun, sebagian besar informasi berasal dari tulang atau jejak kaki tunggal. Masalahnya, satu jejak kaki hanya memberikan informasi terbatas.
Paleontolog Liverpool John Moores University, Peter Falkingham, menyebut selama ini catatan fosil memuat sejumlah jejak tunggal T-Rex dewasa, juga jejak yang mungkin milik T-Rex muda atau spesies lain. Ia menekankan nilai rangkaian jejak dibanding tapak tunggal.
"Namun, satu jejak kaki tidak bisa memberikan banyak informasi. Rangkaian jejak kaki bisa memberikan gambaran lebih jelas tentang penempatan kaki hewan tersebut ketika bergerak."
Advertisement
Bagaimana jejak tersebut ditemukan?
Jejak itu pertama kali ditemukan pada 2025 oleh Kent Hups, seorang guru sekolah menengah sekaligus pencari fosil. Hups menemukan jejak tersebut ketika mencari fosil di lereng curam kawasan Hell Creek.
Jejak pertama yang dilihatnya memiliki tiga jari dan berukuran sangat besar. Lebarnya mencapai sekitar 80 sentimeter.
Ukuran dan bentuknya membuat Hups menduga bahwa jejak tersebut berasal dari T-Rex.
Jejak tersebut menjadi terlihat karena material yang mengisi cekungan bekas telapak kaki mengalami erosi lebih lambat dibandingkan batuan di sekitarnya. Akibatnya, bagian yang sebelumnya terkubur perlahan muncul ke permukaan.
Advertisement
Mengapa peneliti yakin itu jejak T-Rex?
Dalam paleontologi, mengidentifikasi pemilik jejak kaki tidak selalu mudah.
Peneliti tidak melihat langsung hewan yang membuat jejak tersebut. Mereka harus mencocokkan bentuk jejak dengan anatomi kaki berbagai spesies yang diketahui hidup pada periode dan wilayah yang sama.
Dalam kasus ini, bentuk jejak yang relatif ramping, ukurannya yang sangat besar, serta keberadaan fosil T-Rex di kawasan tersebut menjadi sejumlah petunjuk.
Jejak itu diperkirakan dibuat sekitar 66 juta tahun lalu, menjelang akhir zaman dinosaurus.
Peter Falkingham mengatakan selalu ada kemungkinan bahwa spesies yang belum diketahui pernah meninggalkan jejak serupa. Namun, berdasarkan pengetahuan saat ini, T-Rex dianggap sebagai kandidat paling masuk akal.
Advertisement
Bagaimana cara menghitung kecepatan T-Rex?
Peneliti menggunakan panjang langkah dan perkiraan ukuran tubuh untuk memperkirakan kecepatan T-Rex.
Secara sederhana, semakin cepat seekor hewan bergerak, pola dan jarak langkahnya akan berubah. Hubungan antara panjang langkah, ukuran kaki, dan ukuran tubuh dapat digunakan untuk memperkirakan kecepatan ketika hewan tersebut berjalan.
Dari rangkaian jejak sepanjang sekitar 7 meter, peneliti memperoleh estimasi kecepatan sekitar 1,6 meter per detik. Angka tersebut setara dengan sekitar 5,8 kilometer per jam.
Artinya, T-Rex yang meninggalkan jejak tersebut tampaknya tidak sedang mengejar mangsa dengan kecepatan tinggi. Ia kemungkinan bergerak dengan kecepatan berjalan santai hingga sedang.
Advertisement
Apakah T-Rex berjalan seperti manusia?
Perkiraan 1,6 meter per detik merupakan hasil perhitungan berdasarkan jejak yang tersisa. Kondisi jejak yang tidak sempurna membuat angka tersebut memiliki tingkat ketidakpastian.
T-Rex yang sebenarnya bisa saja berjalan sedikit lebih cepat atau lebih lambat. Jejak kaki yang lebih terawetkan juga dapat memberikan informasi tambahan.
Misalnya, peneliti dapat mempelajari apakah telapak kaki T-Rex menyentuh tanah secara lebih datar atau apakah hewan tersebut mendaratkan kaki dari bagian depan menuju tumit.
Peneliti juga dapat mempelajari bagaimana bantalan kaki menopang tubuhnya yang sangat besar.
Advertisement
Kenapa harus ada beberapa jejak?
Bayangkan hanya menemukan satu jejak kaki manusia. Dari situ, kita mungkin bisa memperkirakan ukuran kaki dan tinggi badan orang tersebut.
Namun, jika ditemukan jejak kaki manusia yang membentuk lintasan, informasi yang diperoleh jauh lebih banyak. Kita bisa melihat panjang langkah, arah berjalan, perubahan posisi kaki, hingga memperkirakan kecepatannya.
Prinsip serupa berlaku pada dinosaurus. Rangkaian jejak membuat peneliti dapat melihat pergerakan, bukan sekadar bentuk kaki.
Itulah sebabnya rangkaian empat jejak T-Rex dewasa tersebut memberikan informasi yang tidak bisa diperoleh dari satu tapak saja.
Advertisement
Apakah masih ada jejak T-Rex lainnya?
Peneliti menduga masih ada jejak lain yang belum terlihat, bahkan kemungkinan terdapat jejak kelima yang masih tersembunyi di bagian bukit. Namun, tim memilih tidak menggali secara agresif dan membiarkan proses erosi alami membuka permukaannya.
Jika jejak tambahan ditemukan, rangkaian tersebut berpotensi memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai pola berjalan T-Rex.
Advertisement
Apa yang bisa dipelajari dari empat jejak ini?
Temuan tersebut menunjukkan bahwa fosil tidak selalu berupa tulang. Jejak yang tertinggal di tanah jutaan tahun lalu juga dapat menjadi "rekaman" perilaku hewan purba.
Dari empat tapak kaki yang membatu, ilmuwan dapat memperkirakan bagaimana seekor T-Rex dewasa bergerak sekitar 66 juta tahun lalu. Dan untuk sementara, rekonstruksinya cukup menarik: T-Rex yang meninggalkan jejak tersebut tampaknya tidak sedang berlari mengejar mangsa, melainkan berjalan dengan kecepatan sekitar 5,8 kilometer per jam.
Namun, penelitian belum berhenti di empat jejak. Jika erosi membuka jejak berikutnya, rangkaian tersebut mungkin akan membantu ilmuwan mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang cara salah satu predator paling terkenal dalam sejarah Bumi itu berjalan.