Jokowi Soroti Gagalnya Gencatan Senjata di Ukraina, Korban Jiwa & Konflik Kemanusiaan

Jokowi menuturkan perang merupakan persoalan ego tanpa melihat sisi kemanusiaan dan menonjolkan kepentingan serta kekuasaan.

Intan Umbari Prihatin
Oleh Intan Umbari Prihatin - Reporter
Jokowi Soroti Gagalnya Gencatan Senjata di Ukraina, Korban Jiwa & Konflik Kemanusiaan
Jokowi. Instagram: @jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti gagalnya kesepakatan gencatan senjata di Ukraina. Akibat hal itu, kata Jokowi menyebabkan bertambahnya korban jiwa hingga krisis kemanusiaan.

"Gagalnya kesepakatan gencatan senjata di Ukraina bukan hanya mendorong eskalasi konflik bersenjata tetapi semakin bertambahnya korban jiwa dan krisis kemanusian di Ukraina," kata Jokowi dikutip dalam akun twitternya, Selasa (8/3).

Jokowi menuturkan perang merupakan persoalan ego tanpa melihat sisi kemanusiaan dan menonjolkan kepentingan serta kekuasaan. Terlihat dari perang itu kata Jokowi terdapat 1,2 juta orang mengungsi.

"Menurut UNHCR, sudah 1,2 juta orang harus mengungsi ke negara lain karena perang di Ukraina," ungkapnya.

Jokowi berharap konflik Ukraina-Rusia segera bisa diakhiri agar tidak terjadi krisis pengungsian besar-besaran.

"Apabila krisis berlanjut niscaya akan terjadi “krisis pengungsi terbesar sepanjang abad”. Inilah yang harus kita sama-sama cegah agar jangan sampai terjadi," pungkasnya.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba menyampaikan Ukraina ingin pembicaraan langsung antara Presiden Volodymyr Zelenskiy dan Presiden Rusia Vladimir Putin karena Kiev tahu Putin yang menyerukan penyerangan di Moskow.

"Kami sejak lama ingin pembicaraan langsung antara Presiden Ukraina dan Vladimir Putin, karena kami semua tahu dia yang menetapkan keputusan final, khususnya saat ini," jelasnya dalam pidato yang disiarkan televisi, dilansir Reuters

"Presiden kami tidak takut pada apapun, termasuk bertemu langsung dengan Putin," lanjut Kuleba.

"Jika Putin juga tidak takut, biarkan dia datang ke pertemuan tersebut, biarkan dia duduk dan berbicara," pungkasnya.

Ukraina dan Rusia telah bertemu dua kali sejak invasi dilancarkan Moskow pada 24 Februari. Dan rencananya akan digelar negosiasi ketiga.

Rekomendasi