Sudah sepekan sejak kerusuhan terjadi di Gedung Parlemen Amerika Serikat atau US Capitol dan tinggal beberapa hari jelang Joe Biden resmi menjabat sebagai Presiden AS.
Pendukung sayap kanan Presiden Donald Trump menerobos US Capitol pada 6 Januari lalu, mengejutkan seluruh dunia.
Washington, DC masih dalam keadaan siaga di tengah unjuk rasa yang terus berlanjut dan penegak hukum terus menyelidiki lebih dari 170 berkas kasus terkait penyerbuan di Gedung Capitol itu.
Pada konferensi pers Selasa sore, asisten direktur FBI yang bertanggung jawab atas kantor lapangan Washington, Steven D'Antuono, mengatakan kepada wartawan, lebih dari 70 dakwaan telah diajukan terhadap tersangka peserta penyerbuan US Capitol.
Tuntutan ini berkisar dari sebagian besar pelanggaran ringan seperti pelanggaran jam malam yang didakwa di Pengadilan Tinggi DC hingga perilaku tidak tertib dan pidana berat yang diajukan di Pengadilan Distrik AS untuk DC, di mana umumnya jaksa mengajukan hukuman yang lebih lama.
Pada Selasa, penjabat Jaksa Agung untuk DC, Michael Sherwin, mengatakan saat konferensi pers, dakwaan ini diperkirakan akan bertambah menjadi ratusan.
"Mengingat banyaknya pelaku yang kami lihat, kisaran tindakan kriminal tidak tertandingi," ujarnya, dikutip dari Aljazeera, Kamis (14/1).
Sherwin mengatakan satu satgas dilibatkan dalam menyelidiki tuduhan konspirasi dan hasutan, yang terancam hukuman maksimal hingga 20 tahun penjara.
Advertisement
D'Antuono mengatakan, meskipun beberapa tersangka perusuh telah meninggalkan DC, pihak berwenang telah menerima lebih dari 100.000 gambar dan video digital sebagai petunjuk dan agen lapangan setempat dapat menangkap tersangka.
Ribuan perusuh merupakan pendukung Trump yang datang ke DC dari seluruh AS untuk demo karena dihasut teori konspirasi kecurangan pemilu.
Mereka mendengarkan pidato Trump yang mengatakan dia ingin berparade bersama mereka menuju Capitol.
Anggota parlemen dari Demokrat menuduh Trump melakukan penghasutan dalam pasal pemakzulan yang diajukan ke DPR karena pidatonya dan retorika lainnya.
Sebelumnya Trump mengatakan pemakzulan sebelum dia meninggalkan jabatannya "berbahaya" bagi AS.
Tokoh ternama sayap kanan dan gerakan nasionalis kulit putih tertangkap kamera berada di dalam Capitol saat penyerbuan Rabu lalu, termasuk nasionalis kulit putih Tim Gionet, yang dikenal dengan "Baked Alaska", dan Jake Angeli, penganut teori konspirasi QAnon yang memakai tanduk dan topi bulu, yang memiliki nama resmi Jacob Anthony Chansley dan dilaporkan sebagai veteran Angkatan Laut AS.
Chansley ditangkap pada Sabtu dan telah didakwa.
Richard Barnett, pria yang difoto di dalam kantor Ketua DPR Nancy Pelosi, ditangkap pada Jumat. Di Facebook, Barnett menggambarkan dirinya sebagai seorang nasionalis kulit putih, seperti dilaporkan Business Insider.
Anggota Proud Boys garis keras juga terlihat dalam kerusuhan tersebut, dan beberapa telah ditangkap, termasuk pemimpinnya Henry “Enrique” Tarrio, yang diperintahkan untuk meninggalkan DC sebelum demonstrasi berujung pemberontakan.
Namun, petugas polisi, militer AS dan bahkan pejabat terpilih dianggap terlibat dalam kerusuhan itu, bersama dengan banyak warga sipil
Dua petugas Kepolisian Capitol, satu yang berswafoto dengan para penyerang dan lainnya yang memakai topi "Make America Great Again", telah diskors. Sekitar belasan lagi sedang dalam penyelidikan internal, kata anggota parlemen.
Seorang perwira militer aktif telah mengundurkan diri menunggu penyelidikan atas aksinya selama kerusuhan.
Pejabat terpilih negara bagian dari Republik - Derrick Evans, mantan delegasi dari Dewan Delegasi Virginia Barat, dan anggota parlemen dari Pennsylvania Doug Mastriano - menyambut baik protes itu.
Advertisement
FBI telah memperingatkan unjuk rasa bersenjata direncanakan di seluruh 50 negara bagian dan DC.
"Unjuk rasa bersenjata sedang direncanakan di seluruh Capitol 50 negara bagian dari 16 Januari sampai sekurangnya 20 Januari dan di US Capitol dari 17.Januari sampai 20 Januari," jelas FBI dalam sebuah memo yang dikirim ke penegak hukum seluruh negeri.
FBI juga menelusuri "berbagai ancaman untuk melukai Presiden Terpilih Joe Biden menjelang pelantikan".
Memo itu juga mengatakan "laporan mengindikasikan ancaman terhadap Wapres Terpilih (Kamala) Harris dan Ketua DPR Pelosi".
Di Mana Pihak Keamanan?
Butuh waktu berjam-jam bagi militer AS untuk merespons penyerbuan Capitol, menurut sebuah surat yang ditandatangani oleh Senator AS.
Kurangnya pengamanan di bangunan vital itu menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan pengamanan jika terjadi upaya lebih lanjut untuk menyerbu gedung federal dan pelantikan Biden.
Mantan penjabat Menteri Keamanan Dalam Negeri Chad Wolf menandatangani perintah pada Senin yang mengatakan bahwa dia "menginstruksikan Dinas Rahasia AS untuk memulai operasi Acara Keamanan Khusus Nasional untuk Pelantikan 2021 yang efektif pada Rabu, 13 Januari, bukan 19 Januari".
Trump, yang semakin mendapat kecaman dan tekanan politik sejak pidatonya sebelum kerusuhan, mengesahkan Deklarasi Darurat Distrik Columbia pada Senin malam yang memungkinkan Badan Manajemen Darurat Federal "untuk mengidentifikasi, memobilisasi, dan memberikan pengarahan, peralatan, dan sumber dayanya yang diperlukan untuk mengurangi dampak darurat" dari 11 Januari sampai 24 Januari.
Sekitar 10.000 pasukan Garda Nasional disiapkan untuk pengamanan ekstra di DC menjelang pelantikan Biden pada 20 Januari.
Garda Nasional, cabang dari Angkatan Darat AS, juga akan membantu penegakan hukum di seluruh AS. Hal ini disampaikan Kepala Biro Garda Nasional, Jenderal Angkatan Darat Daniel Hokanson kepada wartawan pada Senin.
"Kami terus memeriksa seluruh negeri untuk memastikan bahwa kami memantau, dan bahwa pasukan kami di setiap negara bagian berkoordinasi erat dengan lembaga penegak hukum setempat untuk memberikan dukungan apa pun yang diminta," jelasnya.