Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, Jawa Timur, mengambil langkah strategis guna menjaga keberlanjutan produksi budidaya ikan air tawar. Optimalisasi teknologi aerator menjadi salah satu upaya utama yang dilakukan. Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi dampak musim kemarau yang berpotensi menurunkan produktivitas perikanan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, menjelaskan pentingnya penggunaan aerator. Menurutnya, alat ini berfungsi menjaga pasokan kadar oksigen dalam kolam budidaya. Kadar oksigen yang stabil sangat krusial untuk mencegah terjadinya kematian massal ikan.
Selain optimalisasi aerator, dinas terkait juga menyiapkan berbagai langkah mitigasi lainnya. Upaya ini termasuk intensifikasi pendampingan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Tujuannya adalah untuk mencegah penurunan produktivitas perikanan budidaya secara menyeluruh.
Advertisement
Advertisement
Untuk mengantisipasi dampak negatif dari kemarau, Pemkab Malang fokus pada penggunaan aerator ikan air tawar. Aerator memastikan kadar oksigen dalam kolam budidaya tetap optimal. Hal ini krusial untuk mencegah gagal panen yang disebabkan oleh kekurangan oksigen.
Dinas Perikanan Kabupaten Malang juga mengintensifkan pendampingan penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Selain itu, pemantauan kualitas air secara berkala menjadi prioritas. Penggunaan bibit unggul dengan tingkat kelangsungan hidup tinggi turut menjadi bagian dari strategi ini.
Inovasi teknologi seperti bioflok dan recirculating aquaculture system (RAS) juga didorong penerapannya. Penguatan kapasitas pembudidaya melalui bimbingan teknis budidaya terus dilakukan. Ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pelaku usaha perikanan.
Advertisement
Victor Sembiring menambahkan, pihaknya memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan. Koordinasi lintas sektor juga dilakukan untuk mendapatkan dukungan pengelolaan sumber daya air yang diperlukan. Semua upaya ini terintegrasi untuk menjaga produksi perikanan.
Advertisement
Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Malang, produksi perikanan budidaya menunjukkan capaian signifikan. Pada semester I 2026, terhitung dari Januari hingga Juni, produksi mencapai 6.301,5 ton. Angka ini merupakan bagian dari target tahunan yang lebih dari 13 ribu ton.
Komoditas budidaya ikan air tawar yang menjadi unggulan di Kabupaten Malang adalah lele. Total produksi lele pada periode tersebut mencapai 3.550 ton. Angka ini menunjukkan dominasi lele dalam sektor perikanan budidaya di wilayah tersebut.
Sentra budidaya ikan air tawar untuk komoditas lele tersebar di tujuh wilayah kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut meliputi Turen, Ngajum, Wajak, Pagelaran, Sumberpucung, Wagir, dan Karangploso. Sebaran ini menunjukkan potensi besar pengembangan lele di berbagai daerah.
Advertisement
Advertisement
Jumlah pembudidaya ikan di Kabupaten Malang mengalami peningkatan sepanjang tahun 2026. Tercatat sebanyak 3.949 orang terlibat dalam kegiatan budidaya. Angka ini meningkat dari 3.909 orang pada tahun 2025, menunjukkan pertumbuhan minat masyarakat.
Peningkatan jumlah pelaku budidaya ikan air tawar ini didorong oleh tumbuhnya minat masyarakat dalam menjalankan bisnis budidaya. Victor Sembiring menyatakan bahwa sektor ini semakin menarik perhatian sebagai peluang ekonomi. Hal ini berkontribusi pada peningkatan produksi secara keseluruhan.
Produksi budidaya ikan dari Kabupaten Malang tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat lokal. Ikan-ikan tersebut juga dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur. Pasar meliputi Batu, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, Blitar, Kediri, dan Kota Malang.
Advertisement
Sekitar 20 persen hingga 30 persen dari total produksi budidaya dipasarkan ke luar Kabupaten Malang. Ini menunjukkan jangkauan pasar yang luas dan potensi ekonomi yang signifikan. Diversifikasi pasar membantu stabilitas harga dan pendapatan pembudidaya.
Sumber: AntaraNews