Bloomberg News belum lama ini mengungkap komunikasi internal Boeing, produsen pesawat asal Amerika Serikat, yang berisi reaksi pegawai mereka ketika Lion Air memohon ada tambahan pelatihan bagi pilot sebelum mereka menerbangkan 737 Max.
Dokumen yang berisi komunikasi itu diperoleh Bloomberg dari Komite Transportasi Perumahan dan Infrastruktur. Pernyataan pegawai Boeing itu terjadi satu tahun sebelum pesawat Lion Air JT610 jatuh di perairan Karawang Oktober 2018 dan menewaskan 189 penumpang. Menurut sumber yang mengetahui kasus ini, pembicaraan orang Boeing itu terjadi di bulan yang sama ketika Lion Air memohon ada pelatihan simulator bagi pilot mereka sebelum 737 Max diperkenalkan.
"Sekarang si Lion Air sialan itu butuh simulator untuk menerbangkan MAX, dan mungkin itu karena kebodohan mereka sendiri. Sekarang saya kerepotan mengurusi mereka ini. Idiot," tulis seorang pegawai Boeing dalam pesannya pada Juni 2017, seperti dilansir laman Sputnik News, Selasa (14/1).
"Apa-apaan ini! Maskapai anak usaha mereka padahal sudah menerbangkan MAX! jawab seorang rekannya merujuk maskapai Malindo Air yang berbasis di Malaysia.
Advertisement
Pelatihan simulator yang cukup mahal itu seharusnya akan membuat pilot lebih mengenal sistem tambahan karakteristik manuver pesawat (MCAS) yang merupakan fitur baru di 737 Max dan menjadi biang keladi penyebab jatuhnya Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines 302.
Namun pihak Boeing meyakinkan Lion Air bahwa pilot mereka tidak butuh pelatihan tambahan jika sudah pernah menerbangkan pesawat model 737 lain meski ada fitur baru MCAS. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengatakan dalam "Laporan Penyelidikan Jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610," petunjuk manual penerbangan dan pelatihan untuk awak kabin tidak menyertai informasi soal MCAS.
Advertisement
Kalimat pegawai Boeing itu masuk dalam laporan 100 halaman komunikasi internal Boeing yang diserahkan kepada Badan Penerbangan Federal dan anggota parlemen.
Meski sejumlah komunikasi sudah dihapus namun Boeing mendapat kecaman lantaran perilaku para pegawainya dan kedekatan Boeing dengan badan Penerbangan Federal.
"Kasus ini selalu kembali ke titik yang sama: Boeing ingin meningkatkan penjualan pesawat untuk meraup keuntungan dan arus kas mereka sementara masalah keselamatan diperlakukan sebagai sesuatu yang akan muncul sendiri tanpa perlu ditangani serius," ujar Robert Clifford, pengacara yang mewakili keluarga korban jatuhnya Ethiopian Airlines kepada Bloomberg.