Presiden sementara Venezuela Nicola Maduro terlihat sedikit kecewa saat berkata pada publik. Dia sembari mengakui jenazah sang komandan Hugo Chavez sulit untuk dibalsem seperti halnya pemimpin dunia lain macam Lenin. Padahal para ahli terbaik dari Jerman maupun Rusia telah didatangkan dan ilmuwan-ilmuwan ini pesimis jenazah Chavez bisa abadi. Pembalseman tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu lama dan proses yang hati-hati. Masalahnya keputusan mengabadikan jenazah sang komandan terlalu terburu-buru.
Dalam waktu dua hari setelah kematian Chavez, Maduro berinisiatif membalsem dia agar bisa menginspirasi seluruh rakyat Venezuela. "Harusnya keputusan dibuat sejak awal hingga bisa mempersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya," ujar Maduro seperti dilansir dari CNN (13/3). Selain itu tubuh tambun Chavez juga menjadi kendala lantaran pembalseman kurang efektif jika jaringan kulit terlalu menumpuk lemak. Maduro sengaja memberitahukan pada rakyat Venezuela agar mengerti pembalseman ini dibatalkan.Namun harapan tetap ada. Beberapa orang ahli pembalseman mayat menawarkan diri untuk mengawetkan jenazah Chavez. Termasuk asal Filipina, Frank Malabed. Dilansir dari situs asiaone.com (14/3), Malabed mengaku sudah sering membalsem beberapa mayat orang ternama di Filipina. Dia mengaku belum dihubungi pihak Chavez. "Saya berharap bisa dihubungi. Saya mampu membalsem siapa saja dan dimana saja," ujar Malabed.Lelaki 62 tahun itu mengatakan jika pemerintah Venezuela masih sangat menginginkan pembalseman Chavez terjadi harus mulai dari sekarang jangan ditunda karena prosesnya bakal lebih sulit lagi. Malabed mengatakan tidak akan membalsem Chavez dengan cara sama saat Lenin dibalsem. Bila Lenin menggunakan resin seperti membuat balok es, Malabed akan menyuntik sebuah cairan ke arteri dan menguras pembuluh darahnya hingga mayat terjadi pembusukan di dalam namun tetap terlihat baik di luar.Apapun metode itu keduanya mempunyai syarat yang sama. Tidak terlalu lama menyimpan jenazah Chavez.