Presiden China Xi Jinping kembali bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam kunjungan selama tiga hari ke Washington DC. Pertemuan ini menjadi sorotan karena menjadi pertemuan kedua kalinya dalam satu tahun, setelah sebelumnya Trump berkunjung ke Beijing pada Mei 2026.
Lantas, apa saja yang dibahas kedua pemimpin negara tersebut?
Advertisement
Trump Sambut Langsung Xi Jinping
Dikutip dari Al Jazeera, Xi tiba di Joint Base Andrews, pangkalan militer di luar Washington DC, pada Rabu (23/9/2026). Kedatangannya disambut langsung oleh Trump bersama istrinya, Melania Trump. Trump dan Xi bersama istri masing-masing berjabat tangan, berbincang selama beberapa menit, kemudian berfoto bersama. Penyambutan tersebut berlangsung dengan penampilan band militer, dentuman meriam, hingga penerbangan pesawat pembom militer B-1 di atas lokasi.
Menurut media AS, ini menjadi pertama kalinya dalam 11 tahun seorang presiden AS menyambut pemimpin asing di pangkalan militer tersebut.
Presiden AS Donald Trump diketahui tidak selalu menyambut langsung pemimpin negara yang berkunjung ke Amerika Serikat di bandara. Misalnya, saat Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung tiba di Joint Base Andrews pada Agustus 2025, ia disambut pejabat AS dan bukan Trump.
Hal serupa terjadi saat Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. juga disambut pejabat masing-masing negara dan pejabat AS sebelum kemudian bertemu Trump di agenda resmi.
Pertemuan Trump dan Xi di Washington merupakan pertemuan kedua mereka pada 2026. Sebelumnya, Trump melakukan kunjungan ke Beijing pada Mei 2026 dan bertemu Xi. Dengan demikian, dalam tahun yang sama, kedua pemimpin negara tersebut saling melakukan kunjungan untuk bertemu secara langsung.
Rangkaian pertemuan tersebut menjadi perhatian karena kunjungan timbal balik pemimpin AS dan China dalam satu tahun ini disebut memiliki arti historis. Reuters menyebut kunjungan Xi ke AS kali ini menandai pertemuan timbal balik kedua pemimpin dalam waktu enam bulan.
Dikutip dari Liputan 6, Yun Sun, peneliti senior sekaligus direktur China Program di Stimson Center, mengatakan kunjungan Xi ke AS sebagai sesuatu yang "belum pernah terjadi". Menurutnya, tidak pernah ada dalam sejarah hubungan AS-China ketika pemimpin tertinggi kedua negara saling berkunjung dalam satu tahun yang sama.
Advertisement
Apa yang Dibahas Trump dan Xi?
Pertemuan Trump dan Xi berlangsung ketika hubungan AS-China masih menghadapi sejumlah persoalan. Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain perdagangan, AI, Taiwan, hingga stabilitas hubungan kedua negara.
Salah satu pembahasan penting adalah perdagangan. Sebelumnya, AS dan China memiliki kesepakatan gencatan tarif yang memberikan waktu bagi kedua negara untuk meredakan perang dagang.
Kesepakatan tersebut awalnya dijadwalkan berakhir pada 10 November 2026. Namun, AS dan China sepakat memperpanjang masa berlaku kesepakatan tersebut hingga 10 Januari 2027. Perpanjangan ini memberikan tambahan waktu bagi kedua negara untuk melanjutkan pembicaraan mengenai perdagangan dan tarif.
Selain perdagangan, Trump dan Xi juga membahas persaingan teknologi, khususnya AI. Kedua negara saat ini sama-sama menjadi kekuatan besar dalam pengembangan teknologi tersebut sehingga aturan, keamanan, dan penggunaan AI menjadi bagian dari agenda pembicaraan.
Advertisement
Xi Jinping Singgung "Jebakan Thucydides"
Dalam pertemuan dengan Trump, Xi Jinping juga menyinggung istilah "Jebakan Thucydides" atau Thucydides Trap.
Secara sederhana, istilah ini menggambarkan kondisi ketika kekuatan yang sedang berkembang mulai menantang kekuatan yang sudah lebih dulu dominan. Konsep tersebut berasal dari catatan sejarawan Yunani kuno Thucydides mengenai persaingan Athena dan Sparta.
Dikutip dari Liputan 6, istilah “Jebakan Thucydides” merujuk pada fenomena yang dijelaskan sejarawan Yunani Thucydides mengenai ketegangan yang muncul ketika kekuatan yang sedang berkembang mulai menantang dominasi kekuatan yang telah mapan.
Dalam hubungan internasional modern, istilah tersebut sering digunakan untuk menggambarkan persaingan antara China sebagai kekuatan yang terus berkembang dan AS sebagai kekuatan global yang telah lama dominan.
Xi menekankan bahwa China dan AS seharusnya hidup berdampingan secara damai. Menurutnya, kedua negara sama-sama mendapatkan keuntungan dari kerja sama, sementara konfrontasi justru dapat merugikan kedua pihak.
Xi juga menyerukan agar militer kedua negara mempertahankan komunikasi secara rutin serta meningkatkan mekanisme komunikasi dan pencegahan krisis.
Advertisement
Xi Beri Trump Dua Panda dan Undang 100.000 Pelajar AS dalam Pertukaran Pelajar
Di tengah persaingan kedua negara, Xi juga membawa sejumlah simbol persahabatan.
Dilansir dari The Hill, Xi mengumumkan rencana pemberian dua panda raksasa kepada Amerika Serikat. Panda selama ini kerap digunakan China sebagai simbol persahabatan dalam hubungan diplomatik dengan negara lain.
Selain panda, Xi juga mengundang hingga 100.000 pelajar Amerika Serikat untuk belajar di China dalam lima tahun ke depan.
Menurut Xi, hubungan AS-China tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga masyarakat dan generasi muda. Pertukaran pelajar tersebut menjadi salah satu cara untuk meningkatkan hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Advertisement
Kilas Balik Perang Tarif Trump dan Xi
Hubungan Trump dan Xi tidak selalu berlangsung dalam suasana kerja sama. Pada 2025, keduanya sempat terlibat dalam perang tarif yang membuat AS dan China saling menaikkan bea masuk terhadap produk masing-masing.
Ketegangan tersebut meningkat pada April 2025 ketika AS dan China menerapkan tarif yang sangat tinggi terhadap barang dari masing-masing negara. Berikut merupakan kronologi Perang Tarif AS-China, seperti yang dilansir pada Liputan 6:
- 3 April 2025 – Trump mengumumkan tarif 20% atas lebih dari 1.300 produk China (alat medis, elektronik, komponen industri), dengan alasan melindungi kekayaan intelektual AS dan menekan defisit dagang.
- 8 April 2025 – Trump mengancam tarif tambahan 50% jika China tidak menarik tarif balasannya, yang berpotensi membuat total tarif tembus 104%. China membalas dengan tarif atas barang AS senilai USD 50 miliar (kedelai, pesawat, mobil, produk pertanian), sambil menegaskan tidak ingin perang dagang tapi "tidak akan tinggal diam".
- 9 April 2025 – AS resmi menaikkan tarif atas barang China menjadi 104%. China membalas dengan menaikkan tarifnya dari 34% menjadi 84%, berlaku mulai 10 April.
- 10 April 2025 – Tarif 104% AS mulai berlaku. Trump lalu mengumumkan rencana menaikkan lagi tarif menjadi 125%, sebagai respons atas kenaikan tarif China ke 84%.
- 12 April 2025 – China kembali membalas dengan menaikkan tarif atas barang AS dari 84% menjadi 125%, menyebut eskalasi lebih lanjut oleh AS "tidak masuk akal secara ekonomi".
- Kesepakatan (Mei 2025) – Setelah perundingan di Jenewa, Gedung Putih mengumumkan tercapainya kesepakatan dagang dengan China.
Hubungan perdagangan kemudian memasuki fase gencatan tarif. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu hal yang kembali dibahas dalam pertemuan Trump dan Xi pada September 2026.
Dengan demikian, pertemuan Trump dan Xi kali ini bukan sekadar pertemuan dua kepala negara. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk menjaga komunikasi di tengah persaingan perdagangan dan teknologi yang masih berlangsung.