Cerita Kecil Guruh Main Bareng Anak Tukang Kebun hingga Koki di Istana

Kepergian maestro seni ini meninggalkan cerita tersendiri sebagai salah satu anak presiden saat mengisi Istana Negara.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Cerita Kecil Guruh Main Bareng Anak Tukang Kebun hingga Koki di Istana
Foto perayaan ulang tahun Hj. BRA. Mooryati Soedibyo, S.S., M. Hum. yang ke 88 (Deki Prayoga/bintang.com)

Anak bungsu Presiden pertama Republik Indonesia (RI), Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu (26/9) pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit Siloam, Jakarta. Guruh dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, Sabtu (26/9).

Kepergian maestro seni ini meninggalkan cerita tersendiri sebagai salah satu anak presiden saat mengisi Istana Negara. Kendati menjadi anak seorang presiden, Guruh mengisahkan masa kecilnya yang dididik untuk terus dekat dengan rakyat oleh kedua orang tuanya, Soekarno dan Fatmawati.

Hal itu diceritakan Guruh saat diskusi sejarah lisan sebagai sumber sejarah dan materi film dokumenter tentang Presiden Soekarno digelar oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Untuk melengkapi narasi tentang Presiden pertama RI tersebut dari kisah-kisah dituturkan oleh anggota keluarganya.

"Waktu taman kanak-kanak (TK), di halaman Istana Merdeka ada gazebo antara Istana Merdeka dan Istana Negara, di situlah dijadikan TK, dan teman saya itu mulai dari pegawai rendahan sampai yang tinggi, misalnya anak-anak tukang kebun, koki, pelayan istana, hingga menteri, duta besar, dan pegawai sekretariat negara," kata Guruh dalam diskusi daring di Jakarta, Senin (26/2/2024).

Guruh mengaku berkehidupan seperti anak pada umumnya di Istana Merdeka. Tidak ada rasa berlebih sebagai anak presiden. Rasa itu karena didikan kedua orang tua.

"Kehidupan di Istana Merdeka itu, saya merasa biasa-biasa saja, dan merasa bersyukur sampai sekarang atas cara orang tua kami mendidik, baik ibu maupun bapak. Saya merasa dari kecil, tidak ada perasaan lain sebagai anak Presiden, biasa saja," ujar dia.

Guruh Soekarnoputra
Guruh Soekarnoputra (Istimewa)

Namun Guruh menuturkan, salah satu hal membuat merasa berbeda sebagai anak Sang Proklamator tersebut, yakni kehidupan yang terikat dengan protokoler.

"Bedanya hanya apa yang dilakukan oleh orang tua saya, karena itu sudah jadi aturan negara, saya dari lahir sampai keluar istana, kehidupan saya terikat dengan protokol, tetapi hal tersebut membuat kami merasa dididik menjadi orang yang rendah hati," tutur dia.

Bukan hanya terikat protokoler, Guruh juga mengaku, sejak duduk di bangku TK hingga SD, sudah memiliki kesadaran bahwa rumah ditinggali bukanlah rumah pribadi kedua orang tuanya, melainkan rumah negara.

"Kalau di masa kecilnya anak-anak suka corat-coret tembok, kami (anak-anak Soekarno dan Fatmawati) sudah mengerti bahwa untuk menjaga bapak/ibu, kami tidak boleh terlalu bagaimana-bagaimana begitu, enggak enaknya kami memang seperti hidup dalam sangkar, begitu turun dari tangga istana menuju taman, itu sudah harus ada yang 'menguntit' atau mengawal," kata Guruh, sebagaiman dilansir dari Antara.

Rekomendasi