Ekspor minyak mentah Arab Saudi pada September 2026 melonjak ke level tertinggi sejak perang AS–Iran memanas, menurut perusahaan intelijen perdagangan Kpler, dikutip dari CNBC. Level tersebut disebut kembali sejalan dengan rata-rata bulanan tahun 2025, meski kenaikan terjadi di tengah eskalasi konflik dengan militan yang didukung Iran.
Pemerintah Arab Saudi sebelumnya menutup sementara jalur pipa minyak East–West akibat kerusakan dari serangan drone yang berasal dari Irak pada 10 September. Pipa ini selama ini berfungsi sebagai katup pengaman pasar untuk mengalihkan ekspor dari wilayah timur menuju terminal Laut Merah di Yanbu, sehingga tidak perlu melintasi Selat Hormuz.
Setelah insiden tersebut, ekspor minyak mentah kembali dialihkan melalui Selat Hormuz. Langkah ini mengikuti keputusan militer Amerika Serikat yang membuka rute pelayaran baru yang dinilai relatif lebih aman di sepanjang pesisir Oman. Meski demikian, risiko tetap ada karena Iran terus mengincar kapal tanker yang melintas.
"Peningkatan ekspor dari kawasan Teluk ini merupakan konsekuensi dari gangguan jalur pipa, tetapi kemungkinan juga menandakan kepercayaan yang lebih besar dalam menggunakan Selat Hormuz seiring meningkatnya lalu lintas kapal," ujar Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, dikutip dari CNBC, Sabtu (26/9/2026).
Advertisement
Lonjakan Ekspor Arab Saudi Hampir 80 Persen
Data Kpler menunjukkan pengiriman minyak Arab Saudi pada September melonjak hampir 80 persen dibandingkan Agustus yang hanya berada di angka 3,4 juta barel per hari.
Berdasarkan data CNBC, ekspor minyak mentah Arab Saudi sempat stabil di kisaran 5,7 juta hingga 6,5 juta barel per hari sepanjang akhir 2024 hingga awal 2025. Bahkan, posisinya sempat menyentuh rekor sekitar 7,5 juta barel per hari sebelum perang AS–Iran pecah.
Begitu perang dimulai pada 28 Februari, ekspor anjlok ke kisaran 4 juta hingga 4,6 juta barel per hari, lalu terus merosot hingga menyentuh titik terendah 3,4 juta barel per hari jelang serangan drone.
Kebangkitan ke level 6 juta barel per hari pada September ini menjadi pencapaian tertinggi sejak perang meletus dan menandai kembalinya volume ke kisaran rata-rata tahun 2025.
Advertisement
Harga Brent dan Arus Minyak Lewat Hormuz
Ancaman pasokan akibat penutupan jalur pipa sempat mendorong harga minyak mentah Brent mendekati US$ 110 per barel atau sekitar Rp 1.971.200 (asumsi kurs Rp 17.920 per dolar AS). Namun, harga kembali melandai seiring meningkatnya keyakinan investor bahwa gangguan tidak sebesar yang dikhawatirkan.
Di sisi lain, arus pengapalan minyak melalui Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih. Rata-rata ekspor lewat Hormuz berada di sekitar 13,2 juta barel per hari dalam sepekan terakhir, masih di bawah level normal 17 juta barel per hari sebelum konflik.
Sumber industri menyebut jalur pipa East–West sudah beroperasi kembali secara bertahap dengan volume rendah sejak awal pekan ini, meski pihak Arab Saudi belum memberikan konfirmasi resmi.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menegaskan durasi gangguan biasanya singkat. "Gangguan sementara pada infrastruktur biasanya berlangsung dalam hitungan hari, bukan pekan atau bulan pada setiap kejadian," ujar Nasser.