Presiden China Xi Jinping menyerukan perluasan kerja sama dengan Amerika Serikat untuk menghindari potensi benturan yang ia sebut sebagai “jebakan Thucydides”, di tengah meningkatnya ketegangan terkait kecerdasan buatan (AI), perdagangan, dan Taiwan. Pesan itu ia sampaikan saat membuka pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
Dikutip dari The Guardian, Jumat (25/6/2026), Xi memaparkan serangkaian prasyarat guna membangun saling pengertian agar persaingan kedua negara tidak meluas menjadi konflik militer, melainkan diarahkan menuju hubungan yang saling menguntungkan.
Alih-alih konfrontasi, Xi menyebut tujuan “peremajaan besar bangsa China” dapat berjalan seiring dengan upaya “membuat Amerika kembali hebat”.
“Kita harus memperkuat komunikasi. China dan Amerika Serikat memiliki kondisi nasional yang berbeda, tetapi melalui dialog yang jujur, mendalam, dan berkelanjutan, kedua negara dapat lebih memahami satu sama lain, mencari kesamaan sembari menyisihkan perbedaan, serta membangun kepercayaan,” kata Xi.
“Kita harus hidup berdampingan dalam damai. China dan Amerika Serikat, sebagai dua negara besar, akan sama-sama memperoleh manfaat dari kerja sama dan sama-sama rugi dalam konfrontasi,” ujar Xi.
“Militer kedua negara harus menjaga dialog secara rutin dan meningkatkan mekanisme komunikasi serta pencegahan krisis,” lanjutnya.
Xi menambahkan, dengan langkah-langkah tersebut “jebakan Thucydides dapat diatasi”. Istilah itu merujuk pada ketegangan yang muncul ketika kekuatan yang tengah naik menantang dominasi kekuatan yang sudah mapan. Ia pernah menyinggung istilah yang sama saat bertemu Trump di Beijing pada Mei, ketika menanyakan bagaimana AS berencana menghindarinya.
Untuk meredakan suhu persaingan, Xi juga mengajak 100.000 anak muda Amerika mengikuti program pertukaran pelajar ke China. Gagasan ini disampaikan di tengah kompetisi sengit kedua negara di bidang AI dan perdagangan, saat kedua pihak masih saling memberlakukan tarif.
Sebelumnya, Trump menyambut Xi dan istrinya, Peng Liyuan, di Gedung Putih. Ia menyebut Xi sebagai pemimpin China pertama yang melakukan kunjungan kenegaraan kedua ke AS setelah lawatan tahun 2015 ketika Barack Obama menjabat.
“Presiden Xi dan Madame Peng tiba pada momen penting bagi Amerika, yakni peringatan 250 tahun berdirinya negara kami,” kata Trump.
Trump juga menuturkan telah membangun “persahabatan yang benar-benar hebat” dengan Xi. “Presiden Xi dan saya telah membuat kemajuan luar biasa dalam berbagai persoalan yang dihadapi kedua negara kami,” ujar Trump. Ia menambahkan, tim kedua negara bekerja untuk menyeimbangkan hubungan dagang, termasuk membuka akses pasar baru bagi petani dan peternak AS, serta membahas isu keamanan, teknologi, dan AI yang ia sebut “super intelligence”.
Advertisement
Xi Soroti Hubungan Pribadi dengan Trump
Di hadapan Trump, Xi menyinggung hubungan personal keduanya yang disebut saling menghormati dan terus terjalin komunikasi.
“Presiden Trump dan saya saling menghormati. Kami telah membangun hubungan pribadi dan tetap berkomunikasi,” kata Xi.
Ia menegaskan kesiapan bekerja sama menjaga stabilitas arah hubungan bilateral. “Dalam kunjungan Anda ke China tahun ini, kita sepakat untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif dengan stabilitas strategis. Saya siap bekerja sama dengan Anda untuk mengarahkan kapal besar hubungan China-AS pada jalur yang stabil menuju masa depan,” ujarnya.
Upacara penyambutan di Gedung Putih berlangsung setelah langkah tidak biasa dari Trump yang datang langsung ke Pangkalan Angkatan Udara Andrews di Maryland pada malam sebelumnya untuk menyambut Xi dan Peng Liyuan di landasan.
Prosesi serupa kembali digelar pada Kamis, dengan lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan. Trump didampingi istrinya, Melania Trump, sementara anggota kabinet dan para penasihat senior turut menyaksikan.
Setelah upacara penyambutan dan pidato, kedua pemimpin melanjutkan pembicaraan bilateral.
Advertisement
Jamuan Kenegaraan, Para Bos Teknologi Hadir; Kebijakan AS Tekan China
Pada Kamis malam, Trump menjamu Xi dalam jamuan kenegaraan di Gedung Putih.
Sejumlah tokoh puncak industri teknologi hadir, di antaranya CEO Nvidia Jensen Huang, CEO Meta Mark Zuckerberg, Chairman Apple Tim Cook, CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk, serta CEO OpenAI Sam Altman.
Kendati kedua pemimpin menyampaikan nada yang relatif harmonis, para analis menilai kecil kemungkinan tercapai pengaturan stabil jangka panjang atas berbagai isu yang membelah China-AS.
Dalam persaingan AI, AS menerapkan kontrol ekspor ketat atas mikrochip, semikonduktor, perangkat lunak, dan peralatan pembuat chip untuk memperlambat kemajuan China di sektor tersebut.
Di bidang perdagangan, gencatan tarif yang disepakati Trump dan Xi di Korea Selatan tahun lalu semestinya berakhir November, namun kini diperpanjang hingga Februari, menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Para analis menilai perpanjangan itu menandakan Trump belum puas dengan tawaran konsesi dagang dari Xi, sehingga tekanan terhadap China tetap dipertahankan dengan harapan memperoleh kesepakatan lebih baik jika keduanya kembali bertemu pada KTT G20 di Miami pada Desember.
Meski perang dagang masih berlangsung, impor China ke AS terus melonjak. China diperkirakan mencatat defisit perdagangan sebesar US$1 triliun untuk tahun kedua berturut-turut.