Studi mengenai fosil mirip “ular berkaki empat” yang ditulis oleh seorang ahli paleontologi, David Martill pada Juli 2015 menjadi perbincangan hangat di kalangan ahli paleontologi.
Martill menemukan fosil tersebut di Museum Bürgermeister Müller, Jerman dalam sebuah koleksi yang diberi label sebagai “fosil tak dikenal”.
Fosil kecil berkaki empat itu memiliki panjang 15 sentimeter tersebut menyerupai seekor ular dengan tubuhnya yang panjang dan ramping melingkar seperti ular.
Anehnya, lempengan batu pada fosil tersebut berasal dari lokasi yang berjarak beribu-ribu kilometer dari tempatnya berada saat ini.
Lempengan pada fosil tersebut ternyata berasal dari sebuah situs geologi dari formasi Crato, Brasil. Situs ini dilindungi oleh pemerintah sejak tahun 1942.
Peraturan ini melarang ekspor fosil tanpa izin pemerintah, dan penelitian apa pun yang melibatkan fosil memerlukan kerja sama dengan ilmuwan Brasil.
Fosil berkaki empat tersebut kemungkinan besar telah diselundupkan keluar dari Brasil beberapa dekade sebelumnya.
Advertisement
Transisi Kadal ke Ular
Para ahli telah lama kesulitan mengidentifikasi bagaimana ular purba berevolusi. Penelitian terbaru hanya menemukan fosil ular dengan dua kaki, sedangkan temuan Martill dan timnya telah menunjukan fosil ular dengan empat kaki yang lengkap.
Fosil yang Martill temukan menggambarkan spesies yang termasuk dalam genus Tetrapodophis, ular purba dengan tubuh yang panjang dan ramping dan memiliki anggota tubuh kecil yang berfungsi.
Spesies tersebut merupakan Tetrapodophis amplectus, reptil kecil mirip ular dari periode Cretaceous Awal sekitar 110 juta tahun yang lalu.
Studi Martill mengungkap wawasan penting tentang transisi dari kadal ke ular. Ular berkaki empat ini memiliki anggota badan yang dapat memegang dan digunakan untuk mencengkeram mangsa atau selama kawin, seperti dikutip dari laman Forbes.
Advertisement
Gigi Bengkok
Tubuhnya, yang beradaptasi untuk menggali menantang teori sebelumnya yang menyatakan bahwa ular berevolusi dari nenek moyang laut.
Fosil tersebut juga memperlihatkan adanya gigi bengkok dan tulang belakang yang fleksibel, yang menunjukan bahwa ular ini dapat mencekik mangsanya dan membuktikan adanya pergeseran awal ke arah karnivora dalam evolusi ular.
Penemuan ini merupakan bagian penting dari teka-teki evolusi ular untuk memahami bagaimana ular purba hidup dan berevolusi.
Pada tahun 2024, fosil tersebut akhirnya dikembalikan ke Brasil dan kini disimpan di Museum Nasional Brasil.
Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti