Hot Issue

Nasib Jutaan Paket di China Dibayangi Ancaman Virus Corona

Kamis, 20 Januari 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti
Nasib Jutaan Paket di China Dibayangi Ancaman Virus Corona Pada 2020, China mencatat 158 juta pembeli online berbelanja barang dari luar negeri. ©AFP

Merdeka.com - Ketakutan dan kebingungan meliputi konsumen China dan pemasok barang luar negeri bahwa pembatasan China pada korespondensi internasional yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran virus corona dapat memiliki dampak negatif yang berkepanjangan pada bisnis belanja online dari luar negeri.

Kekhawatiran tertular Covid-19 dari jejak virus corona yang dibawa pada permukaan barang impor yang terkontaminasi telah lama ada di China, tetapi kekhawatiran ini meningkat pada Senin ketika pihak berwenang di Beijing mengatakan pasien pertama kasus varian Omicron di kota itu sebelumnya pernah menerima surat dari Kanada.

Media sosial dibanjiri unggahan warga yang mengungkapkan penyesalan dan kebingungan, di mana banyak pengguna mendapat sanksi karena memesan barang dari luar negeri.

"Saya baru saja menemukan kode saya berubah menjadi kuning, dan saya menerima telepon yang mengatakan bahwa saya perlu dites tiga kali dalam tujuh hari untuk mengubahnya kembali menjadi hijau karena saya menerima kiriman dari luar negeri," kata seorang pengguna Weibo yang berbasis di Guangdong, Selasa.

"Itu cerutu yang saya beli bulan lalu dan belum dikirim," imbuhnya, dikutip dari South China Morning Post, Rabu (19/1).

China menggunakan sistem kode QR berbasis warna. Kode warna hijau diperlukan untuk memasuki gedung perkantoran atau fasilitas umum. Ini memungkinkan orang untuk bergerak lebih bebas daripada kode kesehatan kuning atau merah, yang memerlukan tes dan wajib karantina.

“Paket ini dapat mengubah kode saya menjadi kuning dan membuat saya tidak bisa pulang selama liburan Tahun Baru Imlek,” jelas Wang Wei (41), yang sering membeli produk luar negeri secara online dan baru saja membeli topi dari Eropa yang belum sampai.

“Ada juga pakaian olahraga yang ingin saya beli, tetapi karena ketidakpastian kode kuning ini, saya tidak berani memesan.”

Kasus pertama Omicron di kota Shenzen juga dikaitkan dengan paket dari luar negeri yang berasal dari Amerika Utara.

"Kemungkinan paparan virus corona melalui barang impor yang terkontaminasi dari luar negeri tidak bisa dikesampingkan," jelas pejabat kesehatan Shenzhen, Lin Hancheng pada Senin.

Tapi departemen kesehatan Kanada bersikeras, walaupun surat bisa terkontaminasi, risiko infeksi Covid ketika memegang surat atau kotak paket sangat kecil.

"Umumnya, virus corona termasuk variannya tidak menyebar dari produk atau paket yang dikirim selama beberapa periode hari maupun minggu," jelas Departemen Kesehatan Kanada.

Sebagai pencegahan, paket luar negeri akan menjalani serangkaian disinfeksi saat tiba di China, juga gudang penyimpanananya, sebelum diantarkan. Perusahaan jasa pengiriman di China mengonfirmasi tindakan tersebut telah diimplementasikan.

Biro Post Negara menerbitkan pemberitahuan pada Minggu berisi peringatan risiko virus melalui korespondensi dan pengiriman barang internasional dan meminta semua perusahaan harus mendisinfeksi secara menyeluruh bagian luar paket surat internasional, serta meminta mengurangi pembelian barang dari negara dengan risiko tinggi.

2 dari 2 halaman

Bisnis anjlok

Pada 2020, China mencatat 158 juta pembeli online yang membeli produk dari luar negeri, menurut laporan firma penelitian pasar China, iiMedia pada April.

"Sejak pandemi mulai, pasar terpengaruh secara negatif," kata kepala analis iiMedia, Zhang Yi.

"Dari perspektif konsumen, permintaan menyusut," lanjutnya.

Pengendalian perbatasan yang ketat telah menghentikan perjalanan warga ke luar negeri, tapi usaha lintas batas (daigou) belum sepenuhnya bisa memanen keuntungan, kata pengusaha daigou yang berbasis di Austria.

"Sekarang situasi perekonomian domestik tidak baik, yang secara signifikan menekan permintaan masyarakat akan barang-barang mewah, dan biaya pengiriman juga melonjak, yang mendorong harga naik,” jelasnya.

Zona bebas bea Hainan juga telah menekan permintaan layanan daigou pada tahun lalu.

Penjualan bebas bea di provinsi pulau Hainan di China melonjak menjadi 50,49 miliar yuan (USD 7,9 miliar) pada 2021, tumbuh sebesar 83 persen dari tahun sebelumnya karena jumlah pembeli bebas bea juga meningkat sebesar 73 persen YoY, menurut angka resmi.

"Saya merasa melakukan bisnis daigou semakin sulit,” kata Neo Wang.

“Tidak ada orang di sekitar saya yang mengatakan bisnis mereka bagus.” [pan]

Baca juga:
China Sebut Surat dari Kanada Mengandung Omicron, Ini Jawaban Ahli
Ribuan Hamster di Hong Kong Akan Dimusnahkan karena Covid-19
Hong Kong Musnahkan Ribuan Ekor Hamster Setelah Pegawai Toko Hewan Terinfeksi Covid
China Janji Jadikan Indonesia Pusat Produksi Vaksin Covid-19
Australia Catat Rekor Kematian Tertinggi Covid-19
WHO: Tak Ada Bukti Anak-Anak dan Remaja Perlu Booster Covid
Penelitian: Pakai Masker Bikin Anda Makin Seksi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini