Awal Mula Mahasiswi Solo Jadi Korban Pornografi Deepfake

Mahasiswi PTN di Surakarta melapor jadi korban pornografi deepfake AI. Polisi menyelidiki sebaran via Telegram dan Instagram. Ada puluhan foto dan dua video.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Awal Mula Mahasiswi Solo Jadi Korban Pornografi Deepfake
Mahasiswi di Solo jadi korban deepfake

Polda Jawa Tengah menyelidiki laporan dugaan penyebaran konten pornografi hasil manipulasi kecerdasan buatan (deepfake AI) yang menimpa E, mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Surakarta.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto membenarkan laporan tersebut yang masuk ke Direktorat Siber Polda Jateng.

"Betul, yang bersangkutan sudah melapor ke Ditsiber Polda Jateng, dan saat ini sedang dilakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut," kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto, Selasa (28/7/2026).

Menurut pihak pendamping, laporan resmi korban didaftarkan pada 28 Januari 2026.

Kronologi Kontak dan Ancaman di Instagram

Kuasa hukum korban, Zainal Abidin Petir, memaparkan kronologi awal. Sebelum mengetahui keberadaan konten, E sempat dihubungi sebuah akun Instagram yang mengajak berkenalan dan meminta berkomunikasi lebih intens. Ajakan itu tidak direspons.

"Korban kemudian mendapat ancaman bahwa akan ada bom waktu apabila tidak menanggapi pesan tersebut," ungkap Zainal Abidin Petir.

Beberapa hari kemudian, muncul akun Instagram lain yang mengirim foto-foto hasil editan AI melalui pesan langsung (DM). Akun itu juga mengirimkan foto asli korban beserta hasil editannya, serta memberi tahu bahwa seluruh konten telah disebarkan melalui Telegram.

Dari penelusuran sementara, penyebaran awal diduga berasal dari sebuah akun Telegram. Kanal tersebut kini dalam penyelidikan Ditressiber Polda Jateng.

Puluhan Foto dan Dua Video Deepfake AI, Korban Trauma

Zainal mengungkap temuan awal berupa puluhan foto manipulasi dan dua video yang menampilkan adegan seksual palsu menggunakan wajah korban.

"Pelaku mengedit wajah korban dari leher ke bawah menjadi telanjang. Bahkan, ada video yang menggambarkan korban seakan-akan sedang melakukan hubungan seksual," kata Zainal Abidin Petir kepada wartawan.

Korban baru mengetahui keberadaan konten tersebut pada awal Januari 2026. Setelah konten beredar, E mengalami tekanan psikologis yang cukup berat hingga memilih tidak menceritakan kejadian itu kepada orang tuanya karena takut.

"Padahal korban tidak melakukan hal itu. Ini murni hasil editan AI. Awalnya korban stres berat. Sekarang kondisinya mulai membaik, tapi masih sangat trauma," ujar Zainal Abidin Petir.

Penyelidikan Ditres Siber, Profiling Mengarah ke Calon Pelaku

Kuasa hukum menyebut telah berkoordinasi dengan penyidik. Ia mengatakan tahapan profiling sudah dilakukan dan mulai mengerucut ke calon pelaku, sambil menunggu pemeriksaan saksi untuk penguatan alat bukti.

"Saya berkoordinasi dengan penyidik. Profiling sudah dilakukan dan sudah mulai mengarah kepada calon pelaku. Tinggal menunggu pemeriksaan saksi untuk menguatkan alat bukti," jelas Zainal Abidin Petir.

Pihaknya enggan menyebut identitas pihak yang diduga terlibat karena proses masih dalam tahap penyelidikan.

Polisi saat ini juga mendalami identitas pelaku, termasuk dugaan keterkaitan akun-akun media sosial dan Telegram yang digunakan untuk menyebarkan konten tersebut.

Rekomendasi