Microsoft mengakui telah menyediakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan layanan komputasi awan kepada militer Israel selama perang di Gaza. Teknologi tersebut digunakan pasukan penjajah Israel untuk menyerang warga Palestina.
Pengakuan ini muncul di tengah gelombang protes dari karyawan dan kritik publik yang meluas terkait potensi penyalahgunaan teknologi tersebut. Namun Microsoft membantah teknologi mereka digunakan untuk melukai warga Palestina, seperti dikutip dari laman Haaretz, Senin (19/5).
Menurut Microsoft, teknologi tersebut digunakan untuk mencari dan menyelamatkan tawanan Israel yang ditahan Hamas di Gaza. Setelah melakukan penyelidikan internal dan eksternal, Microsoft menyatakan tidak menemukan bukti bahwa teknologi Azure dan AI milik mereka, atau perangkat lunak lainnya, telah digunakan untuk membahayakan siapa pun. Microsoft juga memastikan bahwa penggunaan teknologi tersebut tidak melanggar ketentuan layanan atau Kode Etik AI Microsoft. Penyelidikan ini dilakukan sebagai respons atas kekhawatiran yang diungkapkan oleh karyawan dan masyarakat luas.
"Kami memberikan bantuan ini dengan pengawasan yang signifikan dan secara terbatas, termasuk menyetujui beberapa permintaan dan menolak permintaan lainnya," kata Microsoft.
"Kami yakin perusahaan tersebut mengikuti prinsip-prinsipnya secara matang dan hati-hati, untuk membantu menyelamatkan nyawa para tawanan sekaligus menghormati privasi dan hak-hak warga sipil lainnya di Gaza."
Meskipun demikian, Microsoft mengakui keterbatasan dalam memantau bagaimana program mereka digunakan oleh militer Israel. Perusahaan tersebut menyatakan mereka tidak memiliki akses penuh terhadap penggunaan perangkat lunak mereka pada server atau perangkat milik pelanggan. Hal ini termasuk operasi cloud pemerintah Israel yang didukung oleh kontrak dengan penyedia cloud selain Microsoft.
Microsoft mengatakan militer Israel, seperti pelanggan lainnya, terikat untuk mengikuti Kebijakan Penggunaan yang Dapat Diterima dan Kode Etik AI milik perusahaan, yang melarang penggunaan produk untuk menimbulkan kehancuran dengan cara apa pun yang dilarang oleh hukum. Dalam pernyataannya, perusahaan ini mengatakan tidak menemukan "bukti" militer Israel telah melanggar ketentuan tersebut.
Advertisement
Unggahan blog yang tidak ditandatangani di situs web perusahaan Microsoft tampaknya merupakan pengakuan publik pertama perusahaan tersebut atas keterlibatan mendalamnya dalam perang genosida Israel di Gaza.
Pernyataan ini dikeluarkan sebagai tanggapan atas laporan Associated Press sebelumnya. AP mengungkap rincian yang sebelumnya tidak dilaporkan tentang kemitraan erat raksasa teknologi Amerika tersebut dengan Kementerian Pertahanan Israel, dengan penggunaan produk AI komersial oleh militer yang meroket hampir 200 kali lipat setelah serangan Hamas pada 7 Oktober.
AP melaporkan, militer Israel menggunakan Azure untuk menyalin, menerjemahkan, dan memproses intelijen yang dikumpulkan melalui pengawasan massal, yang kemudian dapat diperiksa silang dengan sistem penargetan berbasis AI milik Israel, dan sebaliknya.
Para kelompok HAM menyuarakan kekhawatiran bahwa sistem AI, yang memiliki cacat dan rentan terhadap kesalahan, digunakan untuk membantu membuat keputusan tentang siapa atau apa yang menjadi target, yang mengakibatkan kematian orang-orang yang tidak bersalah.
Microsoft mengatakan pada hari Kamis, kekhawatiran karyawan dan laporan media telah mendorong perusahaan untuk meluncurkan tinjauan internal dan menyewa firma eksternal untuk melakukan "pencarian fakta tambahan." Pernyataan tersebut tidak menyebutkan nama firma eksternal tersebut atau memberikan salinan laporannya.
Dalam pernyataan tersebut, Microsoft juga tidak secara langsung menjawab beberapa pertanyaan tentang bagaimana tepatnya militer Israel menggunakan teknologinya, dan perusahaan itu menolak berkomentar lebih lanjut. Microsoft menolak menjawab pertanyaan tertulis dari The AP tentang bagaimana model AI-nya membantu menerjemahkan, memilah, dan menganalisis intelijen yang digunakan oleh militer untuk memilih target serangan udara.
Microsoft mengatakan dalam pernyataannya, pihaknya menyediakan perangkat lunak, layanan profesional, penyimpanan awan Azure, dan layanan Azure AI, termasuk penerjemahan bahasa, kepada militer Israel, dan telah bekerja sama dengan pemerintah Israel untuk melindungi dunia maya negara Zionis tersebut dari ancaman eksternal.