Pasukan penjajah Israel kembali menembaki kerumunan warga Palestina di Gaza yang kelaparan saat menuju tempat distribusi bantuan kemanusiaan pada Selasa (3/6) dini hari. Kepala departemen catatan Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher Al-Waheidi, mengatakan 27 orang terbunuh dalam insiden ketiga ini.
Pembantaian massal oleh pasukan penjajah ini terjadi di dekat lokasi distribusi bantuan kemanusiaan di Rafah, Gaza selatan. Peristiwa ini menambah daftar panjang penderitaan warga Gaza yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan.
Hisham Mhanna, juru bicara Komite Internasional Palang Merah, mengatakan rumah sakit lapangannya di Rafah menerima 184 orang yang terluka, 19 di antaranya dinyatakan meninggal saat tiba di rumah sakit dan delapan lainnya kemudian meninggal karena luka-luka mereka. Ke-27 korban tewas dipindahkan ke Rumah Sakit Nasser di kota Khan Younis.
Sementara itu, pihak militer Israel berdalih pasukannya melepaskan tembakan di dekat "beberapa orang tersangka", yang meninggalkan rute yang telah ditetapkan, seperti dilansir Arab News. Rute yang dimaksud adalah zona yang dirancang untuk menghindari Hamas. Lokasi tersebut berjarak sekitar 0,5 km dari tempat pembagian bantuan.
Militer Israel mengklaim awalnya tembakan peringatan telah dilepaskan. Namun, karena "tersangka" tidak mengindahkan peringatan dan tidak mundur, maka tembakan tambahan diarahkan ke arah mereka. Pernyataan ini berbeda dengan kesaksian warga di lapangan.
Sebelumnya pada Minggu (1/6), Israel membunuh 32 warga yang berkumpul untuk menunggu bantuan di dua titik distribusi bantuan yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF). GHF merupakan bentukan Israel-Amerika Serikat yang kontroversial.
Beberapa saksi mata memberikan kesaksian yang berbeda terkait insiden tersebut. Mereka menyatakan bahwa tembakan langsung diarahkan ke kerumunan warga Palestina. Warga sipil ini sedang mengantre untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan. Saksi juga menyebutkan bahwa serangan melibatkan helikopter dan drone. Menurut mereka, tembakan awalnya diarahkan ke udara. Namun, kemudian langsung menyasar ke arah orang-orang yang tengah berkumpul di dekat pusat bantuan.
Advertisement
Yasser Abu Lubda, seorang pengungsi Palestina berusia 50 tahun dari Rafah, mengatakan penembakan itu dimulai sekitar jam 4 pagi di daerah Bundaran Bendera kota itu, sekitar 1 kilometer dari pusat distribusi bantuan. Ia mengatakan melihat beberapa orang terbunuh atau terluka.
Neima Al-Aaraj, seorang perempuan dari Khan Younis, mengungkapkan hal yang sama.
"Ada banyak yang syahid dan terluka," katanya, mengatakan penembakan oleh pasukan Israel itu "tanpa pandang bulu."
Ia mengatakan ia berhasil mencapai pusat distribusi bantuan tetapi kembali dengan tangan hampa.
"Apa pun yang terjadi, kami akan mati," kata Rasha Al-Nahal, saksi mata lainnya.
"Ada tembakan dari segala arah."
Rasha mengatakan, ia menghitung puluhan orang terbunuh dan beberapa orang terluka di sepanjang jalan.
Rasha juga tidak menemukan bantuan ketika dia tiba di pusat distribusi dan menambahkan pasukan Israel “menembaki kami ketika kami kembali.”