Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman ibunda Anji Manji yang berlangsung di TPU Mangun Jaya, Bekasi, Jawa Barat. Kepergian almarhumah meninggalkan duka yang mendalam bagi Anji, terutama karena kejadian ini berlangsung sangat cepat tanpa ada tanda-tanda sakit sebelumnya.
Sehari sebelum meninggal, almarhumah masih terlihat berinteraksi dengan anggota keluarga serta para asisten rumah tangga. Anji Manji pun menceritakan detik-detik malam terakhir ibunya yang masih sempat mengirimkan pesan melalui aplikasi WhatsApp.
Anji menceritakan, "Kemarin juga nggak ada keluhan. Pamitnya sama saya juga cuma mau tidur, di WhatsApp. Hari sebelumnya juga Mama dari rumah, habis ketemu ada sepupu saya juga main ke rumah, ngobrol sama Mama, ketawa, telepon-teleponan sama sahabat-sahabat saya. Nggak ada masalah," ungkapnya setelah prosesi pemakaman pada Jumat (27/3).
Kegiatan sang ibu pun berlangsung normal hingga dini hari, di mana beliau sempat berbincang akrab dengan asisten Anji. Namun, kecemasan mulai muncul saat keesokan harinya ketika sang ibu tidak kunjung bangun dari tidurnya.
“Besoknya juga enggak ada masalah, ngobrol sama abang saya sampai jam 11 malam. Terus jam 11 sampai jam 3 pagi ngobrol sama asisten saya. Terus chat saya bilang mau tidur. Terus tiba-tiba jam 7.20 saya dikabarin bahwa Mama enggak mau bangun,” ungkap Anji.
Kejadian ini tentu sangat mengejutkan bagi Anji dan keluarganya, mengingat semua tampak baik-baik saja sebelum kepergian ibunya. Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga Anji, dan kenangan indah bersama almarhumah akan selalu dikenang.
Advertisement
Mendengar berita duka tersebut, Anji segera bergegas menuju rumah ibunya yang tidak jauh dari tempatnya. Dalam perjalanan, ia merasakan denyut jantung ibunya yang sangat lemah sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.
"Saya langsung lari karena alhamdulillah rumahnya dekat banget. Saya tepuk-tepuk, 'Mah, Mah, Mah, bangun Mah'. Terus ngorok, terus kayaknya sudah hilang di situ. Karena sebelumnya saya masih ngerasain ada denyut jantungnya lemah, tapi setelah itu pas banget lagi saya pegang," tuturnya.
Saat ini, Anji memiliki satu benda berharga yang selalu ia kenakan sebagai pengingat terakhir dari ibunya.
Benda tersebut adalah sebuah gelang yang dilepaskan dari tangan almarhumah sesaat setelah ia dinyatakan meninggal dunia.
"Oh, ini adalah gelang yang Mama pakai sampai meninggal. Saya dikasih sama Mbak saya. Kebetulan saya juga mau ucapin terima kasih sama Mbak Yuli yang selama ini jagain Mama, yang menggantikan saya dan seluruh keluarga untuk 24 jam mengawasi Mama," kata Anji.
Gelang tersebut kini menjadi simbol cinta dan kenangan yang tak tergantikan bagi Anji, mengingatkan dia akan kasih sayang ibunya selamanya.
Advertisement
Gelang yang dimiliki memiliki nilai sejarah yang sangat berarti, karena merupakan barang yang dibawa oleh ibunya saat menunaikan ibadah haji. Ia menegaskan bahwa benda tersebut tidak akan diberikan kepada siapa pun, karena dianggap sebagai pengingat yang abadi.
“Ini gelang, setahu saya kalau saya nggak salah, ini ketika Mama naik haji. Jadi ini akan jadi 'jimat' buat saya. Sorry nih buat yang lain, keluarga, nggak akan saya kasih, sudah masuk di tangan saya soalnya,” imbuhnya.
Dengan pernyataan tersebut, terlihat betapa pentingnya gelang itu baginya, bukan hanya sebagai aksesori, tetapi juga sebagai simbol kenangan yang tak ternilai.
Advertisement
Sesuai dengan wasiat yang telah disampaikan sebelumnya, akhirnya jenazah ibunda Anji dimakamkan dalam satu liang dengan mendiang suaminya. Anji mengungkapkan bahwa almarhumah sering memberikan isyarat tentang keinginannya untuk kembali ke Bekasi.
"Soal makam kenapa digabungin Bapak, karena memang itu permintaan beliau. Kemarin sebelum meninggal entah kenapa Mama meninggalkan banyak wasiat-wasiat, baik kepada saya maupun kepada orang-orang di sekitar saya. Salah satunya adalah Mama pengin pulang ke Bekasi," kata dia.