Sosok Pemilik Wilmar Group yang Kembalikan Uang Rp11,8 Triliun dalam Kasus Korupsi Ekspor CPO

Dia juga menyebutkan pengembalian uang oleh Wilmar Group merupakan bentuk kesadaran dan kerja sama korporasi terhadap penegakan hukum.

Siti Ayu Rachma
Oleh Siti Ayu Rachma - Reporter
Sosok Pemilik Wilmar Group yang Kembalikan Uang Rp11,8 Triliun dalam Kasus Korupsi Ekspor CPO
Sosok Pemilik Wilmar Group yang Kembalikan Uang Rp11,8 Triliun dalam Kasus Korupsi Ekspor CPO (Merdeka.com)

Kejaksaan Agung (Kejagung) telah melakukan penyitaan uang senilai Rp11.880.351.802.619 atau Rp11,8 triliun dalam perkara tindak pidana korupsi fasilitas ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya pada industri kelapa sawit tahun 2022. Dana tersebut disita dari Wilmar Group dan disebut sebagai penyitaan terbesar dalam sejarah Indonesia.

"Untuk kesekian kali kita melakukan rilis press conference terkait dengan penyitaan uang dalam jumlah yang sangat besar. Dan barangkali ini merupakan presscon terhadap penyitaan uang dalam sejarahnya, ini yang paling besar,” tutur Kapuspenkum Kejagung Harli Siregar dikutip Rabu (18/6).

Harli menjelaskan, penyitaan uang sebesar Rp11,8 triliun ini merupakan bagian dari langkah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) dalam proses penuntutan untuk mengembalikan kerugian keuangan negara akibat kasus korupsi tersebut.

Dia juga menyebutkan pengembalian uang oleh Wilmar Group merupakan bentuk kesadaran dan kerja sama korporasi terhadap penegakan hukum.

Lantas, siapa pemilik di balik Wilmar Group?

Mengutip dari laman resmi perusahaan, Wilmar Group didirikan oleh dua tokoh besar, Kuok Khoon Hong dan Martua Sitorus. Perusahaan pertama yang mereka dirikan adalah Wilmar Trading Pte Ltd di Singapura dengan modal awal sebesar SGD100.000 dan hanya lima orang karyawan.

Proyek pertama mereka adalah PT Agra Masang Perkasa (AMP), sebuah perkebunan kelapa sawit seluas 7.000 hektare yang berlokasi di Sumatera Barat. Seiring waktu, bisnis Wilmar berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia, dengan operasi hulu yang tersebar di Indonesia, Malaysia, Uganda, Pantai Gading, Ghana, dan Nigeria.

Di Indonesia, Wilmar Group mengembangkan berbagai lini usaha, mulai dari pabrik penggilingan inti sawit di Sumatera Utara, hingga kilang minyak sawit di Dumai yang kapasitasnya berkembang dari 700 MT/hari pada 1993 menjadi 2.400 MT/hari pada 1995.

Saat ini, Wilmar menjadi penyuling minyak sawit, penggilingan inti sawit dan kopra terbesar, serta produsen lemak khusus, oleokimia, biodiesel, dan minyak kemasan konsumen terbesar di Indonesia.

Dari sisi kekayaan, melansir dari Forbes mencatat Kuok Khoon Hong memiliki kekayaan bersih sekitar USD3,4 miliar atau Rp55,61 triliun (kurs Rp16.358). Dia juga diketahui memiliki Aviva Tower di London bersama salah satu miliarder asal Indonesia.

Sementara itu, Martua Sitorus yang kekayaannya tercatat mencapai USD3,5 miliar atau Rp57,25 triliun, sempat menjabat sebagai salah satu petinggi Wilmar Group. Namun pada 2018, ia mengundurkan diri dari dewan direksi perusahaan tersebut. Meski begitu, kiprah bisnisnya tetap berlanjut.

Bersama saudaranya, Ganda Sitorus, Martua mendirikan KPN Corporation (sebelumnya bernama Gama Corp). Grup ini bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit, properti, dan industri semen.

Pada tahun 2024, melalui anak usahanya Gama Land, KPN Corporation bekerja sama dengan Grup Ciputra membangun kawasan kota mandiri di Medan, Sumatera Utara.

Tak hanya itu, perusahaan semen keluarga mereka, Cemindo Gemilang, sukses melantai di bursa saham pada 2021 dan berhasil meraup dana sebesar USD77 juta. Sementara perusahaan rumah sakit milik mereka, Murni Sadar, meraih USD21 juta melalui penawaran saham perdana (IPO) pada 2022.

Rekomendasi