Pilihan Menu Ikan di Rumah Ikut Tentukan Nasib Nelayan

Pilihan menu tuna di meja makan tak cuma soal gizi, tapi juga ikut menentukan kesejahteraan nelayan dan kelestarian laut Indonesia.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra- Reporter
Pilihan Menu Ikan di Rumah Ikut Tentukan Nasib Nelayan
Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah (Istimewa)

 

Sebuah piring berisi olahan tuna di meja makan keluarga ternyata menyimpan cerita panjang, tentang gelombang laut, keringat nelayan skala kecil, hingga kelestarian samudera Indonesia. Lewat kesadaran sederhana dari meja makan itulah, masyarakat diajak untuk mulai memasukkan tuna ke dalam menu konsumsi mingguan sekaligus lebih peduli pada asal-usul dan cara ikan tersebut ditangkap.

Pesan ini mengemuka dalam Bincang Tuna Episode 3 bertajuk 'Know Your Tuna, Value Every Catch' yang digelar di Indonesia Tuna Pavilion pada rangkaian SIAL Food & Drinks Indonesia 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Di tengah capaian ekspor tuna Indonesia yang menembus nilai lebih dari US$ 1 miliar pada 2025, penguatan pasar domestik dipandang sebagai peluang emas. Langkah ini tak hanya memperluas jangkauan pasar dan mendorong inovasi olahan pangan, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi industri perikanan lokal dan komunitas nelayan.

Program Leader Tuna Consortium yang juga dikenal sebagai The Tuna Lady, Thilma Komaling, menegaskan bahwa perubahan menuju sistem pangan berkelanjutan bisa dimulai dari piring makan sehari-hari.

"Setiap pilihan makanan memiliki cerita dan dampak di baliknya. Ketika masyarakat mulai mengenali tuna yang mereka konsumsi, memahami bagaimana ikan tersebut ditangkap, serta menghargai nelayan yang bekerja di baliknya, kita sedang membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab antara konsumen dan sumber daya laut," ujar Thilma.

Dalam sesi diskusi bertajuk 'Every Catch Tells a Story, Take Every Bite Responsibly', Direktur MDPI Foundation, Yasmin Simbolon, mengajak tiap keluarga Indonesia untuk mulai membiasakan konsumsi tuna setidaknya seminggu sekali.

Menurutnya, ikan tuna tidak perlu diolah dengan cara yang rumit. Kandungan gizi tuna sangat tinggi, mencapai sekitar 25,76 gram protein per 100 gram bahan pangan berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Segar Indonesia dari Badan Pangan Nasional—sehingga sangat ideal menjadi alternatif penopang protein harian.

"Memulai kebiasaan mengonsumsi tuna tidak harus dengan perubahan besar. Kita bisa mulai dengan memasukkan tuna ke dalam menu keluarga seminggu sekali, memilih jenis yang sesuai, dan mengolahnya dengan cara yang kita sukai. Dari kebiasaan sederhana ini, masyarakat juga bisa mulai lebih peduli terhadap asal-usul ikan yang mereka konsumsi," kata Yasmin.

Mengenal Histamin dan Menjaga Rantai Dingin

Bincang Tuna Episode 3 bertajuk 'Know Your Tuna, Value Every Catch'
Bincang Tuna Episode 3 bertajuk 'Know Your Tuna, Value Every Catch' . (Istimewa)

Meski kaya gizi, isu keamanan pangan seperti kandungan senyawa histamin kerap membayangi persepsi konsumen. Founder & CEO Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI), Janti Djuari, menjelaskan bahwa histamin dapat terbentuk pada tuna jika proses penanganan dan penyimpanannya tidak terjaga dengan baik.

Oleh karena itu, edukasi mengenai penerapan standar penanganan dan menjaga rantai dingin (cold chain) dari atas kapal hingga ke tangan pembeli menjadi kunci krusial agar konsumen merasa aman.

"Ikan tuna merupakan sumber protein yang sangat baik dan memiliki potensi besar untuk dikonsumsi lebih luas oleh masyarakat. Namun, edukasi mengenai kualitas dan penanganan ikan juga harus diperkuat. Kekhawatiran terhadap histamin perlu dijawab dengan informasi yang tepat, termasuk pentingnya menjaga suhu dan kualitas ikan sejak ditangkap hingga sampai ke tangan konsumen,” papar Janti.

Kesadaran konsumen juga diharapkan melangkah lebih jauh dengan bersikap kritis saat membeli. Government Affairs & Policy Lead Yayasan IPNLF Indonesia, Nilmawati, mendorong masyarakat untuk tak sungkan bertanya langsung kepada pedagang atau pihak restoran mengenai asal-usul ikan dan alat tangkap yang digunakan.

Apakah ikan tersebut ditangkap menggunakan metode ramah lingkungan seperti pancing ulur (handline) dan pole-and-line (huhate), atau metode lain?

"Jangan ragu untuk bertanya kepada penjual atau restoran, dari mana tuna yang mereka jual berasal dan bagaimana ikan tersebut ditangkap. Apakah menggunakan pancing ulur (handline), pole-and-line (huhate), atau metode lainnya?Pertanyaan sederhana dari konsumen dapat mendorong pelaku usaha untuk semakin transparan dan memperhatikan praktik penangkapan yang bertanggung jawab," terang Nilmawati.

Metode one-by-one fishing seperti handline dan huhate dikenal jauh lebih selektif dalam menjaga kelestarian laut. Ketika konsumen makin kritis, para pelaku usaha perikanan pun terdorong untuk mempertahankan praktik penangkapan yang bertanggung jawab.

Rekomendasi