Puan Maharani Ajak Pemuda Gereja Berani Perjuangkan Keadilan dan Kebenaran

Puan Maharani membuka Konsultasi Nasional Pemuda Gereja di Manado dan menyampaikan seruan soal keadilan, kebenaran, hingga bahaya hoaks AI.

Jonathan Pandapotan Purba
Puan Maharani Ajak Pemuda Gereja Berani Perjuangkan Keadilan dan Kebenaran
Ketua DPR Puan Maharani menghadiri pembukaan Konsultasi Nasional Pemuda Gereja di Manado, Sulawesi Utara (Istimewa)

Ketua DPR RI Puan Maharani menghadiri pembukaan Konsultasi Nasional Pemuda Gereja di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (6/11/2026). Dalam kesempatan tersebut, Puan berpesan agar generasi muda berani memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta berperan aktif membawa perubahan bagi masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di aula Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado itu dihadiri pemuda dan remaja gereja dari berbagai daerah di Indonesia. Puan hadir didampingi Wakil Ketua Komisi IV DPR Alex Indra Lukman, Wakil Ketua Komisi VI DPR Adisatrya Suryo Sulisto, Wakil Ketua Komisi VIII DPR Abidin Fikri, Wakil Ketua Komisi VIII MY Esti Wijayati, serta Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam.

Kedatangan Puan disambut Ketua Panitia Konsultasi Nasional Pemuda Gereja, Rio Dondokambey. Hadir pula para pimpinan Sinode Gereja-gereja Anggota PGI, Pimpinan PGI Wilayah, Sinode Am Gereja-gereja (SAG), hingga Forkopimda Provinsi Sulawesi Utara.

Sejumlah tokoh turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Ketua Forum Pria Kaum Bapak (PKB) PGI Olly Dondokambey bersama Ibu Rita Tamuntuan, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Darwin Darmawan, Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Dr. Jeane Marie Tulung, Ketua MPH Sinode Am Gereja-gereja Sulawesi Utara dan Tengah Pdt. Jacklin Soan Sumilat, serta Rektor IAKN Manado Dr. Olivia Cherly Wuwung beserta sivitas akademika.

Mengawali sambutannya, Puan menyoroti pentingnya menjaga harmoni di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

“Meski kita berbeda agama tetapi ketika saya datang ke sini, sambutannya begitu hangat. Membuat saya merasa datang ke keluarga sendiri,” kata Puan diikuti tepuk tangan meriah dari para peserta yang hadir.

“Memang itulah Indonesia. Kita bhineka tunggal ika. Ini yang harus selalu kita jaga termasuk oleh anak-anak muda,” lanjut perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

Puan kemudian mengaitkan peran generasi muda dengan peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2026. Menurut dia, sejarah membuktikan perubahan besar suatu bangsa kerap berawal dari keberanian anak muda dalam memperjuangkan gagasan dan cita-cita.

“Belum lama ini, bangsa Indonesia memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda. Sebuah tonggak sejarah yang mengingatkan kita bahwa perubahan besar dalam perjalanan suatu bangsa sering kali lahir dari keberanian generasi muda untuk memikirkan sesuatu yang belum terpikirkan oleh zamannya,” kata Puan.

“Juga memperjuangkan sesuatu yang belum menjadi kenyataan, dan mempersatukan sesuatu yang sebelumnya terpecah-pecah,” lanjutnya.

Dia mencontohkan berbagai gerakan mahasiswa dan pemuda di sejumlah negara, mulai dari perjuangan hak asasi manusia, demokrasi, kepedulian terhadap lingkungan, hingga perlawanan terhadap rasisme.

“Ini menunjukkan bahwa anak muda kerap menjadi kekuatan yang menggugat ketidakadilan, menantang kemapanan, dan membuka jalan bagi perubahan sosial,” ungkap Puan.

Puan menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam mendorong pembaruan sosial. Pengalaman sejarah yang berbeda dengan generasi sebelumnya memungkinkan anak muda menghadirkan perspektif dan pendekatan baru dalam menghadapi persoalan.

“Pemuda hidup di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang berkembang dengan kecepatan luar biasa. Pengetahuan semakin mudah diakses, batas-batas geografis semakin terbuka, dan kesempatan untuk belajar, berinovasi, serta membangun gerakan bersama semakin luas,” paparnya.

Meski demikian, Puan mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas berpikir. Banyaknya informasi yang tersedia juga belum tentu menghasilkan pengetahuan dan kebijaksanaan.

“Pemuda tidak cukup hanya menjadi penerima informasi, pengguna teknologi, atau pengikut perubahan. Pemuda perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, menguji kebenaran, memahami persoalan secara mendalam, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat,” sebut Puan.

Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini bukan hanya memperoleh informasi, melainkan juga memilah fakta dari manipulasi serta membedakan pengetahuan dengan opini. Anak muda juga perlu menyikapi persoalan keterasingan manusia, ketimpangan, dan ketidakadilan yang dapat muncul seiring perkembangan zaman.

Salah satu dampak negatif kemajuan teknologi yang menjadi perhatian Puan adalah penyebaran hoaks dan disinformasi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“AI ini luar biasa canggihnya tapi kita juga harus berhati-hati. Karena dengan hanya mengetik atau prompting di gadget lalu bisa sekejap menghasilkan konten-konten hoax, disinformasi. Di sini generasi muda harus berpikir kritis agar tidak termakan hoax,” ungkapnya.

Dalam kaitan itu, Puan menilai tema Konsultasi Nasional Pemuda Gereja, yakni 'Hiduplah Sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran', sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.

“Terang harus memiliki daya untuk menerangi persoalan, membangkitkan kesadaran, menumbuhkan harapan, dan menggerakkan tindakan bersama,” ungkap perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR itu.

Puan juga menghubungkan semangat tersebut dengan falsafah yang diwariskan pahlawan nasional asal Sulawesi Utara, Sam Ratulangi, yakni Si Tou Timou Tumou Tou.

“Yaitu Si Tou Timou Tumou Tou, bahwa manusia hidup untuk memanusiakan sesama manusia. Falsafah ini mengajarkan bahwa nilai kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil diraih untuk dirinya sendiri, tetapi juga oleh apa yang dapat diberikan bagi kehidupan sesamanya,” terang Puan.

Selain itu, Puan mengingatkan kembali perjuangan Proklamator sekaligus Presiden pertama RI, Sukarno atau Bung Karno, yang menempatkan rakyat sebagai pusat cita-cita kemerdekaan Indonesia.

“Bung Karno menegaskan bahwa kebangsaan dan demokrasi tidak boleh berhenti pada kemerdekaan politik, tetapi harus membawa kemerdekaan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, sehingga rakyat dapat hidup lebih sejahtera dan bermartabat,” jelas cucu Bung Karno tersebut.

Dia menegaskan, pengabdian kepada sesama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan membangun bangsa. Nilai kemanusiaan dan kebangsaan, menurut Puan, dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.

“Konsultasi Nasional Pemuda Gereja pada saat ini, tentu tidak hanya menjadi ruang untuk bertukar pikiran, memperkuat persaudaraan, dan menyusun program-program organisasi,” tutur Puan.

Karena itu, dia berharap forum tersebut dapat menjadi momentum untuk memperjelas arah pengabdian Pemuda Gereja dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Jika Pemuda Gereja ingin menjadi terang, maka terang itu harus hadir di tengah kehidupan rakyat.
Terang tidak hanya bersinar di dalam ruang-ruang pertemuan dan kegiatan organisasi, tetapi harus menjangkau tempat-tempat di mana masyarakat menghadapi kesulitan, ketidakpastian, dan ketidakadilan,” urainya.

Puan mendorong agar program kerja Pemuda Gereja disusun berdasarkan persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, berbagai kegiatan yang dirancang dapat memberikan dampak nyata bagi pemuda maupun lingkungan sekitarnya.

“Perjalanan Pemuda Gereja untuk menjadi terang di tengah kehidupan rakyat tentu tidak selalu mudah. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dan setiap generasi menghadapi ujian sejarah yang berbeda,” kata Puan.

Dia membandingkan tantangan generasi muda saat ini dengan perjuangan anak muda pada masa kemerdekaan. Jika dahulu mereka menghadapi penjajahan dan keterbatasan kebebasan, kini generasi muda dihadapkan pada persoalan yang lebih kompleks, seperti perkembangan teknologi, persaingan ekonomi, ketimpangan kesempatan, krisis lingkungan, disinformasi, hingga melemahnya solidaritas sosial.

“Di sinilah panggilan Pemuda Gereja untuk menjadi terang menemukan ujian yang sesungguhnya karena, terang tidak kehilangan maknanya ketika berhadapan dengan kegelapan. Justru di tengah kesulitan dan ketidakpastian, kehadiran terang menjadi semakin diperlukan,” tegas Puan.

Puan mengingatkan bahwa pemuda gereja tidak cukup hanya memahami berbagai tantangan tersebut. Mereka juga harus membekali diri agar mampu menjawab persoalan melalui karya, pelayanan, dan gerakan bersama.

“Pemuda harus terus mempertajam cara pikir, memperkuat kemajuan cara kerja, dan meningkatkan cara hidup yang baik,” pesan mantan Menko PMK itu.

Dia turut menyoroti besarnya jumlah generasi muda di Indonesia yang saat ini mencapai lebih dari 50 persen populasi. Namun, menurut Puan, masa depan bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah tersebut, melainkan juga kualitas dan karakter generasi mudanya.

“Oleh karena itu, menjadi harapan kita semua bahwa Konsultasi Nasional ini dapat menghadirkan gerakan Pemuda Gereja yang berkarakter, sebagai kekuatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan ikut membentuk masa depan bangsa dan negara,” urai Puan.

Dia berharap Pemuda Gereja dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki iman kuat, terbuka terhadap kemajuan, serta berani menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.

“Bung Karno pernah mengungkapkan keyakinannya yang sangat besar terhadap kekuatan generasi muda melalui ungkapan yang terkenal: Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” ujar Puan mengutip pernyataan Bung Karno.

“Pesan yang dapat kita petik dari ungkapan tersebut bukanlah tentang jumlah pemuda, melainkan tentang kekuatan tekad, keberanian, persatuan, dan cita-cita besar yang mampu menggerakkan perubahan sejarah,” sambung Puan.

Pada kesempatan itu, Puan juga menyematkan tanda peserta sebagai simbol resmi dibukanya Konsultasi Nasional Pemuda Gereja. Dia mengajak para pemuda gereja untuk berani mengambil tindakan dengan berlandaskan iman, memperkuat diri melalui pengetahuan, serta menunjukkan kepedulian dan kebaikan kepada sesama.

“Inilah panggilan Pemuda Gereja: menjadi terang yang tidak bersinar untuk dirinya sendiri, tetapi bersinar menerangi kehidupan sesama,” ucapnya.

Puan kemudian kembali menegaskan pesannya kepada generasi muda agar berani memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

“Hiduplah sebagai terang. Hadirkan kebaikan. Perjuangkan keadilan! Tegakkan kebenaran!” tegas Puan.

Sementara itu, Ketua Panitia Konsultasi Nasional Pemuda Gereja Rio Dondokambey menyampaikan apresiasi atas kehadiran Puan dalam kegiatan tersebut.

“Selamat datang Ibu Ketua DPR-RI. Kami sangat merasa terhormat Ibu hadir. Ini adalah Konsultasi Nasional Pemuda Gereja pertama yang kami laksanakan setelah beberapa tahun sempat vakum. Kami sangat ingin mendengar masukan dari Ibu Ketua untuk penyusunan program-program kerja kami,” ucap Rio Dondokambey.

Rekomendasi