Dari Dapur Jadi Rupiah, Warga Tukar Jelantah Lewat Koperasi Merah Putih

Lewat inisiatif ini, KDKMP disiagakan sebagai titik penampungan jelantah dari masyarakat.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra- Reporter
Dari Dapur Jadi Rupiah, Warga Tukar Jelantah Lewat Koperasi Merah Putih
Warga Tukar Jelantah Lewat Koperasi Merah Putih. (Istimewa)

 

Limbah minyak goreng bekas atau jelantah yang biasanya berakhir di pembuangan kini disulap menjadi sumber penghasilan baru bagi warga Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Jawa Tengah. Melalui kolaborasi antara Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Koperasi, program uji coba pengumpulan Used Cooking Oil (UCO) resmi diluncurkan di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Dawuhan pada Kamis (29/10/2026).

Lewat inisiatif ini, KDKMP disiagakan sebagai titik penampungan jelantah dari masyarakat. Minyak bekas yang terkumpul nantinya diolah kembali menjadi bahan bakar ramah lingkungan, seperti Bioavtur dan Green Gasoline. Sebagai imbalannya, setiap liter jelantah yang disetorkan warga langsung diganti dengan uang tunai.

Kehadiran program ini dinilai membawa solusi ganda, yaitu mendongkrak pemasukan finansial keluarga sekaligus menjaga lingkungan desa dari risiko pencemaran limbah rumah tangga.

Bagi para ibu rumah tangga, keberadaan pos penampungan ini mengubah cara pandang mereka terhadap limbah dapur.Samini, warga RT 01/RW 01 Desa Dawuhan, mengaku sangat terbantu. Sebelumnya, sisa minyak goreng di rumahnya sering memicu masalah lingkungan karena dibuang sembarangan, atau paling banyak sekadar dimanfaatkan menjadi lilin darurat. 

"Setiap selesai menggoreng di rumah, sisa minyaknya saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Dulu cuma dipakai sendiri untuk bikin lilin kalau mati lampu. Sekarang senang sekali karena bisa ditukarkan jadi uang tunai di koperasi. Tentu jadi makin semangat mengumpulkan jelantah dari dapur karena bisa menambah uang belanja kebutuhan sehari-hari," ujar Samini.

Hal senada diungkapkan Yati, warga Desa Dawuhan lainnya. Menurutnya, skema tukar jelantah jadi uang tunai ini memberikan edukasi penting bagi para ibu rumah tangga untuk tidak lagi memakai minyak goreng secara berulang-ulang yang memicu masalah kesehatan, maupun membuangnya sembarangan. 

"Bagi ibu-ibu yang rutin memasak, program ini sangat bermanfaat. Minyak yang tadinya dibuang atau berbahaya kalau dipakai berulang kali, sekarang dikumpulkan dan disetorkan ke koperasi. Minyak jelantah yang dulu tidak bermanfaat kini jadi rupiah dan membawa berkah," tutur Yati.

Sambutan Hangat Rumah Tangga Hingga UMKM Kuliner

Dampak positif program ini tak hanya dirasakan oleh skala rumah tangga, tetapi juga menyasar para pelaku Usaha Mikro,Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di wilayah setempat.

Ketua KDKMP Desa Dawuhan, Suparjo, mengungkapkan bahwa antusiasme warga dan pedagang sangat tinggi sejak tahap sosialisasi dimulai dalam sepekan terakhir.

"Respons masyarakat sangat baik. Untuk tingkat rumah tangga, warga mampu mengumpulkan lebih dari setengah liter per minggu. Sementara dari pelaku UMKM kuliner dan gorengan di sekitar desa, ada yang mampu menyetorkan 10, 20,hingga 25 liter minyak jelantah dalam seminggu," jelas Suparjo.

Melihat manfaat nyata bagi roda ekonomi dan kelestarian alam, Suparjo berharap kerja sama antara Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Koperasi dapat berjalan secara konsisten dalam jangka panjang, sehingga ekosistem ekonomi sirkular berbasis desa bisa terus tumbuh berkelanjutan.

Rekomendasi