Cedera hingga Patah Tulang, 121 Atlet Masuk RS Selama Porprov Jateng

121 Atlet atau sekitar 77 persen dari total kasus itu bahkan harus dirujuk ke rumah sakit.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama- Reporter
Cedera hingga Patah Tulang, 121 Atlet Masuk RS Selama Porprov Jateng
KONI Jateng bicara penyelenggaraan pekan olahraga Jateng. (merdeka.com/istimewa).

Tim Kesehatan Panitia Besar (PB) Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026 mencatat.Total ratusan atlet mengalami cedera dan gangguan kesehatan harus dirujuk ke rumah sakit.

Ketua Seksi Kesehatan PB Porprov, Elhamangto Zuhdan, mengatakan kasus yang dirujuk didominasi cedera akibat benturan fisik (body contact) terjadi pada atlet selama pelaksanaan ajang olahraga terbesar se-Jateng tersebut. Sebanyak 121 atlet atau sekitar 77 persen dari total kasus itu bahkan harus dirujuk ke rumah sakit.

"Yang dirujuk banyak pada kasus-kasus seperti di Kota Salatiga ada patah tulang hidung, kemudian pendarahan di bagian muka karena memang itu body contact,” kata Elhamangto Zuhdan, Jumat (30/10).

Kasus-kasus itu semula ditangani di posko kesehatan sebelum atlet dibawa ke rumah sakit. Di tengah catatan cedera tersebut, satu kasus yang menyita perhatian yaitu meninggalnya atlet pencak silat kontingen Kota Semarang, Ayudiah Rivana Tridiandinita (19). Namun, hingga kini, tim medis PB Porprov belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematiannya.

Berdasarkan catatan rekam medis Rumah Sakit Primaya Semarang, Ayudiah semula mengalami dislokasi atau pergeseran jari tangan dan telah menjalani operasi. Setelah operasi, kondisi fisiknya dilaporkan stabil dan tidak menunjukkan indikasi medis yang mengkhawatirkan.

"Jadi masih belum diketahui, karena dari catatan pasien belum bisa mengarahkan ke mana pun. Sebetulnya kalau upaya penyelidikan kami serahkan ke pihak yang berwajib. Karena pada kasus-kasus yang sudah mengalami kematian memang berbeda penanganannya,” ujar dia.

Dalam standar medis olahraga, setiap tanda yang mengancam keselamatan jiwa (life-threatening) harus segera direspons oleh dokter pertandingan dan tim medis dengan tindakan penyelamatan darurat.

"Kalau menurut kedokteran, bila ada tanda-tanda kegawatdaruratan yang mengancam jiwa, tentu harus segera dilakukan tindakan penyelamatan. Kami tim medis melaksanakan tugas setelah diberikan sinyal oleh teman-teman dokter pertandingan,” pungkasnya.

Rekomendasi