Kronologi Rumah Ambruk Timpa Satu Keluarga di Way Kanan

Hujan disertai angin kencang membuat dapur rumah roboh dan menimpa tiga orang. Berikut kronologinya.

Ardi Munthe
Oleh Ardi Munthe- Reporter
Kronologi Rumah Ambruk Timpa Satu Keluarga di Way Kanan
Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan sejumlah bangunan di Kabupaten Way Kanan, Lampung, ambruk dan 5 warga mengalami luka-luka. (Liputan6.com/Istimewa)

Hujan deras disertai angin kencang merusak sejumlah bangunan di Kabupaten Way Kanan, Lampung, pada Jumat, 30 Oktober 2026. Salah satu insiden terjadi di Kampung Negeri Batin, Kecamatan Umpu Semenguk, ketika bagian dapur rumah milik Sugeng roboh saat keluarga berada di dalamnya.

Sugeng, istrinya Sri Larasati, dan seorang balita berusia 1 tahun bernama Revano tertimpa reruntuhan bangunan. Ketiganya mengalami luka dan mendapat penanganan medis.

Kepala BPBD Way Kanan, Sufrianto, menyebut pihaknya segera menerjunkan tim ke lokasi setelah menerima laporan.

"Memang ditemukan kondisi dapur korban roboh akibat hujan dan angin. Kondisi bangunan dapur memang sudah lapuk," kata Kepala BPBD Way Kanan Sufrianto kepada Liputan6.com, Sabtu (31/10).

BPBD menyampaikan seluruh korban mengalami luka ringan. Sugeng mengalami lecet di kepala dan bahu, Sri Larasati luka lecet di kepala, sementara Revano mengalami luka lecet di kepala dan wajah.

"Untuk korban sendiri sudah dilakukan penanganan secara medis. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pemerintah kampung dan kecamatan untuk memfasilitasi pengobatan lanjutan karena keluarga tersebut tidak memiliki BPJS," jelas Sufrianto.

Kapolres Way Kanan, AKBP Ramadhona, menjelaskan peristiwa rumah roboh itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB.

"Berdasarkan keterangan saksi, Sari Safitriani yang berada di dalam kamar mendengar suara keras dari arah dapur rumah korban," ujar AKBP Ramadhona.

Ia menambahkan, saksi kemudian memeriksa ke arah dapur.

"Saksi kemudian bergegas menyelamatkan Sugeng dari tumpukan puing bangunan. Sementara Sri Larasati berusaha melepaskan diri dari reruntuhan atap untuk menyelamatkan Revano," tutur AKBP Ramadhona.

"Akibat kejadian tersebut, ketiga korban hanya mengalami luka ringan," lanjutnya.

Selain menimbulkan korban luka, bagian dapur rumah dilaporkan hancur tertimpa genteng dan kayu, serta sejumlah perabotan dapur mengalami kerusakan.

Dampak Lainnya

Sufrianto menyebut rumah Sugeng bukan satu-satunya bangunan yang terdampak cuaca ekstrem di Way Kanan.

Pada hari yang sama sekitar pukul 19.00 WIB, pohon petai tumbang dan menimpa bagian dapur rumah milik Samin di Dusun 4 Tahmi Renik, Kampung Lebak Peniangan, Kecamatan Rebang Tangkas.

Insiden itu mengakibatkan dua orang luka ringan, yakni Sarwah (70) yang mengalami luka lecet di dahi dan Tedi (18) yang mengalami memar pada betis kaki kanan. Keduanya dalam kondisi sadar setelah kejadian.

Laporan kerusakan juga datang dari Kampung Jaya Tinggi, Kecamatan Kasui. Hujan deras disertai angin kencang merusak atap bangunan kandang milik koperasi desa di wilayah tersebut.

"Dari laporan yang kami terima, total ada dua rumah dan satu kandang yang terdampak akibat hujan deras dan angin kencang kemarin," jelas Sufrianto.

Menurut hasil pemeriksaan lapangan, dapur rumah Sugeng dinilai tidak layak. Tiang penyangga dan bagian atap telah lapuk sehingga rentan ambruk saat diterjang angin.

"Ketika ada angin, walaupun tidak terlalu kuat, bangunan tersebut langsung roboh. Kondisi bangunannya memang sudah tidak layak," ungkap Sufrianto.

BPBD meminta pemerintah kampung menyusun laporan tertulis sebagai persyaratan pengajuan bantuan rehabilitasi untuk dapur rumah terdampak.

Imbauan BPBD

Memasuki peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan, BPBD Way Kanan mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.

Warga diminta rutin memantau informasi prakiraan cuaca dari BMKG. Bagi yang memiliki pohon besar atau lapuk di sekitar rumah, dianjurkan melakukan pemangkasan atau penanganan untuk mencegah pohon tumbang.

BPBD juga mengimbau masyarakat menghindari aktivitas di luar rumah saat hujan deras disertai angin kencang maupun petir. Warga yang beraktivitas di sekitar sungai perlu berhati-hati karena curah hujan tinggi berpotensi memicu banjir mendadak.

"Kalau terjadi keadaan darurat, segera menghubungi BPBD atau pihak-pihak terkait," imbau Sufrianto.

Rekomendasi