Potret Perjuangan Pencari Kerja, Ribuan Lamaran Tak Berbalas

Ratusan lamaran pekerjaan belum membawa Lissette Ramos kembali bekerja. Di tengah tabungan yang menipis, dia harus menghadapi ketatnya persaingan pasar kerja Amerika Serikat.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani- Reporter
Potret Perjuangan Pencari Kerja, Ribuan Lamaran Tak Berbalas
Ilustrasi seseorang bekerja di depan laptop dengan smartphone dalam mode senyap, menggambarkan cara mengurangi mental fatigue dengan membatasi notifikasi dan waktu layar. (foto:unsplash)

Di apartemennya di Arlington, Virginia, Amerika Serikat (AS), pagi Lissette Ramos tak lagi dimulai dengan bersiap berangkat ke kantor. Perempuan berusia 31 tahun itu justru mengawali harinya dengan memeriksa berbagai situs lowongan pekerjaan.

Dua kucing asuh bernama Charlotte dan Sweet menjadi teman yang menemaninya menjalani hari. Setelah mengurus kedua kucing tersebut, Ramos kembali duduk di depan meja untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan pengalamannya.

Selama empat hingga delapan jam sehari, dia menelusuri LinkedIn, Indeed, hingga HiringCafe. Satu per satu lowongan diperiksa. CV pun disesuaikan agar sesuai dengan kualifikasi yang diminta perusahaan.

Namun, rutinitas itu telah berlangsung selama setahun tanpa hasil yang diharapkan.

Ramos masih belum mendapatkan pekerjaan tetap setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan pembiayaan hipotek Freddie Mac. Ratusan lamaran yang dikirimkan belum berhasil membawanya kembali ke dunia kerja.

Dikutip dari USA Today, dalam laporan Jessica Guynn yang terbit pada 25 Oktober 2026, Ramos menghadapi situasi sulit di pasar kerja. Dia dianggap terlalu berkualifikasi untuk pekerjaan tingkat pemula, tetapi belum berhasil mendapatkan posisi junior maupun menengah.

Padahal, Ramos telah menempuh pendidikan tinggi dan memperoleh gelar di bidang ilmu informasi dari University of Michigan pada 2023. Kepindahannya ke Virginia untuk bekerja di Freddie Mac sebelumnya menjadi langkah penting dalam perjalanan kariernya.

Kini, kehidupan sehari-harinya berubah. Setelah mengurus kucing pada pagi hari, dia menghabiskan waktu mencari lowongan. Menjelang sore, Ramos memberi makan kucing-kucingnya, berjalan kaki untuk memenuhi target 10.000 langkah, kemudian kembali ke rumah untuk berolahraga sebelum beristirahat.

"Saya sudah mencari pekerjaan sejak hari saya diberhentikan," kata Ramos kepada USA Today.

Di balik rutinitas tersebut, ada persoalan lain yang terus membayangi, yakni kondisi keuangan. Uang pesangon yang hanya mencakup enam minggu dan tabungannya telah habis digunakan untuk bertahan hidup.

Ramos bahkan mulai menggunakan sebagian dana pensiun dan mengandalkan kartu kredit untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Meski memenuhi syarat mendapatkan bantuan pangan pemerintah dan sempat memperoleh pekerjaan sebagai guru pengganti, penghasilan tersebut belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhannya.

"Secara finansial, saya benar-benar sedang tidak stabil saat ini. Saya hanya berharap bisa mengetahui apa yang harus saya lakukan," ujarnya.

Ribuan Lamaran, Hanya Sedikit Kesempatan

Kisah Ramos bukan satu-satunya potret sulitnya mencari pekerjaan di Amerika Serikat. Di tengah persaingan yang semakin ketat, sejumlah pekerja harus menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mendapatkan pekerjaan baru.

USA Today melaporkan, kondisi pasar kerja AS dipengaruhi tingginya suku bunga dan ketidakpastian ekonomi. Situasi tersebut membuat perusahaan menahan rencana ekspansi dan memperlambat perekrutan karyawan.

Berdasarkan data platform perekrutan Greenhouse yang disampaikan kepada USA Today, rata-rata waktu perusahaan untuk mengisi posisi kosong meningkat dari 41,4 hari pada 2022 menjadi 61,5 hari selama delapan bulan pertama 2026.

Sementara itu, rata-rata durasi pengangguran di Amerika Serikat telah melampaui lima bulan. Lebih dari 27 persen pencari kerja bahkan menghabiskan waktu setidaknya 27 minggu tanpa mendapatkan pekerjaan.

Persaingan tersebut juga membuat proses perekrutan semakin melelahkan. Pelamar harus melewati berbagai tahapan wawancara, tetapi tidak jarang berakhir tanpa kabar dari perusahaan.

Profesor Kebijakan Publik Rutgers University, Carl Van Horn, mengatakan banyak pencari kerja mengirimkan ratusan CV tanpa mendapatkan tanggapan dari perekrut.

Menurut Van Horn, penggunaan kata kunci tertentu dalam CV dapat menentukan apakah lamaran seseorang berhasil melewati sistem penyaringan awal.

Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses rekrutmen turut menjadi tantangan. Sistem tersebut dapat membantu perusahaan menyaring banyak lamaran, tetapi berpotensi membuat CV kandidat tersisih sebelum dibaca langsung oleh manusia.

2.000 Lamaran, Hanya 10 Kali Dipanggil Wawancara

Tekanan akibat sulitnya mencari pekerjaan juga dirasakan Jennifer Smith, perempuan berusia 47 tahun dari Tampa, Florida.

Sebelum kehilangan pekerjaan, Smith telah menghabiskan 26 tahun bekerja di sebuah perusahaan jasa keuangan. Pengalamannya dalam memimpin proyek manajemen dan pengembangan produk tidak membuatnya mudah mendapatkan pekerjaan baru.

Pada September 2024, Smith terkena PHK. Pada periode yang sama, dia juga menerima diagnosis kanker yang membuat kebutuhan biaya pengobatan semakin mendesak.

Dikutip dari USA Today, Smith telah mengirimkan sekitar 2.000 lamaran pekerjaan. Namun, dari ribuan lamaran tersebut, dia hanya mendapatkan 10 panggilan wawancara.

Bahkan, beberapa proses wawancara yang telah dilalui hingga lima tahap tetap tidak menghasilkan tawaran pekerjaan.

Kondisi tersebut membuat Smith harus mengambil keputusan sulit. Untuk mempertahankan asuransi kesehatan dan membiayai pengobatan, dia menggunakan kartu kredit untuk membayar premi serta biaya perawatan medis.

Ketika tabungan dan dana pensiunnya habis, Smith mulai kehilangan kemampuan untuk membayar kebutuhan kesehatannya. Dia bahkan harus menunda janji temu medis, pemeriksaan lanjutan kanker, hingga kunjungan ke dokter spesialis.

Dalam situasi tersebut, Smith akhirnya menjual rumah keluarganya untuk mempertahankan sisa kestabilan keuangan.

"Saya membutuhkan pekerjaan untuk menyelamatkan hidup saya, secara harfiah," kata Smith kepada USA Today.

Kehilangan Pekerjaan Bukan Sekadar Kehilangan Penghasilan

Di balik banyaknya lamaran yang tidak berbalas, kehilangan pekerjaan ternyata membawa persoalan yang lebih luas daripada sekadar berkurangnya pendapatan.

Profesor Manajemen University of Nevada, Reno, Frances McKee-Ryan, menjelaskan kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba dapat menjadi pukulan besar bagi seseorang.

Selain kehilangan penghasilan dan tunjangan, pekerja juga kehilangan rutinitas, hubungan sosial, serta identitas profesional yang selama ini melekat pada pekerjaan mereka.

Penolakan berulang kali juga dapat mengikis rasa percaya diri. Profesor Manajemen Georgia State University, Songqi Liu, menyebut kecemasan dan keputusasaan tidak selalu membuat seseorang semakin giat mencari pekerjaan. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut justru dapat membuat pencari kerja menghindari proses lamaran.

Bagi Ramos dan Smith, mendapatkan pekerjaan bukan lagi sekadar persoalan membangun karier. Ada kebutuhan sehari-hari dan keberlangsungan hidup yang ikut dipertaruhkan.

Setahun setelah kehilangan pekerjaan, Ramos masih berusaha menemukan kesempatan baru. Sementara Smith harus menghadapi konsekuensi finansial dan kesehatan setelah berulang kali gagal mendapatkan pekerjaan.

Keduanya memperlihatkan sisi lain dari pasar kerja Amerika Serikat. Di balik angka pengangguran dan statistik lowongan kerja, ada orang-orang yang harus menghabiskan hari demi hari untuk mencari kesempatan kembali bekerja.

Rekomendasi