Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.000 per USD, Ini Faktor Pemicunya

Rupiah melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS pada Jumat (16/10/2026), dipengaruhi penguatan dolar seiring kenaikan inflasi AS.

Agustina Melani
Oleh Agustina Melani- Reporter
Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.000 per USD, Ini Faktor Pemicunya
Teller menghitung mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih tertekan pada Jumat pagi (16/10/2026) setelah menembus level Rp18.000 per dolar AS.

Berdasarkan data Google yang dipantau pukul 08.45 WIB, posisi dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 18.000. Data Google menunjukkan sebelumnya dolar sempat menyentuh posisi 18.088 pada 5 Juni 2026; angka itu merupakan level terendah rupiah pada 2026.

Pada penutupan perdagangan Kamis (15/10/2026), rupiah melemah 35 poin atau 0,20 persen ke level 17.938 per dolar AS, setelah pada perdagangan sebelumnya berada di posisi 17.903 per dolar AS.

Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang tercatat 17.948 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya 17.898 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi upaya stabilisasi Bank Indonesia (BI) dan perkembangan fundamental ekonomi nasional.

"Penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan, meningkat dari 1,1 persen pada Juli, sementara penjualan eceran September diprakirakan tumbuh 1,4 persen," ucapnya mengutip Antara.

Inflasi AS Tekan Rupiah

Meski konsumsi domestik menunjukkan ketahanan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika arus modal asing dan kebutuhan valuta asing. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran dolar AS di pasar domestik.

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah datang dari penguatan dolar AS setelah inflasi Amerika Serikat meningkat. Inflasi AS pada September 2026 tercatat 3,7 persen secara tahunan, naik dibandingkan 3,4 persen pada Agustus.

Kenaikan inflasi memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga, yang berimplikasi pada meningkatnya daya tarik aset berdenominasi dolar AS.

"Kondisi ini berpotensi mendorong aliran modal menuju aset berdenominasi dolar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," ungkap Amru.

Rekomendasi