Auditorium Istana Wapres Ditawarkan Gibran untuk Latihan Komunitas Tari Anak Disabilitas

Wapres Gibran menawarkan auditorium Istana Wakil Presiden sebagai tempat latihan bagi Komunitas Aku Menari, wadah tari untuk anak penyandang disabilitas.

Luqman Rimadi
Oleh Luqman Rimadi- Reporter
Auditorium Istana Wapres Ditawarkan Gibran untuk Latihan Komunitas Tari Anak Disabilitas
Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka menerima anak-anak penyandang disabilitas DI Istana Wapres, Jakarta. (Dok: Setwapres)

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menawarkan penggunaan auditorium di lingkungan Istana Wakil Presiden sebagai tempat latihan bagi Komunitas Aku Menari saat menerima audiensi komunitas itu di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Founder Komunitas Aku Menari, Tati Dwi Indarti, menyampaikan bahwa komunitasnya selama ini masih menyewa dan berpindah-pindah tempat untuk berlatih.

Menanggapi kondisi itu, Gibran menyodorkan fasilitas Istana agar bisa dimanfaatkan komunitas. "Silakan dilanjutkan persiapannya. Kami akan mendukung, atau mau pakai tempat kami (auditorium) di belakang," ujar Gibran.

Komunitas Aku Menari adalah wadah bagi anak-anak penyandang disabilitas dengan beragam kondisi; mayoritas anggotanya anak dengan down syndrome. Komunitas ini berencana menggelar pertunjukan khusus di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dan dukungan fasilitas diharapkan memberi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri sekaligus mengembangkan minat, bakat, dan kepercayaan diri melalui seni tari. Usai audiensi, Gibran mengajak para penari berkeliling Istana Wakil Presiden.

Memberi Ruang Bagi Anak Penyandang Disabilitas

Pegiat isu disabilitas Angkie Yudistia mengapresiasi langkah Gibran yang membuka ruang bagi anak-anak penyandang disabilitas di lingkungan Istana Wakil Presiden.

Menurut Angkie, langkah tersebut membawa pesan bahwa ruang negara terbuka bagi seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali.

"Saya melihat langkah Mas Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai sebuah pesan kepemimpinan yang memiliki makna mendalam. Karena sesungguhnya, Istana bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga simbol harapan bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali," kata Angkie.

Dia menilai kesempatan bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk hadir dan menunjukkan potensi di ruang kenegaraan merupakan bentuk pengakuan terhadap kedudukan mereka yang setara sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

"Ketika anak-anak penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan untuk hadir dan menunjukkan potensinya di ruang kenegaraan, kita sedang membangun sebuah pesan bahwa setiap anak Indonesia memiliki tempat yang setara dalam perjalanan bangsa ini," ujarnya.

Angkie juga menyoroti pentingnya kehadiran pemimpin secara langsung dalam memberikan dukungan kepada anak-anak penyandang disabilitas. Menurut dia, perhatian tersebut dapat berdampak pada kepercayaan diri mereka.

"Terlebih bagi anak-anak penyandang disabilitas, kehadiran seorang pemimpin dapat memberikan pesan yang sangat kuat: bahwa mereka terlihat, didengar, dihargai, dan diakui keberadaannya," katanya.

Dia berharap keterbukaan ruang bagi komunitas disabilitas dapat diperluas ke berbagai daerah dan mengingatkan bahwa inklusi perlu disertai kesempatan nyata untuk berkembang.

"Keberhasilan inklusi bukan diukur dari seberapa sering penyandang disabilitas diundang ke ruang-ruang penting, tetapi dari seberapa besar kesempatan yang benar-benar terbuka bagi mereka setelahnya," pungkas Angkie.

Rekomendasi