Di tengah riuhnya pameran LEI Business Show 2026 atau edisi ke-27 dan Café & Brasserie Expo Indonesia (CBE) edisi ke-9 di NICE PIK 2, Tangerang, pada Jumat (9/10), terdapat satu booth kedai kopi menyedot perhatian pengunjung. Bukan sekadar menyajikan seduhan kopi nikmat, kedai ini digerakkan langsung para barista berkebutuhan khusus.
Treestori, sebuah usaha sosial berkomitmen menjadi ruang aman sekaligus wadah kesetaraan bagi individu dengan disabilitas intelektual, termasuk autisme, teman tuli, hingga Down syndrome.
Advertisement
Berawal dari Kepedulian Sang Kakak
Inisiatif hadirnya Treestori Coffee ini bermula dari kepedulian Anna, salah satu pendiri yang memiliki adik penyandang disabilitas bernama Jojo. Berangkat dari minimnya kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas di sektor formal, Anna tergerak hatinya untuk membuka pelatihan barista mandiri sejak tahun 2021.
"Awalnya dari rasa bingung melihat adik saya, Jojo. Apa yang bisa dibuat supaya dia bisa ikut bekerja? Akhirnya dicobalah bikin pelatihan dulu," ujar Kaila, perwakilan Treestori Coffee saat ditemui di lokasi FLEI Business Show 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, Jumat (9/10).
Hingga saat ini, Treestori telah melatih hampir 70 teman disabilitas, mulai dari individu dengan Down syndrome, tunagrahita, hingga spektrum autisme ringan.
Tak berhenti di kelas pelatihan dasar, lulusannya disalurkan untuk bekerja langsung di beberapa cabang kedai dan tempat mitra, seperti di kawasan Mangga Dua, Taman Alfa Indah, hingga Jatinegara.
Advertisement
Kisah Barista
Hingga saat ini, Treestori telah melatih hampir 70 teman disabilitas, mulai dari individu dengan Down syndrome, tunagrahita, hingga spektrum autisme ringan.
Tak berhenti di kelas pelatihan dasar, lulusannya disalurkan untuk bekerja langsung di beberapa cabang kedai dan tempat mitra, seperti di kawasan Mangga Dua, Taman Alfa Indah, hingga Jatinegara.
Ketelitian dan semangat para barista ini terlihat jelas saat mereka melayani pembeli di pameran. Jojo, sang barista senior, kini sudah sangat lihai mengoperasikan mesin espresso dan meracik kopi susu.
Sementara barista lainnya, Yona, memiliki keahlian spesifik dalam meracik minuman non-coffee. Sambil tersenyum, Yona menceritakan minuman favorit buatannya.
“Kalau saya sukanya matcha sama cokelat, kalau kopi kurang suka,” tutur Yona.
Lewat aksi nyata ini, Treestori ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya secara profesional.
"Kami ingin membuka ruang kelas dan kesempatan kerja yang setara. Anak-anak dengan kondisi disabilitas ini terbukti mampu dan bisa bekerja profesional seperti kita semua," pungkas Kaila.