Nilai pasar iklan luar ruang di Indonesia mencapai sekitar USD 330 juta atau setara Rp5,91 triliun, tetapi pemanfaatan periklanan programatik pada layar digital masih sangat rendah. Pelaku industri menilai perlu ada peningkatan pengukuran audiens dan tata kelola data agar efektivitas iklan dapat dibuktikan.
Temuan dan pembahasan itu muncul dalam Strategic Forum INDOOH 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Perusahaan Media Luar-Griya Indonesia (AMLI) pada Jumat (9/10/2026) di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Acara ini didukung Krista Exhibitions sebagai bagian dari Indo Sign, LED & Advertising Expo 2026 dan AllPrint Indonesia.
Ketua Umum DPP AMLI, Fabianus Bernadi menekankan perubahan model bisnis industri luar-griya serta perlunya standar pengukuran dan ekosistem yang kuat untuk meningkatkan daya saing regional.
"Perubahan industri luar-griya bukan sekadar transisi dari papan statis ke layar digital, melainkan pergeseran mendasar dari sekadar selling location menjadi selling audience & experience. Kita harus membangun standar pengukuran dan ekosistem industri bersama agar OOH Indonesia menjadi pemain utama di kawasan regional," tegas Fabianus Bernadi, dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).
Advertisement
Pasar Iklan: Nilai Rp5,91 Triliun dan Adopsi Programmatic Masih Rendah
Managing Director Indonesia di Billups sekaligus Vice Chairman AMLI dan Ambassador World Out of Home Organization (WOO), Agung Prihambodo, memaparkan ukuran pasar OOH Indonesia yang mencapai USD 330 juta atau sekitar Rp5,91 triliun. Ia menyebut penetrasi layar digital di industri mendekati 40 persen, namun adopsi programmatic Digital Out-of-Home (pDOOH) masih di bawah 1 persen.
"Indonesia memiliki pasar OOH yang sangat potensial dengan penetrasi digital mendekati 40%, namun pDOOH kita masih di bawah 1 persen. Kita telah memiliki infrastruktur layar digital yang masif, kini saatnya membangun infrastruktur programmatic dan common measurement language agar daya saing industri kita sejajar dengan standar global," ujar Agung Prihambodo.
CEO KLY sekaligus Chairman Indonesia Digital Association (IDA), Dian Gemiano, menyoroti bahwa masalah yang ada bukan ketersediaan layar, melainkan bukti efektivitas yang terukur melalui data audiens.
"Indonesia tidak memiliki masalah dengan jumlah layar digital, kita memiliki proof problem. Layar pintar tidak bernilai jika kita tidak bisa membuktikan efektivitas dan audiensnya. Kolaborasi IDA dan AMLI hadir untuk membangun tiga hal utama: laporan industri terverifikasi, standar pengukuran bersama, dan kerangka transaksi pDOOH," ungkap Dian Gemiano.
Para peserta forum sepakat bahwa pengembangan standar pengukuran serta transparansi data menjadi kebutuhan utama agar pengiklan dapat menilai kinerja kampanye secara lebih akurat.
Advertisement
AMLI dan IDA Teken MoU, Peluang DOOH Di Luar Jakarta
AMLI dan IDA menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat pengembangan industri periklanan nasional. Ruang lingkup kerja sama meliputi riset, penyusunan standar pengukuran lintas media, integrasi programmatic DOOH, serta program edukasi sumber daya manusia.
Forum menampilkan diskusi panel bersama praktisi industri, antara lain CEO Playlog Bong Stevian, Founder Prisma Freddy Lauw, dan Marketing Director MKCI Bandung Jhon Gunadi, yang membahas potensi pasar OOH di luar Jakarta dan kebutuhan transparansi pengukuran.
Dalam paparan forum disebutkan bahwa lebih dari 90 persen wilayah di luar Jakarta memiliki penetrasi DOOH di bawah 5 persen, sehingga membuka peluang pengembangan media iklan digital di berbagai daerah.
Sebagai bentuk apresiasi, AMLI menyerahkan piagam penghargaan kepada Co-founder, Owner, sekaligus CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, atas dukungan terhadap penyelenggaraan forum dan partisipasi AMLI dalam pameran AllPrint Indonesia serta Indo Sign Expo 2026. Ketua Umum AMLI Fabianus Bernadi menyampaikan terima kasih kepada Krista Exhibitions dan menyebut kemitraan itu sebagai landasan rencana kerja sama jangka panjang.