Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan memicu kabut asap yang mengganggu aktivitas warga Samarinda. Kondisi itu membuat banyak orang membatasi kegiatan di luar rumah serta menimbulkan kekhawatiran terkait kesehatan anak-anak, sementara lingkungan kerja dan ketersediaan air bersih juga terdampak.
Hiero (35), warga Samarinda, mengatakan kabut asap membuatnya lebih waspada saat beraktivitas sehari-hari.
"Kabut asap yang menurunkan kualitas udara sangat mengganggu aktivitas harian saya. Saya semakin waspada dan membatasi aktivitas di luar rumah," kata Hiero saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (13/10/2026).
Warga itu berharap Pemerintah Kota Samarinda dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meningkatkan upaya pemadaman agar kabut asap tidak terus mengganggu kehidupan warga.
Dalam kekhawatiran yang sama, Hiero menyebut peranannya sebagai orang tua mendorong kewaspadaan lebih besar.
"Saya harus lebih ekstra mengawasi kesehatan anak saya yang masih berusia 3 tahun akibat paparan asap karhutla," ujarnya.
Rosa (32), warga Samarinda yang bekerja di sektor jual beli alat berat, menyampaikan kabut asap juga berdampak pada lingkungan kerja tempatnya beraktivitas.
"Kabut asap ini tentu memengaruhi standar K3 di lingkungan kerja saya," kata Rosa.
Selain kabut asap, warga di Samarinda menghadapi persoalan lain terkait air bersih karena kondisi Sungai Mahakam.
"Selain kondisi kabut asap yang semakin tebal, warga Samarinda juga dihadapkan dengan sulitnya memperoleh air bersih," ujarnya.