Keluhan Warga Kalimantan: Sejauh Mata Memandang Asap Kebakaran Hutan

Asap kebakaran hutan di Kalimantan menurunkan jarak pandang di Balikpapan, menyebabkan batuk berkepanjangan dan mengganggu penerbangan serta sekolah di Tarakan.

Immanuel Christian
Oleh Immanuel Christian - Reporter
Keluhan Warga Kalimantan: Sejauh Mata Memandang Asap Kebakaran Hutan
Pada 10 Agustus 2019 pagi, seluruh personil sejumlah 9.072 orang di 6 provinsi (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantar Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan) da masyarakat berupaya memadamkan api kebakaran hutan. (Dok Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan, termasuk Balikpapan di Kalimantan Timur dan Tarakan di Kalimantan Utara. Warga mengeluhkan jarak pandang yang menurun, batuk berkepanjangan, serta gangguan pada penerbangan dan layanan kapal.

Paul (34), warga Balikpapan, mengatakan asap menutupi kota hingga kawasan pantai dan menurunkan jarak pandang, termasuk di sekitar jalan tol Balikpapan-Samarinda. “Di pantai jarak pandang kacau, bukan hujan, ya ini asap,” kata Paul kepada Liputan6.com, Selasa (13/10/2026). Ia menunjukkan foto selimut asap sebagai bukti kondisi tersebut.

Menurut Paul, mobil dan sepeda motor masih bisa dipakai untuk beraktivitas di darat, namun gangguan lebih terasa pada perjalanan udara dan kapal yang hendak bersandar karena jarak pandang terbatas. Paul juga menyampaikan gangguan kesehatan yang dialaminya, namun tidak menyertakan hasil pengukuran kualitas udara sebagai pelengkap pengamatan tersebut.

“Batuk yang enggak selesai-selesai. Soalnya obat dari dokter percuma, enggak ngefek. Asapnya masih tebal,” ujarnya.

Sekolah Di Tarakan Beralih Ke Pembelajaran Dari Rumah

Dampak asap juga dirasakan warga Tarakan. Desy (28) mengatakan anak-anak sekolah di lingkungannya harus menjalani pembelajaran dari rumah sejak sehari sebelumnya hingga keesokan harinya.

“Anak sekolah dari kemarin BDR sampai besok,” kata Desy. Ia menambahkan informasi tentang peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang ia ketahui dari lingkungan sekitar.

Desy juga mengalami gangguan pada perjalanan udara. Menurut pengalamannya, pesawat yang ditumpanginya harus berputar-putar sekitar 30 menit sebelum mendarat di Tarakan, dan penerbangan dari daerah itu dapat mengalami keterlambatan hingga tiga jam.

“Pas mau sampai Tarakan, pesawat 30 menit muter-muter dulu di atas,” ujarnya.

Rekomendasi