FOMO Beli Emas Saat Harga Mahal, Lebih Baik Jual atau Bertahan?

Pengamat ekonomi mengingatkan investor tidak panik menjual emas saat harga turun, terutama jika pembelian dilakukan menggunakan dana dingin.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
FOMO Beli Emas Saat Harga Mahal, Lebih Baik Jual atau Bertahan?
Karyawan melayani calon pembeli emas di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Rabu (14/5/2025). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Harga emas yang bergerak turun setelah dibeli di level tinggi atau mahal dapat membuat investor, khususnya masyarakat pemula panik. Pilihan untuk menjual ketika harga sedang turun pun kerap muncul demi menghindari kerugian yang semakin besar.

Namun, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyarankan masyarakat tidak terburu-buru menjual emas hanya karena harganya sedang mengalami koreksi.

Menurutnya, keputusan untuk menahan emas perlu melihat terlebih dahulu sumber dana yang digunakan saat membeli. Jika emas dibeli menggunakan dana dingin atau uang yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, masyarakat memiliki ruang untuk menunggu hingga kondisi pasar kembali membaik.

"Pada saat masyarakat sudah membeli logam mulia atau emas perhiasan dalam harga tinggi, yaudah diamin saja," kata Ibrahim kepada Merdeka.com, Rabu (16/9/2026).

Jangan Gunakan Dana Kebutuhan Pokok

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)
Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Ibrahim menilai persoalan justru muncul ketika masyarakat membeli emas menggunakan uang yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari. Misalnya, uang untuk membayar kuliah, membeli kebutuhan pokok, menjalankan usaha, atau memenuhi kebutuhan operasional justru digunakan untuk membeli emas karena tergiur kenaikan harga.

Ketika harga kemudian turun, pemilik emas tidak memiliki banyak pilihan selain menjualnya karena membutuhkan uang tersebut.

"Nah permasalahan tadi lagi-lagi saya katakan bahwa uang yang mereka investasikan di logam mulia atau emas perhiasan apakah pakai uang dingin atau uang panas," ujarnya.

Menurut Ibrahim, penggunaan dana panas membuat masyarakat lebih rentan mengambil keputusan berdasarkan kondisi harga jangka pendek. Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membeli emas menggunakan dana pinjaman, baik dari bank maupun kartu kredit.

"Jangan menggunakan uang-uang itu karena investasi di logam mulia itu adalah mendapatkannya hanya dari fluktuasi harga, tidak ada bunga," katanya.

Emas Bukan untuk Keuntungan Instan

Antam meluncurkan desain kemasan emas Antam LM batangan baru.
Antam meluncurkan desain kemasan emas Antam LM batangan baru.

Ibrahim menilai masyarakat juga perlu memahami bahwa investasi emas membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Menurutnya, emas lebih tepat ditempatkan sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang. Karena itu, investor tidak seharusnya menjadikan pergerakan harga harian sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan.

"Investasi di logam mulia itu jangka menengah jangka panjang, membutuhkan waktu yang cukup lama," katanya.

Dia menambahkan, investor yang melihat harga emas turun setelah membeli di level tinggi tidak harus langsung melakukan aksi jual selama kebutuhan dana tidak mendesak. Sebaliknya, apabila dana yang digunakan merupakan uang untuk kebutuhan sehari-hari, investor perlu lebih berhati-hati sejak awal sebelum membeli emas.

Dengan demikian, bagi masyarakat yang sudah terlanjur membeli emas di harga tinggi, hal pertama yang perlu diperhatikan bukan sekadar kapan harga akan kembali naik, melainkan apakah investasi tersebut menggunakan dana yang memang siap ditahan dalam jangka menengah hingga panjang.

Rekomendasi