Pangkas Waktu Jakarta-Banten, Tol Kataraja Seksi 1 Tuntas 14 Oktober 2026

Perusahaan optimistis mampu menuntaskan seluruh proses pengerjaan sesuai target batas waktu pada 14 Oktober 2026.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Pangkas Waktu Jakarta-Banten, Tol Kataraja Seksi 1 Tuntas 14 Oktober 2026
<p>Pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan Paket 3 (Istimewa)</p>

PT PP (Persero) Tbk (PTPP) mengumumkan perkembangan signifikan pada proyek pembangunan Jalan Tol Kataraja Seksi 1 yang kini telah mencapai 94,9 persen. Dengan menyisakan pekerjaan sebesar 5,08 persen, BUMN konstruksi ini optimistis mampu menuntaskan seluruh proses pengerjaan sesuai target batas waktu pada 14 Oktober 2026.

Proyek strategis ini dirancang untuk memperkuat konektivitas wilayah Jakarta dan Banten, terutama menghubungkan ruas Jalan Tol Prof. Dr. Sedyatmo di Jakarta Utara menuju kawasan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo, menyampaikan bahwa selesainya uji pembebanan pada Jembatan Ramp 1 JC Sedyatmo menjadi wujud nyata komitmen perusahaan dalam menjaga kualitas, keselamatan, serta keandalan hasil konstruksi.

"Kami optimistis proyek ini dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan konektivitas dan mobilitas masyarakat, sekaligus mendukung aktivitas logistik dan pengembangan kawasan di wilayah Tangerang dan sekitarnya,” ujar Joko dikutip dari Antara, Selasa (8/9).

Fungsional Sejak 2025 dan Berpredikat Bintang 5

 

Joko menerangkan bahwa ruas tol ini sebenarnya telah beroperasi secara fungsional sejak 9 Oktober 2025, khusus melayani arus lalu lintas dari arah PIK 2 menuju Jakarta serta dari Bandara Soekarno-Hatta menuju PIK 2. Kualitas jalurnya pun teruji setelah mengantongi predikat Bintang 5 berdasarkan Uji Laik Fungsi bersama Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, dan Korlantas Polri.

Di balik capaian tersebut, PTPP menerapkan berbagai inovasi rekayasa engineering. Salah satunya melalui peninjauan ulang desain (review design) pada jembatan box girder balanced cantilever yang membentang di atas Sungai Kamal.

Melalui optimalisasi jumlah segmen dari 12 menjadi 7 segmen per traveller, proses pengangkatan struktur (erection) berhasil dipangkas hingga selesai satu bulan lebih cepat dari tenggat awal.

Tak hanya itu, pada Jembatan JC Sedyatmo yang memiliki bentang lebih dari 100 meter dan radius melengkung terkecil sekitar 88 meter, perseroan memasang Sistem Monitoring Kesehatan Struktur yang dibekali lebih dari 100 sensor. Teknologi ini difungsikan untuk memantau kondisi fisik bangunan secara intensif sejak masa konstruksi hingga tahap operasional nanti.

Tantangan Lahan Terbatas dan Hasil Uji Beban

 

Proses pengerjaan proyek ini bukan tanpa hambatan. Joko mengungkapkan salah satu tantangan paling berat berada di area pengerjaan Junction Sedyatmo yang melayang persis di atas ruas Tol Sedyatmo sebagai akses utama menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Kondisi ruang kerja yang sangat terbatas menuntut perencanaan matang serta eksekusi presisi dengan memprioritaskan prinsip Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE).

Sebagai penutup dari tahapan keberterimaan jembatan, Jembatan Ramp 1 JC Sedyatmo telah sukses melewati uji pembebanan pada 27–29 Agustus 2026 bersama Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Keamanan Jembatan dan Terowongan Khusus (BKJTK).

"Pengujian dilakukan secara dinamis dan statis dengan berbagai skema pembebanan sesuai Pedoman Penyelenggaraan Keamanan Jembatan Khusus Nomor 13/P/BM/2025," ujar Joko.

Rekomendasi