Pengunjung Pasang Surut, Nasib Pedagang Tanah Abang Diuji

Lorong Pasar Tanah Abang mulai padat lagi, tapi omzet pedagang ternyata belum pulih sepenuhnya.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
Pengunjung Pasang Surut, Nasib Pedagang Tanah Abang Diuji
Pasar Tanah Abang

Geliat riuh khas Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, perlahan mulai berdetak kembali. Lorong-lorong sempit yang sempat membisu beberapa tahun lalu kini kembali disesaki langkah kaki para pemburu grosir dan eceran. Namun di balik lalu-lalang pengunjung yang memadati lorong, senyum para pedagang rupanya tak merata. Ramainya orang yang lalu-lalang ternyata belum menjadi jaminan bahwa kantong belanjaan ikut terisi penuh.

Kondisi pasang surut ini dirasakan betul oleh Andre, salah satu pedagang jeans di Tanah Abang. Bagi Andre, omzet harian bagai roller coaster yang sangat bergantung pada momen dan untung-untungan jumlah pengunjung.

Saat lorong pasar disesaki pembeli, senyum Andre memekar lantaran dagangannya sanggup membukukan omzet hingga belasan juta rupiah. Sayangnya, begitu suasana lengang, pendapatan harian bisa langsung merosot tajam.

"Kalau rame bisa tembus Rp15 juta sehari. Kalau sepi, dua sampai tiga jutaan," ujar Andre saat berbincang dengan merdeka.com belum lama ini.

Bagi para pedagang lapak fisik seperti Andre, kehadiran pengunjung adalah napas utama. Cuaca buruk hingga faktor keamanan di luar pasar bisa langsung memukul kelangsungan dagang mereka dalam hitungan jam.

"Nggak ada pengunjung datang ke pasar. Kayak demo kemarin, atau hujan gitu," katanya.

Mengingat kembali masa-masa sulit, Andre bercerita bahwa pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara ini sejatinya baru mulai bernapas lega dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Perlahan tapi pasti, aktivitas perdagangan mulai berdenyut membangkitkan asa pasca-terpuruk dihantam pandemi Covid-19.

"Baru dua tahun, tiga tahun ini mulai ramai," ujarnya.

Kendati ritme pasar mulai pulih, Andre tak menampik bahwa wajah Tanah Abang hari ini tak lagi sama seperti masa kejayaannya dulu. Pergeseran tren dan peta belanja masyarakat yang makin gemar bertransaksi secara online menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi para pedagang konvensional.

Di tengah gempuran pasar digital, Andre memilih untuk tetap bertahan pada jalur klasik. Ia enggan merambah ke lapak online dan memilih setia menggantungkan peruntungan pada riuhnya interaksi tatap muka dengan para pembeli yang datang langsung ke lapak dagangannya.

“Marketing kita hanya konsumen pasar,” pungkasnya.

Daya Beli Masih Jadi Tantangan

Warga Padati Pasar Tanah Abang Jakarta
Salah satu pedagang mengatakan bahwa setiap menjelang Lebaran, Pasar Tanah Abang pasti akan dipadati pembeli dari berbagai daerah. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Kondisi serupa juga dirasakan Rafi, pedagang abaya dan gamis. Saat pasar sepi, penjualan hariannya bisa hanya satu hingga tiga potong. "Kalau tiap hari kadang 1 potong, 2 potong, 3 potong," ujar Rafi.

Dalam kondisi sangat sepi, ia becerita bahwa penjualan sekitar dua potong bisa menghasilkan omzet kurang lebih Rp500.000 dalam sehari. Menurut Rafi, daya beli masyarakat setelah pandemi juga belum sepenuhnya kembali.

"Apalagi zaman-zaman sesudah corona ini agak susah. Daya belinya udah agak kurang," katanya.

Meski penjualan tidak selalu ramai, Rafi tetap membuka tokonya setiap hari mulai pukul 07.30 hingga 15.30 WIB. Baginya, kondisi sepi merupakan salah satu risiko dalam menjalankan usaha. "Dibilang rugi itu risiko namanya pedagang," ujarnya.

Rafi telah berjualan di Tanah Abang selama sekitar dua tahun. Sebelumnya, ia menjual pakaian anak secara grosir di Blok B. Kini, toko di Central Tanah Abang lebih banyak melayani pembelian satuan. Pembelinya pun beragam, mulai dari ibu-ibu yang berbelanja untuk kebutuhan pribadi hingga kelompok pengajian, arisan, dan acara keluarga.

"Rata-rata biasanya ibu-ibu yang beli, ibu-ibu pengajian, atau ibu-ibu yang acara khusus keluarga," kata Rafi.

Ramadan Jadi Momentum Dongkrak Penjualan

Pasar Tanah Abang
Pasar Tanah Abang

Di tengah penjualan yang belum merata, Ramadan dan Lebaran menjadi salah satu momentum yang paling ditunggu pedagang. Pada periode tersebut, permintaan pakaian meningkat sehingga omzet bisa jauh lebih tinggi dibandingkan hari biasa.

Rafi mengatakan omzet tokonya selama Ramadan bisa mencapai lebih dari Rp5 juta dalam sehari. Pembelian juga tidak jarang dilakukan dalam jumlah lebih banyak untuk kebutuhan keluarga. "Kalau untuk puasa biasanya di atas Rp5 juta ke atas," ujarnya.

Dengan biaya sewa toko yang disebut mencapai sekitar Rp100 juta per tahun, Rafi mengandalkan periode ramai untuk menutup biaya operasional selama masa sepi.

"Biasanya kalau dihitung setahun biasanya nutup sih. Kalau di musim sepi kayak gini emang agak susah, tapi kalau di musim rame biasanya ketutup," katanya.

Pembelian Satuan Mendominasi

Pedagang Baju Koko Pasar Tanah Abang
Pedagang Baju Koko Pasar Tanah Abang

Sementara itu, pedagang baju koko, Elsa, melihat pola pembelian yang berbeda antara hari biasa dan menjelang Ramadan. Pada hari-hari biasa, pembeli lebih banyak membeli secara satuan, sedangkan permintaan grosir meningkat menjelang Ramadan. :Seringnya satuan. Kalau grosiran, belum puasa," ujar Elsa.

Pembeli Elsa juga tidak hanya berasal dari Jakarta. Pelanggannya datang dari berbagai daerah, termasuk Sulawesi. Bahkan, ada pembeli asal Malaysia yang sempat berbelanja langsung di Tanah Abang. Setelah kembali ke negaranya, pelanggan tersebut meminta nomor WhatsApp Elsa agar bisa kembali memesan tanpa perlu datang langsung ke Tanah Abang.

"Sulawesi ada. Malaysia juga ada," katanya.

Menurut Elsa, Ramadan menjadi salah satu periode dengan aktivitas perdagangan paling tinggi. Kondisi tersebut berbeda dengan hari biasa yang penjualannya lebih bergantung pada jumlah pengunjung.

"Rame banget itu waktu Ramadan menjelang lebaran sampai nggak bisa duduk istirahat sebentar,” ujarnya saat ditanya mengenai kondisi penjualan pada Ramadan.

Pengalaman tiga pedagang tersebut menunjukkan bahwa kembalinya keramaian di Tanah Abang belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penjualan setiap toko. Ada pedagang yang bisa meraih omzet belasan juta rupiah ketika pasar ramai, sementara pada hari sepi penjualan dapat turun hingga hanya beberapa potong.

Momentum Ramadan dan Lebaran pun menjadi periode penting bagi pedagang untuk meningkatkan penjualan sekaligus menutup biaya sewa toko yang tetap berjalan selama pasar sepi. Karena itu, keberlanjutan arus pengunjung menjadi salah satu harapan agar geliat perdagangan Tanah Abang tidak hanya terasa pada musim-musim tertentu.

Rekomendasi