Lebih dari 17 juta barel minyak diangkut melalui Selat Hormuz menggunakan kapal pada Senin. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari.
Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright menyatakan bahwa volume ekspor minyak dari kawasan tersebut pada Senin bahkan lebih tinggi dibandingkan sebelum perang jika aliran minyak melalui jaringan pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang menghindari Selat Hormuz turut diperhitungkan.
Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari melewati selat strategis tersebut. Wright menambahkan bahwa Iran mulai kehilangan kemampuannya untuk menjadikan perekonomian dunia sebagai alat tekanan karena militer AS membantu kapal tanker melintasi Selat Hormuz.
"Iran menyebabkan beberapa gangguan, tetapi mereka kehilangan kartu tersebut," kata Wright dikutip dari CNBC, Kamis (3/9).
Ia berbicara kepada Brian Sullivan dari CNBC di Venezuela, lima hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan minyak besar dengan pemerintahan sementara di Caracas.
Advertisement
AS Kawal Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz
Pemerintah AS menyebut memiliki data ekspor minyak melalui Selat Hormuz yang lebih tinggi dibandingkan laporan perusahaan pelacak kapal independen. Wright mengatakan militer AS dan Departemen Energi memiliki data terbaik karena perusahaan swasta kerap tidak mendeteksi pelayaran secara rahasia.
Harga minyak mentah AS turun sekitar 1% pada Rabu. Namun, kontrak berjangka sempat berada di sekitar US$ 90 per barel ketika AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer.
Militer AS telah membentuk koridor pelayaran di sepanjang pesisir Oman yang digunakan kapal tanker dari negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk untuk melewati Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut kerap berlayar pada malam hari dengan transponder dimatikan untuk mengurangi risiko serangan.
"Dengan atau tanpa Iran, minyak dan gas akan mengalir keluar dari kawasan Teluk Arab dan itu sedang terjadi," kata Wright.
Iran berulang kali menyerang kapal tanker yang menggunakan jalur tersebut dan meminta kapal komersial melewati koridor utara melalui perairannya. Sedikitnya dua kapal tanker telah diserang di Selat Hormuz pekan ini, berdasarkan laporan insiden dari United Kingdom Maritime Trade Operations Centre.