Indonesia memiliki cadangan nikel dan kobalt bernilai sekitar US$ 800 miliar atau kira-kira Rp 15.000 triliun. Angka ini dipandang sebagai modal penting untuk memperkuat hilirisasi dan mengembangkan industri pengolahan mineral di dalam negeri.
Nilai tersebut disampaikan Tim Ahli Pertambangan dan Mineral Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Nataneil Adhynegara Horansil. Menurutnya, estimasi berasal dari cadangan nikel sekitar 52 juta ton dan kobalt 1,2 juta ton.
Perhitungan mengacu pada harga pasar terkini di London Metal Exchange (LME), dengan porsi terbesar berasal dari nikel. Informasi ini disampaikan Nataneil, dikutip dari Antara, Kamis (27/8/2026).
Advertisement
US$ 800 Miliar: Cara Perhitungan Nilai Cadangan
Nataneil merinci bahwa valuasi cadangan dihitung berdasarkan harga komoditas saat ini. Untuk nikel, porsi nilainya dominan, sedangkan kobalt melengkapi total estimasi.
"Ini kalau kita estimasi nilainya dengan nilai pasar LME saat ini, itu valuasinya untuk cadangan, itu untuk nikel sekitar US$ 700 miliar, kalau kobalt sekitar US$ 50-an miliar," kata Nataneil Adhynegara Horansil, dikutip dari Antara, Kamis (27/8/2026).
Ia menambahkan, akumulasi kedua komoditas mencapai sekitar US$ 800 miliar. "Jadi di sini bisa dilihat untuk total nikel dan kobalt itu sekitar US$ 800 miliar," katanya lagi.
Advertisement
Beda Cadangan dan Sumber Daya: Yang Sudah Bisa Dimonetisasi
Nataneil menegaskan, angka US$ 800 miliar tidak merepresentasikan seluruh potensi mineral Indonesia. Nilai itu adalah estimasi atas cadangan yang saat ini dapat dimonetisasi, mengikuti kondisi harga pasar.
Adapun sumber daya mineral masih berupa potensi yang belum seluruhnya dapat ditambang secara ekonomis. Pemanfaatannya bergantung pada faktor pasar, keekonomian tambang, hingga aspek lingkungan.
"Kalau kita mau berbicara tentang minable, yang sudah bisa di-value, dimonetisasi, itu kita lihatnya nilai cadangannya saja," katanya.
Advertisement
Hilirisasi Nikel: Dari NPI ke Baterai dan Kendaraan Listrik
Besarnya cadangan nikel dan kobalt dinilai membuka peluang manfaat ekonomi yang luas bila dikelola optimal melalui hilirisasi. Nataneil mendorong agar pengembangan rantai nilai tidak berhenti pada produk antara.
"Bayangkan itu seberapa banyaknya ya manfaat yang bisa kita dapatkan dari sumber daya ini. 800 miliar dolar (AS) kalau kita convert ke rupiah mungkin sekitar Rp 15.000 triliun," ujarnya lagi.
Indonesia saat ini telah mampu memproduksi produk antara seperti nickel pig iron (NPI). Ke depan, penguatan rantai nilai ditargetkan berlanjut hingga produksi baterai dan kendaraan listrik. Kapasitas smelter nikel nasional disebut mencapai sekitar 1,8 juta ton, dengan sebagian besar fasilitas berada di kawasan industri di Sulawesi.
Advertisement
Lonjakan Ekspor dan Arus FDI Sektor Logam Dasar
Dampak hilirisasi tercermin pada kinerja perdagangan. Nilai ekspor produk nikel Indonesia meningkat sekitar 12 kali lipat sejak 2014, dari sekitar US$ 3 miliar per tahun menjadi US$ 37 miliar pada tahun lalu.
Selain ekspor, investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) di sektor logam dasar (base metal) juga menguat. Sepanjang 2015–2025, FDI di sektor tersebut tercatat lebih dari US$ 71 miliar.
Perkembangan itu menunjukkan terbentuknya kapasitas industri baru dan meningkatnya nilai ekonomi dari komoditas mineral. Ke depan, tantangannya adalah memastikan pengembangan industri nikel dan kobalt tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan ekspor, tetapi juga menghasilkan produk dengan nilai tambah yang semakin tinggi.