Kabut Asap Kepung Malaysia, 30 Wilayah Masuk Zona Tak Sehat

Kualitas udara di 30 wilayah Malaysia tercatat tidak sehat akibat kabut asap dari kebakaran di Indonesia. Ini dampak dari 287 titik panas terdeteksi.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Kabut Asap Kepung Malaysia, 30 Wilayah Masuk Zona Tak Sehat
Pemandangan saat kabut asap pekat menyelimuti Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (13/9/2019). Kabut asap menyelimuti semua negara bagian di Malaysia, kecuali Perlis. (AP Photo/Vincent Thian)

Malaysia kembali menghadapi masalah kabut asap yang mengganggu kualitas udara. Pada Selasa, 25 Agustus 2026, tercatat 30 wilayah di negara tersebut mengalami kondisi udara yang tidak sehat, yang dihubungkan dengan kebakaran hutan di negara tetangga, Indonesia.

Departemen Lingkungan Hidup Malaysia, di bawah Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan, mengungkapkan dalam pernyataan yang diposting di Facebook pada Selasa siang bahwa sebanyak 29 wilayah mencatat Indeks Polutan Udara (API) dalam kategori tidak sehat hingga pukul 14.00.

Menurut laporan yang dikutip dari Channel News Asia, angka API tertinggi tercatat di stasiun pemantauan Markas Kepolisian Distrik Serian, Sarawak, dengan angka mencapai 182. Selanjutnya, Johan Setia di Selangor mencatat angka 173, dan Sri Aman di Sarawak dengan angka 170.

Dalam skala API Malaysia, angka 0–50 dianggap baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan angka di atas 300 dikategorikan berbahaya. Beberapa wilayah lainnya juga menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat, seperti Shah Alam dengan angka 162 dan Kuching yang mencapai 160.

Di Perak, Tanjung Malim dan Taiping masing-masing mencatat API 157 dan 155. Sementara itu, stasiun pemantauan di Kuala Lumpur mencatat angka 154. Di Johor, Segamat, Batu Pahat, dan Tangkak masing-masing mencatat API 152. Selain itu, sebanyak 38 stasiun pemantauan lainnya melaporkan kualitas udara dalam kategori sedang.

Sebelumnya, media lokal melaporkan bahwa terdapat 32 wilayah yang mencatat kualitas udara tidak sehat. Departemen Lingkungan Hidup Malaysia menjelaskan bahwa peningkatan jumlah wilayah dengan kualitas udara tidak sehat di sepanjang pantai barat Semenanjung Malaysia serta sejumlah wilayah di Sarawak disebabkan oleh “pergerakan kabut asap dari berbagai arah.”

Departemen tersebut mengutip temuan dari ASEAN Specialised Meteorological Centre yang berbasis di Singapura, yang pada Senin mendeteksi 287 titik panas di Kalimantan dan 65 titik panas di Sumatra. Di Malaysia sendiri, terdapat 11 titik panas yang terdeteksi, dengan delapan di Sarawak, dua di Johor, dan satu di Selangor.

Selain itu, Departemen Lingkungan Hidup Malaysia juga menyebutkan bahwa kabut asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga pekat terpantau di Kalimantan Barat dan bergerak ke arah utara menuju wilayah barat Sarawak. Kepulan asap dengan intensitas yang sama juga terpantau di sejumlah wilayah lain di Kalimantan serta Sumatra bagian tengah dan selatan.

Rekomendasi