Haiti Mencekam, Serangan Geng Tewaskan 47 Orang dan 50 Warga Diculik

Serangan geng di Kenscoff, Haiti, menewaskan 47 orang dan menculik lebih dari 50 lainnya, memicu kekhawatiran akan keamanan di negara tersebut.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Haiti Mencekam, Serangan Geng Tewaskan 47 Orang dan 50 Warga Diculik
Seorang anggota polisi nasional mengontrol keamanan di sebuah jalan di Port-au-Prince, Haiti, Sabtu (21/1/2023). Geng yang kuat dan bersenjata lengkap menguasai sebagian besar negara dan kerap kali menculik orang dan menahan mereka untuk tebusan. (AP Photo/Megan Janetsky)

Sedikitnya 47 orang tewas dan lebih dari 50 lainnya diculik setelah kelompok bersenjata menyerang Kenscoff, kawasan yang sebelumnya dikenal relatif damai di dekat ibu kota Haiti, Port-au-Prince, pada awal pekan ini. Hal ini disampaikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (25/8).

Serangan yang terjadi pada Minggu (23/8) tersebut diperkirakan menjadi salah satu kasus penculikan massal terbesar di Haiti dalam beberapa tahun terakhir. Seorang pemimpin geng bahkan mengancam akan membunuh seluruh sandera jika aparat menewaskan anggota kelompoknya saat berusaha mengamankan kembali Kenscoff, kawasan perbukitan di atas Port-au-Prince.

"Ini merupakan ujian besar, baik secara politik maupun keamanan, bagi pemerintah, kepolisian, dan misi internasional," kata Romain Le Cour, kepala Haiti Observatory di Global Initiative Against Transnational Organized Crime (GI-TOC), organisasi yang meneliti kejahatan terorganisasi lintas negara, seperti dilaporkan Associated Press.

Ancaman Geng dan Dampaknya

Menurut Le Cour, ancaman untuk mengeksekusi para sandera menempatkan aparat dalam posisi serba sulit. Jika tidak bertindak, mereka dianggap gagal melindungi para sandera. Namun, jika operasi dilakukan dan para sandera tewas, geng akan menyalahkan pemerintah.

Marc Paul, warga Kenscoff berusia 42 tahun, mengatakan geng menculik saudara laki-laki, ibu tiri, ayah tiri, serta dua sepupunya. Keponakannya yang berusia 16 tahun juga diculik dan diperkosa, tetapi berhasil melarikan diri dan kembali berkumpul dengannya. "Saya harus berlari melewati mayat-mayat," tutur Paul saat menceritakan bagaimana ia menyelamatkan diri dari serangan tersebut. "Saya tidak bisa tidur karena terus memikirkan semua orang yang tewas."

Video Ancaman dan Taktik Geng

Dalam video yang diunggah ke media sosial, seorang pemimpin geng mengancam Direktur Kepolisian Nasional Haiti Vladimir Paraison. "Paraison, jika salah satu anggota kami terluka, saya akan membunuh mereka semua," ujarnya, merujuk pada para sandera.

Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Izo 2, nama yang merujuk pada Izo atau Johnson Andre, salah satu pemimpin geng paling berpengaruh di Haiti. Le Cour mengatakan Izo 2 dikenal pula sebagai "Didi". Ia memimpin kelompok bersenjata di Kenscoff atas nama Izo serta berkoordinasi dengan Izo dan pemimpin geng lainnya.

Kenson Paul, keponakan Marc Paul yang berusia 17 tahun, mengatakan ia berhasil melarikan diri dari para penyerang. "Mereka belum menghubungi kami untuk memberi tahu apa yang mereka inginkan," katanya mengenai geng tersebut. "Saya khawatir dengan keselamatan keluarga saya."

Strategi Geng dan Tantangan Keamanan

Menurut Le Cour, salah satu tujuan serangan pada Minggu kemungkinan adalah memaksa kepolisian Haiti dan pasukan pemberantas geng yang didukung PBB untuk semakin membagi personel dan sumber daya mereka yang sudah terbatas. "Mereka tidak punya cukup personel," terang Le Cour dalam wawancara melalui telepon. "Jika mereka dipaksa mengerahkan lebih banyak pasukan ke sana, kekuatan di wilayah lain pasti akan berkurang."

Serangan itu juga bisa menjadi unjuk kekuatan sekaligus pesan kepada pemerintah dan kepolisian Haiti menjelang pemilihan umum pada 13 Desember, pemilu pertama di negara tersebut dalam lebih dari satu dekade. "Ini adalah pesan kepada pemerintah dan polisi bahwa klaim mereka soal perlindungan tidak sesuai dengan kenyataan," ungkap Le Cour. "Geng-geng itu ingin mengatakan: ketika kami memilih untuk menyerang, kami bisa melakukannya dan kami akan berhasil."

Kekerasan Geng yang Meningkat

Serangan besar pertama terhadap Kenscoff terjadi pada Januari 2025. Sejak saat itu, serangan sporadis terus terjadi di kawasan pegunungan yang mengelilingi pusat kota. Namun, serangan pada Minggu menjadi yang terbesar sejauh ini. Menurut Kantor Terpadu PBB di Haiti atau BINUH, sedikitnya lima dari 47 korban tewas merupakan anak-anak.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam serangan tersebut pada Selasa. Ia mengatakan 22 korban dilaporkan dieksekusi di kompleks gereja tempat mereka mencari perlindungan. "Serangan geng yang terus-menerus terhadap masyarakat dan jatuhnya korban jiwa menunjukkan betapa mengkhawatirkannya situasi keamanan di Haiti," ujarnya.

Wali Kota Kenscoff Jean Massillon mengatakan kepada Associated Press pada Selasa bahwa geng membakar 25 rumah dan membunuh dua pegawai pemerintah. Salah satu korban adalah sepupunya yang bertugas dalam tim pengamanannya. "Kekejaman dalam kejahatan ini mengingatkan kita bahwa kita harus bekerja lebih keras setiap hari untuk membawa perdamaian bagi masyarakat," sebut Massillon. "Saya optimistis negara akan terus berupaya memberantas geng di Kenscoff."

Panggilan untuk Perlindungan yang Lebih Baik

Menurut Maria Fernanda Arocha, peneliti dari organisasi nirlaba Armed Conflict Location & Event Data, geng mengincar Kenscoff karena wilayah itu memungkinkan mereka mengepung dan menguasai kawasan elite Petion-Ville, sekaligus mengendalikan jalur alternatif yang menghubungkan ibu kota Haiti dengan wilayah selatan negara tersebut.

Arocha mengatakan operasi keamanan dari Januari hingga Agustus tahun ini sempat mengurangi kekerasan di Kenscoff sebesar 66 persen sebelum serangan terbaru terjadi. "Ketika pasukan keamanan memusatkan operasi untuk merebut kembali kendali di kawasan pusat Port-au-Prince, kelompok-kelompok kriminal justru berusaha memperluas wilayah ke kawasan pedesaan yang rentan karena kemampuan polisi untuk merespons sangat terbatas, tetapi tetap memiliki posisi strategis," jelasnya.

Sejumlah penyintas menuding pemerintah tidak memberikan perlindungan yang memadai sebelum serangan terjadi. Kepolisian Nasional Haiti membantah tuduhan tersebut. Le Cour mengatakan, jika benar polisi dan kendaraan lapis baja sudah ditempatkan di Kenscoff sebelum serangan, kondisi itu justru menimbulkan pertanyaan serius. "Apakah geng dibiarkan masuk meski seluruh pengamanan sudah tersedia?" katanya.

Kepolisian Nasional Haiti dalam pernyataan pada Selasa mengatakan Paraison telah memerintahkan penyelidikan untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi, termasuk apakah serangan itu terjadi karena adanya keterlibatan pihak tertentu atau kelalaian. Ia memerintahkan pengerahan unit-unit khusus tambahan ke wilayah tersebut. "Melindungi warga sipil adalah sebuah kewajiban," tegasnya.

Kelompok-kelompok bersenjata diperkirakan menguasai sekitar 70 persen wilayah Port-au-Prince serta sejumlah kawasan di Haiti bagian tengah dan daerah lainnya. Kekerasan geng telah membuat sekitar 1,5 juta orang mengungsi di seluruh Haiti, angka tertinggi yang pernah tercatat. Berdasarkan data PBB yang dirilis Selasa, lebih dari 3.050 orang dilaporkan tewas sepanjang Januari hingga Juni.

PBB mencatat hampir 800 kasus pemerkosaan dilaporkan sepanjang April hingga Juni. Sebanyak 87 persen di antaranya merupakan pemerkosaan yang dilakukan secara berkelompok. Sedikitnya 81 orang dilaporkan diculik dalam periode yang sama. "Angka-angka ini hanya mencerminkan sebagian dari jumlah keseluruhan orang yang diculik," demikian isi laporan PBB. "Dalam banyak kasus, keluarga korban tidak melaporkan penculikan kepada polisi atau lembaga penyedia layanan dan memilih bernegosiasi langsung dengan penculik. Mereka menilai cara itu dapat mempercepat pembebasan sekaligus menghindari kemungkinan tindakan balasan."

Jumlah penculikan yang dilaporkan sepanjang April hingga Juni meningkat lebih dari 40 persen dibandingkan tiga bulan sebelumnya.

Rekomendasi