Menantang Api di Lahan Gambut Banjarbaru

Sejak pagi hingga petang, para petugas bergantian memantau sekaligus memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan yang berada di ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Menantang Api di Lahan Gambut Banjarbaru
Petugas gabungan padamkan api di kawasan ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor. (Antara).

Terik matahari belum beranjak dari langit ketika 18 personel gabungan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mulai bersiaga di kawasan Tega Arum, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Di sekitar mereka, asap mengepul dari lahan yang terbakar.

Sejak pagi hingga petang, para petugas bergantian memantau sekaligus memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan yang berada di ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor itu. Tugas mereka berlangsung tanpa henti dengan sistem pergantian personel setiap tiga hari.

Di tengah lokasi kebakaran, sebuah tenda darurat menjadi tempat berteduh dan beristirahat sejenak. Namun, waktu untuk benar-benar melepas lelah sangat terbatas. Bara api masih mengintai di balik permukaan tanah gambut.

“Panasnya terasa, asap juga. Tapi kita harus tetap memantau lokasi,” kata Putro, personel Kemenhut, saat ditemui di lokasi karhutla, Selasa (25/8), demikian dikutip Antara.

Bagi petugas, memadamkan api di lahan gambut bukan perkara sederhana. Permukaan tanah yang terlihat kokoh bisa menyimpan bahaya. Di bawahnya, gambut yang terbakar dapat membentuk rongga dan membuat tanah menjadi lunak.

“Salah menginjakkan kaki, bisa-bisa kita tenggelam jika kontur tanah lunak hingga amblas saat diinjak,” ujar Putro.

Karena itu, setiap langkah harus diperhitungkan. Petugas tidak hanya berhadapan dengan kobaran api, tetapi juga medan yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan mereka.

Petugas gabungan padamkan api di kawasan ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor. (Antara).
Petugas gabungan padamkan api di kawasan ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor. (Antara).

Asap dan Sumber Air yang Menipis

Tantangan lain datang dari asap tebal. Agus, petugas yang turut berjibaku di lokasi, mengaku sesak napas dan mata perih menjadi hal yang harus dihadapi ketika asap mulai mengepul di sekitar mereka.

“Jika sudah terasa tidak enak, biasanya langsung kita cuci muka mencegah iritasi,” kata Putro.

Kondisi semakin sulit ketika sumber air mulai mengering. Padahal, air menjadi kebutuhan utama untuk memadamkan api sekaligus membasahi kembali lahan gambut agar bara tidak kembali menyala.

Di tengah keterbatasan itu, petugas Kemenhut tidak bekerja sendirian. Mereka bergandengan tangan dengan berbagai unsur gabungan serta relawan pemadam kebakaran masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci agar api dapat dikendalikan dan proses pemadaman tetap berjalan.

Hari demi hari, mereka terus berada di garis depan. Terik, asap, medan berbahaya, hingga sumber air yang menipis tidak menyurutkan langkah.

Di balik perjuangan tersebut, ada satu harapan sederhana yang terus mereka tunggu yaitu hujan.

“Kita sih berharap Yang Maha Kuasa bisa menurunkan hujan segera. Insya Allah bencana karhutla ini berakhir lebih cepat,” ujar Agus.

Sambil menunggu langit menurunkan air, para petugas tetap berjaga. Sebab di lahan gambut, api yang terlihat padam belum tentu benar-benar mati.

Rekomendasi