Tinggalkan Ukuran Sukses Lama, Gen Z Punya Cara Pandang Baru Soal Uang

Gen Z punya pandangan berbeda soal uang. Faktor ekonomi hingga kecemasan buat mereka ubah prioritas dan ukuran kesuksesan hidup.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
Tinggalkan Ukuran Sukses Lama, Gen Z Punya Cara Pandang Baru Soal Uang
Lifestyle creep terjadi ketika pengeluaran perlahan meningkat seiring bertambahnya penghasilan hingga membuat tabungan sulit berkembang. (Foto/Dok: Magnific)

Cara pandang Gen Z terhadap uang terbilang berbeda dari generasi sebelumnya. Bagi anak muda saat ini, keputusan finansial tidak sekadar urusan menabung, mengatur anggaran, atau memotong pengeluaran. Faktor kondisi ekonomi seperti tingginya biaya tempat tinggal dan ketidakpastian pekerjaan turut membentuk pola pikir mereka.

Di luar faktor ekonomi, rasa cemas, pengalaman keluarga, serta hubungan emosional dengan uang ikut memengaruhi cara Gen Z dalam memandang kekayaan. Dikutip dari Reuters, Sabtu (22/8), terapis keuangan Matt Lundquist membeberkan alasan di balik sikap kritis Gen Z terhadap isu keuangan dan ukuran kesuksesan hidup.

Lundquist menjelaskan bahwa terapi keuangan tidak hanya mengajarkan cara mengelola uang. Lebih dari itu, pendekatan ini membantu seseorang memahami hubungan emosional, kebutuhan, hingga rasa cemas yang memengaruhi pilihan karier dan kehidupan pribadi.

Terapi keuangan memberikan ruang untuk memahami nilai-nilai pribadi dan melihat bagaimana kondisi finansial dapat mendukung kehidupan yang bermakna. Lewat proses ini, seseorang diajak mengingat kembali kebiasaan finansial keluarga di masa lalu. Dengan menyadari pola lama tersebut, individu dapat mengambil keputusan finansial yang lebih baik saat dewasa.

Menunda Pencapaian Tradisional

Pemahaman finansial yang baru ini membuat banyak anak muda menunda berbagai pencapaian hidup konvensional, seperti membeli rumah, menikah, hingga memiliki anak. Bahkan, sebagian anak muda berusia akhir 20-an hingga awal 30-an memutuskan untuk tidak ingin memiliki anak sama sekali.

Keputusan tersebut didasari oleh perubahan cara pandang terhadap biaya dan tanggung jawab membesarkan anak. Pandangan ini juga dipengaruhi oleh pengalaman pandemi Covid-19, ketika banyak perempuan yang bekerja dari rumah harus mengurus anak sekaligus.

Pengalaman tersebut memperlihatkan secara langsung besarnya beban pengasuhan, sehingga memicu anak muda untuk menata ulang prioritas hidup mereka.

Keseimbangan antara Finansial dan Kebahagiaan

Gen Z kini mulai mengkritik pola pikir work is everything atau anggapan bahwa keberhasilan hidup hanya diukur dari pekerjaan dan kekayaan materi. Lundquist mengingatkan bahwa uang dan pekerjaan sangat mudah menyita perhatian, padahal ada prioritas lain yang sangat penting, seperti kebahagiaan, hubungan sosial, dan kehidupan pribadi.

Memiliki hubungan yang sehat dengan uang bukan berarti menganggap uang tidak penting. Kuncinya adalah memahami peran uang dalam kehidupan agar dorongan mencari penghasilan tidak mengalahkan prioritas lainnya. 

Bagi anak muda yang merasa kewalahan dalam mengambil keputusan finansial, Lundquist menyarankan untuk tidak menganggap pengelolaan uang sebagai hal yang rumit. Ia mendorong Gen Z untuk mempelajari finansial secara bertahap. Sebab, pengetahuan yang cukup dapat mengurangi rasa cemas dan membantu seseorang mengambil keputusan yang tepat tanpa mengorbankan kebahagiaan.

Rekomendasi