Bagi Cinta, seorang Generasi Z (Gen Z) asal Surabaya, menjejakkan kaki di Jakarta bukan sekadar urusan berburu peluang kerja. Langkah ini adalah keputusan besar untuk keluar dari zona nyaman, belajar hidup mandiri, serta mengambil keputusan finansialnya sendiri tanpa bergantung pada orang tua.
Namun, baru sekitar seminggu memulai petualangannya di ibu kota, Cinta langsung dihadapkan pada kejutan budaya (culture shock) yang tak terduga. Bukan soal transportasi atau ritme hidup, melainkan urusan perut.
"Kalau di Surabaya itu memang makanannya ada yang mahal, tapi masih banyak makanan yang harganya murah. Sedangkan di Jakarta kebanyakan harganya mahal semua," ujar Cinta pada Kamis (20/8/2026).
Pengalaman Cinta seolah memvalidasi gambaran besarnya biaya hidup anak muda di ibu kota. Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat, rata-rata pengeluaran Gen Z di Jakarta mencapai Rp 11.969.830 per bulan sepanjang tahun 2025.
Meski dihadapkan pada tingginya harga makanan, Cinta punya perhitungan sendiri. Sebagai perantau baru, ia memperkirakan kebutuhan hidupnya berada di kisaran Rp5,55 juta per bulan.
Angka tersebut sudah merangkum seluruh kebutuhan dasarnya:
- Sewa Kost: Rp1,7 juta per bulan (dipilih dengan fasilitas cukup lengkap agar kebutuhan harian lebih praktis).
- Pos Pengeluaran Lain: Makan, produk skincare, transportasi umum, hingga anggaran nongkrong.
Di tengah gempuran kebutuhan itu, Cinta tak lupa membentengi finansialnya. Ia secara konsisten menyisihkan sekitar Rp1 juta setiap bulan khusus untuk dana darurat. Baginya, komitmen ini krusial karena hidup jauh dari keluarga menuntutnya untuk bertanggung jawab penuh secara finansial.
Advertisement
Biaya Transportasi hingga Siasat Menghadapi FOMO
Menariknya, adaptasi Cinta di jalanan Jakarta tergolong sangat mulus. Untuk menunjang aktivitas harian, ia mengandalkan transportasi umum sekaligus belajar memahami rute perjalanan ibu kota. Meski baru seminggu menetap, ia mengaku belum pernah sekalipun tersesat atau salah naik kendaraan umum.
Tantangan terberat justru datang dari dalam diri sendiri. Cinta mengaku cukup Fear of Missing Out (FOMO) terhadap dinamika gaya hidup di Jakarta. Ketika rasa stres melanda, ia biasanya memilih untuk jalan-jalan dan berbelanja di mall. Sementara untuk urusan olahraga, ia belum mengalokasikan anggaran khusus karena masih memprioritaskan kebutuhan lain.
Advertisement
Belajar Mandiri dari Hal-Hal Kecil
Perubahan ritme hidup ini perlahan membentuk kepribadian Cinta menjadi lebih hemat dan dewasa. Ia mulai terbiasa mengurus hal-hal sederhana yang dulunya kerap dibantu keluarga, mulai dari bangun tidur, memasak, mencuci pakaian sendiri, hingga memilah mana kebutuhan dan mana sekadar keinginan.
Perasaan rindu kampung halaman pun tak membuat langkahnya goyah. Cinta tak merasa merindukan hal spesifik dari Surabaya, dan hanya berniat pulang pada momen-momen besar seperti Tahun Baru atau Hari Raya Idul Fitri.
Pada akhirnya, merantau ke Jakarta memberi arti baru tentang kemandirian bagi Cinta. Di balik bayang-bayang biaya hidup ibu kota dan beragam godaan gaya hidupnya. Ia belajar satu hal penting, menjadi mandiri berarti mampu mengendalikan uang, waktu, serta keputusan hidupnya sendiri.